Sabtu, 27 Desember 2014

Kisah para wali yang unik untuk digali

Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikan mu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati.” (Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang jati, Naskah Mertasinga, Wahjoe: Pustaka, 2005

Beberapa kisah menuturkan bahwa peyebaran agama islam yang disampaikan oleh para wali kepada masyarakat punya cara dan dinamika sendiri. Mulai dakwahnya dengan cara yang unik untuk memancing keingintahuan masyarakat agar sudi untuk berangkat dan mendengarkan dakwah para wali. Napak Tilas bicara soal penyebaran Islam di Pulau Jawa, tentu tak afdal jika tak menyebut Wali Songo. Sembilan orang pilihan itu tetap berpengaruh meski telah tiada.

Para wali punya kisah unik dan menarik untuk digali

Kisah para wali yang unik untuk digali
Kisah para wali di Pulau Jawa para pendakwah Islam berjuluk Wali Songo ini tak pernah sepi pengunjung. Makam Wali Songo itu tersebar di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Satu di Jawa Barat, tiga di Jawa Tengah, dan lima di Jawa Timur. 

Dan saya sendiri  (red: sikunir.info) baru berziarah ke tempat para wali yang berada di Jawa Tengah belum berziarah ke tempat para wali yang berada di Jawa Barat dan Jawa Timur. Masih ada 6 tempat ziarah lagi yang ingin saya kunjungi. Insyaa Allah kalau tempat tersebut sudah saya kunjungi akan saya tulis disini tentang kisah para wali tersebut secara lebih detail lagi.

Berziarah ke makam Wali Songo sudah menjadi salah satu alternatif wisata religi. Bahkan, kini banyak agen wisata menawarkan wisata Wali Songo secara maraton. Anda akan diajak berkeliling Pulau Jawa sekaligus mengunjungi makam Wali Songo. Tapi, kalau Anda tak mau memakai agen wisata, jalan sendiri dengan mobil pribadi pun jadi tak masalah.

Sunan Gunung Jati

Jika Anda dari Jakarta, makam pertama yang dikunjungi sebaiknya adalah makam Sunan Gunung Jati. Lokasinya di Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara, 6 kilometer dari Kota Cirebon. Sunan Gunung Jati, yang bernama asli Syarif Hidayatullah, adalah satu-satunya wali yang memimpin pemerintahan. Dia adalah Sultan Cirebon. Dia menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon hingga ke pedalaman Pasundan. Sunan Gunung Jati kerap membangun infrastruktur untuk menghubungkan antar wilayah.

Kompleks makam Sunan Gunung Jati yang berada di Gunung Sembung memiliki 9 pintu utama yang disebut Lawang Sanga. Namun peziarah hanya boleh masuk hingga pintu ke-4. Pintu ke-5 dan seterusnya hanya boleh dimasuki oleh keturunan Sunan Gunung Jati saja. Itu pun hanya di waktu-waktu tertentu. 

Sunan Kalijaga

Dari Cirebon Utara, Anda bisa beranjak menuju Jawa Tengah untuk “bertemu” dengan makam Sunan Kalijaga. Makam wali ini terletak di pemakaman Desa Ngadilangu, Demak. Dari Masjid Agung Demak, makam dengan ornamen ukiran khas Jepara ini hanya berjarak kira-kira 3 kilometer saja. Jadi, dari makam, Anda bisa mampir ke masjid itu. Konon, sang sunan turut serta dalam perancangan masjid yang menjadi landmark Kota Demak itu. Dia juga ikut merancang Masjid Agung Cirebon. Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali yang berhasil menyebarkan Islam. Sarana dakwah yang dipilih cukup unik, yaitu melalui kesenian dan kebudayaan. Misalnya saja seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk. Tak mengherankan jika pengikut wali yang dikenal senang berpakaian serba hitam ini sangat banyak.

Sunan Kudus

Dari Demak, perjalanan dilanjutkan ke Kota Kudus, Jawa Tengah. Di kota ini terdapat makam Sunan Kudus, yang berada di area Masjid Menara Kudus. Lokasinya di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di area pemakaman ini juga terdapat makam putra Sunan Kudus, yakni Pangeran Palembang. Boleh dibilang, sunan yang bernama kecil Jaffar Shadiq ini adalah “pengikut” Sunan Kalijaga. Cara berdakwah Sunan Kudus dikenal mirip Sunan Kalijaga, namun penyampaiannya lebih halus. Dia dikenal sebagai wali yang toleran dengan budaya setempat. Salah satu bentuk toleransi Sunan Kudus antara lain mengadopsi bentuk candi saat membangun masjid.

Sunan Muria

Makam Sunan Muria adalah makam wali terakhir di Jawa Tengah. Lokasinya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, sekitar 30 kilometer ke arah utara Masjid Menara Kudus. Sunan Muria adalah anak dari pasangan Dewi Saroh binti Maulana Ishak dan Sunan Kalijaga. Tak mengherankan jika gaya berdakwahnya mirip sang ayah. Namun Sunan Muria lebih suka bergaul dengan rakyat dan menetap di daerah terpencil sambil menyebarkan Islam. Dia dikenal sebagai negosiator ulung. Nasihat dan solusi yang diberikan Sunan Muria dikenal sangat ampuh untuk menyelesaikan masalah antardua pihak yang berseteru. Berkunjung ke makam Sunan Muria tak semudah ke makam-makam lainnya. Untuk bisa sampai ke sana, pengunjung wajib menaiki 700 anak tangga. Lumayan, bukan?

Sunan Bonang

Nah, kini Anda akan memasuki makam-makam wali di wilayah Jawa Timur. Daerah pertama yang sebaiknya dituju setelah dari Kudus adalah Kota Tuban. Tepatnya di pemakaman Desa Kutorejo, Kecamatan Tuban, terdapat makam Sunan Bonang yang dikelilingi tembok dengan empat pintu gerbang besar. Makam sang wali berada di sebelah barat alunalun Kota Tuban, di sebelah barat Masjid Agung Tuban. Ada gapura besar berbentuk paduraksa yang klasik sebagai penandanya. Sunan Bonang memiliki nama asli Raden Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel dan Dewi Candrawati atau yang lebih dikenal dengan Nyai Ageng Manila. Pada masanya, Sunan Bonang dikenal sebagai penggubah karya sastra yang ulung. Cara ini pula yang dipakainya untuk menyiarkan agama Islam.

Sunan Drajat

Dari Tuban, silakan bergeser ke Lamongan. Di kota kecil ini terdapat makam Sunan Drajat. Makamnya berada di atas bukit dikelilingi pepohonan yang menghampar luas. Sunan Drajat adalah anak sulung Sunan Ampel. Dia mendapat tugas berdakwah ke pesisir Gresik dari sang ayah. Semasa hidup, sang wali dikenal bersahaja dan suka menolong. Tak mengherankan jika di pondok pesantren yang dibangunnya banyak tinggal anak-anak yatim dan fakir miskin.

Sunan Maulana Malik Ibrahim

Di Kota Gresik, Anda akan menyambangi makam Sunan Maulana Malik Ibrahim, sang wali tertua. Makamnya terletak di Kampung Gapura, Jawa Timur. Arsitektur makam Maulana Malik Ibrahim punya ciri tersendiri. Hal ini dapat Anda cermati dari bahan batu nisan dan gaya tulisan Arab. Bahan batu nisannya terbuat dari marmer dengan gaya Gujarat. Sunan Maulana Malik Ibrahim pernah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Di dalam tugasnya untuk menyebarkan agama Islam, dia juga merangkul masyarakat kasta bawah yang terkesan “disisihkan” dalam Hindu.

Sunan Giri

Perjalanan akan dilanjutkan menuju makam Sunan Giri. Wali bergelar Prabu Satmata ini dimakamkan di sebuah bukit di Dusun Kedhaton, Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Dalam keagamaan, dia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih.

Sunan Ampel

Perjalanan wisata religi Anda diakhiri dengan mengunjungi makam Sunan Ampel, yang terletak di Kampung Ampel di Kota Surabaya. Di depan makam terdapat dua pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makamnya terpisah dari makam lainnya dan diberi pagar terali dari besi setinggi 110 sentimeter. Di dalam kompleks juga terdapat 2 makam murid Sunan Ampel, yakni Mbah Bolong atau Sonhaji dan Mbah Sholeh. Sunan Ampel pernah membangun dan mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula, ia merangkul masyarakat sekitarnya, lalu semakin meluas. Pertengahan abad ke-15, pesantren itu menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. (dikutip dari berbagai sumber).

Berikut ini tampilan foto yang sempat saya abadikan sewaktu saya berziarah ke tempat para wali yang berada di Jawa Tengah. Mulai dari makam wali Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga.

Kisah para wali yang unik untuk digali
Di makam Sunan Kalijaga bersama seorang Kuncen (Demak Kota Wali)


Kisah para wali yang unik untuk digali
Makam Sunan Kudus


Kisah para wali yang unik untuk digali
Makam Sunan Muria


Kisah para wali yang unik untuk digali
Gentong Air Sunan Muria


Kisah para wali yang unik untuk digali
Gentong Air Sunan Kalijaga (Demak Kota Wali)

Selasa, 16 Desember 2014

Wisata gerhana matahari 2016 di Indonesia

Gerhana Matahari total bakal terjadi di Indonesia tepatnya nanti pada tanggal 9 Maret 2016. Memang kejadiannya masih lama lagi yakni masih sekitar 18 bulan lagi. Walaupun masih 1 1/2 tahun lagi, tetapi Indonesia diharapkan mampu menjual wisata fenomena alam ini agar berbenah semenjak dini. Bersiap-siap untuk "menjual" gerhana, menyulap fenomena tersebut menjadi uang dengan menggaet wisatawan ke Tanah Air.

Di Indonesia, gerhana Matahari total 2016 sangat istimewa sekali. Sejumlah wilayah di tanah air, seperti Bengkulu, Palangkaraya, Palu, dan Ternate, menjadi titik terbaik untuk melihat salah satu fenomena alam ini mengamati gerhana matahari tersebut.

Bulan akan berada persis di muka Matahari membuat bintang berjarak 150 juta kilometer dari Bumi. Akibat posisi tersebut, akan tercipta wilayah di Bumi yang benar-benar tak bisa melihat Matahari selama beberapa menit. Wilayah itu dikatakan masuk dalam bayangan inti (umbra). Di sana akan terjadi gerhana Matahari total.

Sementara itu, akan ada wilayah lain pula yang masih akan bisa melihat Matahari tetapi dalam bentuk yang tidak sempurna, cuil. Wilayah itu dinyatakan penumbra. Di sana bakal terjadi gerhana Matahari sebagian.

Secara teoretis, akan ada 13 fenomena gerhana yang terjadi tiap tahun. Namun, karena orbit Bumi, tidak semua gerhana itu bisa dilihat. Hanya dua yang berpotensi untuk diamati. Untuk mengamati dua gerhana itu, tantangannya juga besar. Misalnya terkait lokasi. Wilayah di mana puncak gerhana terjadi berada di tengah lautan sehingga pengamatannya sulit dilakukan.

Wisata gerhana matahari 2016 di Indonesia
Wisata gerhana matahari 2016 di Indonesia 


Kesulitan lain, gerhana kadang terjadi saat fajar atau senja. Ketinggian Matahari yang masih rendah membuat fenomena totalitas gerhana sulit dilihat. Terakhir, tantangannya adalah cuaca yang tak menentu.

Indonesia menjadi tempat istimewa untuk mengamati gerhana tahun 2016 karena, berdasarkan analisis Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), kota-kota Indonesia bisa melihat gerhana Matahari total ketika sang surya sudah berada pada ketinggian cukup.

Wilayah yang paling banyak dilirik untuk pengamatan gerhana 2016 adalah Palu. Data statistik sejak tahun 2007 menunjukkan, tutupan awan di wilayah palu lebih kecil dari Sumatera dan Kalimantan. "Mungkin karena itu Palu banyak diminati," kata Mahasena.

Di samping itu, Palu juga menjadi salah satu wilayah dengan durasi totalitas terlama di dunia, sepanjang 2 menit 50 detik. Wilayah lain adalah laut sebelah timur Palu yang bisa mengalami "menit tanpa Matahari" sepanjang 2 menit 53 detik.

NASA Waktu penampakan gerhana Matahari total di Palu, 9 Maret 2016. Garis biru adalah batas wilayah yang bisa menikmati totalitas gerhana.

Gerhana yang selalu menjadi magnet bagi publik maupun astronom berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sarana meraup devisa dari pariwisata. Di Indonesia, fenomena ini takkan terulang dalam 40 tahun ke depan.

Dalam Seminar Nasional "Discover Indonesia's Solar Eclipse 2016", Selasa (16/12/2014), Pacific Asia Travel Association (PATA), pemerintah daerah Palu, perwakilan hotel, serta perwakilan PT Pelni membahas sejumlah kemungkinan menguangkan fenomena gerhana itu.

Poernomo Siswoprasetijo, CEO PATA Indonesia Chapter, mengungkapkan kemungkinan untuk mengembangkan aktivitas wisata terkait gerhana. "Seperti, pemecahan rekor saat gerhana, jazz route to gerhana, kerja sama dengan travel agent," katanya.

PATA dan sejumlah pemangku kepentingan akan menggodo lagi paket dan aktivitas yang bisa dikembangkan. Menurut Poernomo, fenomena gerhana 2016 adalah ajang untuk memperkenalkan destinasi wisata di daerah. 

Andi Mulhanan, Wakil Wali Kota Palu, menganggap gerhana Matahari 2016 sebagai ajang untuk memperkenalkan destinasi wisata daerah. "Seperti Palu ini daerah yang unik sebenarnya, tetapi belum banyak travel agent yang menjual," ungkapnya.

Menurut Andi, sejumlah paket wisata sebelum dan sesudah gerhana bisa dikembangkan oleh para agen perjalanan. "Banyak sekali obyek wisata yang bisa dikaitkan dengan gerhana," ujarnya.

Ia mencontohnya, paket wisata ke situs megalitikum di Lore Lindu dan menyelam di Teluk Tomini bisa digarap. "Di Teluk Tomini, ada karang-karang berbentuk terompet. Kalau di Raja Ampoat kita hanya bisa melihat, di sini kita bisa masuk," jelasnya.

Bambang Nugraha, Sekretaris Dinas Pariwisata Palu, mengungkapkan, Palu saat ini akan siap-siap untuk menyambut gerhana 2016. Pihaknya akan bekerja sama dengan hotel untuk meningkatkan pelayanan.
"Sudah ada lima hotel besar yang siap menampung. Kita juga akan ajak hotel kelas melati untuk meningkatkan layanannya. Minimal kamar nyaman, aman, dan ada koneksi internet," ungkapnya. 
Saat ini, pada tanggal terjadinya gerhana, sejumlah hotel telah dipesan. Wisatawan dari Jepang telah memesan 55 kamar, Amerika Serikat 260 kamar, dan Inggris 75 - 100 kamar.

Untuk tempat pengamatan gerhana, terdapat wilayah Bumbasa dan sepanjang teluk Kota Palu yang bisa dimanfaatkan. Bambang akan menyiapkan tempat itu agar bisa menampung wisatawan dalam jumlah lebih besar.

Mahasena mengungkapkan, potensi wisata gerhana benar-benar perlu ditangkap. Saat ini, sudah ada beberapa agen perjalanan yang menggarap paket wisata gerhana Matahari total 2016. "Tapi belum ada yang berasal dari Indonesia," katanya.

Salah satu tur digelar dengan Holland America Line's Volendam bersama tim dari majalah Sky & Telecope. Tur dengan durasi waktu dari 1- 17 Maret 2016 itu dibanderol dengan harga antara 1.999 - 9.499 dollar AS.

Minggu, 07 Desember 2014

Pendapatan miliaran rupiah rumah makan sunda

Omset pendapatan rumah makan Sunda bisa mencapai miliaran rupiah per bulan. Rumah makan Sunda ini pasar nya menjangkau jutaan kelas menengah di Indonesia. Diukur dengan cara apa pun, rumah makan di dekat kawasan permukiman elite Puri Indah yang baru dibuka pekan lalu itu sangat besar. 

Lahannya sekitar empat kali lapangan sepak bola. Mobil bisa parkir dengan lega, tak perlu berdesak-desakan, di bawah rindang pohonpohon di sekeliling bangunan. Ada kolam ikan dengan saung-saung mengelilinginya. Rumah makan besar dengan pasar menengah ke atas itu adalah cabang ketiga Talaga Sampireun, jaringan restoran Sunda yang mulai beroperasi empat tahun silam di Bintaro dan kemudian membuka cabang di Ancol.

Karena baru beroperasi, belum terlihat berapa pemasukan rumah makan ini. Tapi pemasukan cabang sebelumnya mencapai Rp 2 miliar per bulan. “Yang Ancol malah Rp 2,5 miliar,” ucap Carnelisia Valia, Manajer Pengembangan Bisnis PT Jaya Pangan Lestari, pemilik rumah makan. 

Angka yang dipaparkan Talaga Sampireun memperlihatkan bahwa pemasukan restoran masakan Sunda ini cukup menjanjikan. Tak mengherankan jika sejumlah pemain baru masakan penuh sayuran segar ini bertambah dengan cepat. Kebanyakan hanya mengoperasikan satu rumah makan. Tapi beberapa lagi bisa membuka banyak cabang.

Beberapa nama terkenal, seperti warung makan Ampera, di Jakarta saja memiliki delapan kedai. Padahal, di kota-kota Jawa Barat, rumah makan ini juga memiliki cabang, termasuk di kota kecil, seperti Sumedang atau Ciamis. Nama lain yang juga populer adalah Asep Stroberi. Meski tidak memiliki cabang di Jakarta, rumah makan milik Asep Husnah ini sudah memiliki 9 cabang di sekitar Garut, Bandung, dan Tasikmalaya.

Pendapatan miliaran rupiah rumah makan sunda
Pendapatan miliaran rupiah rumah makan sunda 


Rumah makan Sunda incar pasar menengah atas

Meski “warung Sunda” sudah ada dari zaman dulu, booming rumah makan Sunda yang mengincar pasar menengah atas, seperti Ampera, Mang Kabayan, atau Talaga Sampireun, baru terjadi 10-15 tahun terakhir. Salah satu yang memperkenalkan restoran Sunda di Jakarta dan sekitarnya, bisa jadi, adalah warung makan Ampera. Awalnya Ampera didirikan puluhan tahun silam di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, oleh Tatang Sudjani.

Pada 2002, salah satu kerabat Tatang, Samsul Hardin, mencoba membuka cabang di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. “Waktu itu di Jakarta belum banyak restoran Sunda,” kata pemilik jaringan rumah makan Ampera, Eka Kosasih. Tapi, karena lokasi kurang strategis, cabang ini dipindah ke Jalan Ahmad Dahlan. “Barulah Ampera mengalami kemajuan pesat,” ucapnya. Pakar kuliner William Wongso mengatakan salah satu kelebihan makanan Sunda sehingga bisa diterima pasar, termasuk kalangan bukan orang Sunda adalah konsepnya yang netral. “Karena ada sambal dan sambalnya itu diminati siapa saja, tua atau muda, dan orang Indonesia dari daerah mana saja bahkan orang Malaysia suka makanan Sunda,” ucapnya.

Dan masakan Sunda ini bisa “naik kelas” dengan rumah makan yang mengincar kelas menengah atas karena pasarnya sekarang potensial. Ia memperkirakan ada 40 juta orang kelas menengah Indonesia. Dari jumlah itu, hanya 1-2 persen saja yang suka makanan Barat. “Sisanya adalah kelas menengah yang masih sangat menyukai masakan tradisional Nusantara,” katanya. Mereka ini pasar restoran Sunda. Banyaknya kelas menengah inilah yang membuat Talaga Sampireun bisa meraup pendapatan miliaran rupiah per bulan dari satu gerai saja. Faktor lain yang memajukan bisnis mereka adalah sistem manajemen rumah makan modern yang digunakan Talaga Sampireun.

Mereka bahkan memiliki tim koki yang bertugas mencari menu-menu baru, semacam jengkol crispy, yang mereka tawarkan sekarang. Koki ini mereka ambil dari sejumlah rumah makan lain dan, menurut mereka, tidak terlalu susah. “Karena, biasanya untuk key person di restoran ini orangnya berputarputar di situ-situ saja,” kata Carnelisia. “Apalagi untuk masakan Nusantara.” Untuk mencapai pendapatan setinggi itu, modalnya lumayan besar. Carnelisia, misalnya, memang tidak mengetahui pasti berapa perusahaan tempatnya bekerja menanam uang di tiap rumah makan yang masing-masing memiliki kapasitas setidaknya 600 orang. Tapi ia memperkirakan biaya satu rumah makan itu hampir Rp 10 miliar.

Investasi rumah makan Sunda bisa mencapai 1,5 Milyar

Hitung-hitungan investasi mungkin bisa diketahui dari rumah makan Mang Kabayan. Sardiatmo, Manajer Pemasaran PT Sumber Pangan Lestari pemilik merek Mang Kabayan mengatakan biaya penataan ruang dan peralatan dengan ukuran di bawah 1.000 meter mencapai Rp 1,5 miliar. Jika ukurannya bertambah, biaya bisa berlipat. Mang Kabayan awalnya dari rumah makan di Cirebon yang berdiri pada 1996. Sekarang Mang Kabayan memiliki enam cabang dengan total karyawan sekitar 200 orang. Agar ada standar rasa, bumbunya diolah di satu tempat dan dibagikan ke cabang-cabang.

Mang Kabayan enggan membuka rahasia dapur pendapatannya. Yang jelas, ukuran rumah makannya tidak sebesar Talaga Sampireun. Sedangkan pendapatan rumah makan Asep Stroberi tidak mencapai miliaran rupiah. Tapi ini rumah makan di daerah, bukan di Jakarta, jadi tetap saja terhitung besar. “Rata-rata ya sekitar Rp 500 juta sebulan (per cabang),” ucap Zikri Nuzrin, Manajer Operasional Asep Stroberi.

Restoran Asep Stroberi belum mengandalkan tenaga profesional. Sejak didirikan dengan modal Rp 15 juta oleh Asep Husnah pada 2005 sampai sekarang, Asep Stroberi mengandalkan warga sekitar dan kerabat sebagai karyawan, termasuk koki. Tapi sekarang mereka mulai memodernisasi sistemnya, setidaknya dari perekrutan karyawan. “Sejak kami punya 9 gerai, kami mencari profesional untuk posisi juru masak dan manajer unit,” ucap Zikri. Dikutip dari berbagai sumber.

Senin, 01 Desember 2014

Dubes AS merayakan thanksgiving bersama masyarakat Banyuwangi

Untuk keempat kalinya, kota Banyuwangi diramaikan oleh lebih dari 20.000 penari dalam acara Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2014. Mengusung tema “The Mystic Dance of Seblang”, puluhan ribu anggota masyarakat setempat dan pengunjung berpakaian serba hitam tumpah di jalan-jalan utama kota menyaksikan para penari cantik berpakaian etnik Banyuwangi yang berwarna- warni.

Acara yang dimulai tepat pukul 11.00 WIB akan berakhir bersama tenggelamnya matahari di ufuk timur. Acara BEC dibuka oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas didampingi Dubes Amerika untuk Indonesia Robert O Blake, Ny Sofia Blake, Konsul Jenderal AS di Surabaya Joacquin F Monserrate, para bupati, dan wali kota dari berbagai daerah. 

Semua akses jalan utama kota ditutup massa yang ikut larut dalam gerakan tari 20.000 penari tradisional. BEC merupakan peristiwa ekstravaganza yang melibatkan banyak penari dari berbagai kecamatan di kabupaten Banyuwangi. “The Mystic Dance of Seblang” terbagi atas tiga sub tema, yaitu Seblang Oleh sari yang identik dengan warna hijau, Seblang Bakungan yang identik dengan warna merah, dan Porobungkil atau hasil bumi.

Pada Seblang Olehsari, kepala para penari dihiasi daun pelepah pisang hingga menutup sebagian wajah. Pada Seblang Bakungan, pakaian warna merah menutup kepala dan sebagian wajah penari yang menenteng keris. Sedang pada Porobungkil, hasil bumi dikemas dalam pakaian modern. Tahun ini, Banyuwangi menggelar sekitar 23 event budaya untuk menarik wisatawan dan mendongkrak pendapatan masyarakat. “Banyuwangi memiliki basis kuat di bidang pertanian. Tapi, kami juga sedang mengembangkan pariwisata,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.


Dubes AS thanksgiving di Banyuwangi

Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake merayakan hari Thanksgiving bersama masyarakat Banyuwangi. “Saya senang melihat Banyuwangi, keindahan alam, budaya, dan terutama keramahtamahan masyarakatnya,” ujar Blake. Selama berada di Banyuwangi, Blake mengakui, dirinya melihat langsung kepemimpinan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. “Saya sudah mendengar cerita tentang pemimpin daerah yang hebat, di antaranya bupati Banyuwangi. Dalam dua hari di sini saya merasakan sendiri ketokohan bupati Banyuwangi,” ungkap Blake.

Thanksgiving dalam tradisi AS adalah hari khusus untuk mengucapkan rasa syukur. Suguhan utama dalam jamuan thanksgiving adalah ayam kalkun. Para pegawai Kedubes AS dan Konsulat Jenderal AS di Surabaya ikut menyediakan jamuan makan malam di Pendopo Bupati Banyuwangi dengan salah satu menu favorit ayam kalkun. Thanksgiving di Banyuwangi diselenggarakan atas iniasiatif Kedubes AS.

Tahun ini, Banyuwangi menggelar sekitar 23 event budaya untuk menarik wisatawan dan mendongkrak pendapatan masyarakat. “Banyuwangi memiliki basis kuat di bidang pertanian. Tapi, kami juga sedang mengembangkan pariwisata,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Tahun ini, wisman yang mengunjungi Banyuwangi mencapai 20.000, naik dari 4.000 tahun sebelumnya. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, pariwisata di Banyuwangi menjanjikan. “Tapi, sebagai menteri baru, saya masih memasukkan Banyuwangi sebagai bagian dari Bali menjadi gateway utama,” ujar putra Banyuwangi itu.

Wisman yang datang ke Indonesia tahun ini, kata Arief, sekitar 9,5 juta. Presiden Jokowi menginstruksikan Menteri Pariwisata untuk meningkatkan wisman menjadi 20 juta. Saat ini, gateway wisman di Indonesia masih didominasi tiga besar, yakni Bali 40%, Jakarta 30%, dan Batam 25%. “Ketiga destinasi ini sudah punya brand. Nanti pelan-pelan kita naikkan brand Banyuwangi,” ujar Arief.


Menanti datangnya kilau Merah Jingga di Banyuwangi

Persis di depan pantai, ada bukit yang dapat memancarkan cahaya merah. Inilah saat yang paling ditunggu-tunggu. Dua tahun lalu, nama Banyuwangi sama sekali tak pernah masuk dalam agenda wisata. Namanya kalah jauh jika dibanding Bali maupun Papua. Namun kini rasanya semua traveler ingin ke sana.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memang cukup serius menggali potensi wisata. Tak mengherankan jika wisata kabupaten di ujung Pulau Jawa itu berkembang pesat. Salah satu yang populer adalah Pantai Pulau Merah. Sejak diperkenalkan lewat ajang balap sepeda “Banyuwangi Tour De Ijen” pada akhir 2012, pantai itu selalu menjadi buah bibir. Pulau Merah dipilih menjadi nama pantai itu karena di hadapan pantai ada pulau setinggi 200 meter, mirip pantai-pantai di Brasil.

Pantai Pulau Merah Banyuwangi
Pantai Pulau Merah Banyuwangi


Dan konon pulau itu pernah memancarkan cahaya merah. Tak jelas benar dari mana asal pancaran merah itu. Namun, jika dilihat dari dekat, warna tanah dan pasir di sekitar pulau itu memang kemerah-merahan. Tapi, jika air sedang pasang di sore hari, fenomena jingga-kemerah-merahan ini akan tampak lebih indah. Saat itu bukit pulau itu disinari cahaya matahari yang mulai tenggelam. 

Di samping keunikannya, pulau ini dianugerahi ombak mirip Pantai Kuta, Bali. Bedanya, ombak di Pantai Pulau Merah Banyuwangi lebih bergulung-gulung dan dapat membentuk terowongan panjang. Sudah pasti ombak jenis ini menjadi favorit para surfer, termasuk para peselancar kelas dunia pun ramai-ramai “bermain” ke Pantai Pulau Merah.

Berselancar menjadi aktivitas paling dominan di pantai ini, baik orang lokal maupun wisatawan asing. Ketinggian ombak rata-rata 2 meter dan panjang 300 meter. Berbagai manuver, termasuk teknik tubes, bisa dilakukan di pantai ini. Wajar bila pantai ini menjadi tempat kompetisi surfing internasional pada 2013 dan 2014. 

Anda yang ingin mencoba belajar menunggangi ombak tidak perlu khawatir karena ombak Pantai Pulau Merah masih tergolong ramah bagi pemula. Papan selancar juga dapat Anda sewa seharian penuh dengan tarif Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Tergantung hasil negosiasi, ya. Namun, bila belum punya nyali yang cukup berani, Anda bisa bermain air dan pasir bersama kawan atau keluarga. Olahraga bola atau voli di pinggir pantai juga cukup menggembirakan. Kalau sudah bosan, silakan mengunjungi pulau kecil yang berdiri tegak di bibir pantai. Tapi pulau rimbun nan hijau itu hanya bisa dijangkau jika air laut surut.

Pantai Pulau Merah Banyuwangi
Pantai Pulau Merah Banyuwangi


Atau silakan menikmati hamparan batu karang berwarna-warni di bagian timur atau hitam-kemerah-merahan di dekat bibir pantai atau di kaki bukit Tumpang Pitu, gunung dengan kandungan emas tinggi. Sumber daya alam di bukit itu kini dikelola perusahaan swasta, yang kini banyak diprotes karena limbahnya dianggap mengotori dan merusak air laut. Semakin hari, jumlah wisatawan asing semakin banyak. Seorang teman yang baru-baru ini berkunjung tak henti-hentinya memuji Pantai Pulau Merah.

Pantai yang kini dikelola Perum Perhutani Unit II Jawa Timur itu memang sangat bersih dan terawat. Sayangnya, banyak perilaku wisatawan yang kurang ikut menjaga kebersihan. Beberapa pengunjung meninggalkan sampah, seperti bekas bungkus makanan atau botol air mineral. Beberapa petugas kebersihan yang standby biasanya akan langsung membersihkannya. Di sepanjang pantai, berjajar bangku untuk selonjoran, lengkap dengan payung lebar agar tidak kepanasan di siang hari. “Wah, pokoknya sekarang mantap, deh,” ujar teman, berseri-seri. Pantai Pulau Merah terletak agak jauh dari pusat kota, sekitar 80 kilometer ke sisi barat Banyuwangi. Jika naik kendaraan umum, seperti bus, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan.

Pantai Pulau Merah Banyuwangi
Pantai Pulau Merah Banyuwangi


Silakan menaiki Bisminto atau Ujang Jaya jurusan Pesanggaran. Dari sana, perjalanan tinggal dilanjutkan dengan menyewa ojek. Ongkosnya kira-kira Rp 20 ribu. Seandainya datang berombongan, sebaiknya menyewa mobil. Selain tak ribet berpindah-pindah angkutan, ongkos sewanya bisa dibayar secara patungan, otomatis lebih murah, dong.

Atau, kalau ingin lebih “menantang”, sewalah kendaraan roda dua alias sepeda motor. Akses jalan menuju Pantai Pulau Merah terbilang mulus, jadi tak perlu khawatir. Area parkir di pantai ini seluas 4-5 hektare, jadi buat traveler yang membawa kendaraan pribadi tak perlu takut kehabisan tempat parkir. Ongkos parkirnya Rp 5.000 untuk mobil dan Rp 2.000 untuk sepeda motor. Dikutip dari berbagai sumber.

Jumat, 21 November 2014

Awal mula ritual seks gunung kemukus

Bagaimana awal mula ritual seks gunung kemukus ini. Begini cerita nya, pada abad ke-16 lalu konon ada pangeran muda di sebuah kerajaan di Indonesia yang berselingkuh dengan ibu tirinya. Mereka pun lari ke Gunung Kemukus dan tetap melakukan hubungan seksual hingga tertangkap, dibunuh dan dikubur.

Ada tempat yang dianggap suci di bekas persembunyian pangeran dan ibu tirinya itu di gunung kemukus, dan dipercaya jika melakukan ritual tersebut di tempat itu maka akan membawa keberuntungan. Kebanyakan yang melakukannya petani miskin yang ingin maju dalam hidup, kata Abboud.

Ritual pesugihan Gunung Kemukus 

Ritual pesugihan di Gunung Kemukus Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah ini bisa dibilang ekstrim. Para pencari pesugihan harus berhubungan badan (seks) dengan orang yang bukan pasangan sah. Bagaimana ritualnya?

Pelaku ritual atau biasa disebut peziarah, lebih dulu membersihkan diri di sendang Ontro Wulan. Sendang itu dipercaya sebagai tempat menghilangnya ibunda Pangeran Samudra dari Kerajaan Majapahit.

Selanjutnya, peziarah diwajibkan berdoa di makam Pangeran Samudra dengan dipandu oleh juru kunci. Ada 12 juru kunci di sana. Selesai berdoa, para peziarah menuju lokasi tersendiri untuk memadu kasih.

Lokasinya bisa di sekitar area makam, namun bisa juga di rumah-rumah penduduk yang memang menyediakan tempat untuk memadu kasih. Peziarah bisa membawa sendiri pasangannya asal bukan istri atau suami.

"Tapi kalau tidak memiliki pasangan, peziarah bisa mendapatkannya di sini. Di rumah-rumah itu memang menyediakan wanita-wanita untuk dipakai sebagai syarat ritual," ujar penjaga retribusi Gunung Kemukus bernama Slamet, sambil menunjuk rumah berjejer di bawah bukit makam Pangeran Samudra.

Slamet menjelaskan, agar tujuan peziarah tercapai sebaiknya pasangan yang digauli berasal dari desa yang sama dengan peziarah. Alasannya, perempuan yang ada di rumah-rumah warga, kebanyakan pekerja seks komersil, yang ingin meraup untung dari ritual tersebut.

"Misal, si A berasal dari daerah Z. Seharusnya pasangannya, apa itu pria atau perempuan harus berasal dari desa yang sama dengan si A. Itu cepat terkabul. Kalau disini itukan kebanyakan perempuan tidak benar semua. Yang memang profesinya seperti itu," ungkapnya.

Pemohon pesugihan diharuskan menggauli perempuan yang sama. Bila berganti perempuan, maka harus memulai lagi dari awal. Bila tujuannya tercapai, wajib bagi peziarah memberi nafkah pada orang yang pernah digauli hingga akhir hayat.

Awal mula ritual seks gunung kemukus
Awal mula ritual seks gunung kemukus

Gunung Kemukus mulai terkenal 

Gunung Kemukus kini mendadak populer sehingga menarik wisatawan lokal. Ironisnya, pemerintah setempat menarik pungutan kepada mereka yang memasuki kawasan tersebut.

"Ini sebuah kontradiksi. Pemerintah mengetahui perzinahan yang terjadi, tetapi mengabarkan sesuatu yang berbeda dan menutup mata," kata Abboud dikutip Daily Mail.

Menurut dia, pemerintah dan tokoh agama setempat terkesan membiarkan prostitusi berkedok ritual di Gunung Kemukus. Selain bertolak belakang dengan ajaran agama, aktivitas tersebut juga rawan penyebaran penyakit kelamin. Abboud menggambarkan ritual itu sebagai kejadian yang luar biasa mengejutkan. Ia pun menunjukkan foto-foto orang sebelum melakukan ritual seks di Gunung Kemukus.

Kamis, 20 November 2014

Heboh, ritual seks gunung kemukus

Malam Jumat Pon, tempat ziarah Gunung Kemukus di Kabupaten Sragen penuh sesak oleh para pengunjung. Meskipun lokasinya kini sudah terpisah dengan daratan Kecamatan Sumberlawang, akibat genangan air proyek waduk raksasa Kedung Ombo beberapa tahun lewat, namun minat para peziarah yang berdatangan dari berbagai daerah tak pernah surut.

Dengan menggunakan sampan atau perahu sewa, mereka dengan sabar meniti perairan Kedung Ombo untuk bisa mencapai lokasi Gunung Kemukus. Ini merupakan satu-satunya cara berziarah, setelah jembatan beton penghubung antara Kecamatan Sumberlawang dengan Gunung Kemukus lenyap ditelan genangan air waduk.

Miri adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Miri terletak di sebelah barat Ibu Kota Kabupaten Sragen berjarak 35 Km (25 Km dari Kota Surakarta). Tempat wisata Gunung Kemukus berlokasi di kecamatan ini. 

Tekstur wilayahnya yang berbukit dan lebatnya pohon di wilayah pedalaman kecamatan Miri menjadi daya tarik tersendiri, hal ini bisa menjadi pertimbangan bahwa kecamatan Miri menjadi daerah desa wisata. (wikipedia).

Media Australia membuat tayangan investasi seputar gunung kemukus

Media Australia, SBS, membuat sebuah tayangan investigasi mengejutkan mengenai ritual seks gunung kemukus yang kerap dilakukan warga Jawa di Gunung Kemukus, Jawa Tengah. Dalam program berjudul "Dateline", jurnalis Patrick Abboud menggambarkan banyaknya para peziarah yang datang ke gunung itu untuk berhubungan intim dengan orang asing.

Laman Dailymail, Selasa, 18 November 2014 melansir berdasarkan ritual itu, para peziarah harus datang ke gunung tersebut setiap 35 hari sekali. Tiap kali berkunjung ke sana, warga harus melakukan hubungan intim dengan orang asing sebanyak tujuh kali. 

Abboud mengatakan para peziarah melakukan hal tersebut untuk meningkatkan peruntungan dan rezeki.

"Ini merupakan sebuah kisah yang aneh. Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca mengenai kisah ini dan berusaha mencari tahu. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa ke sana," kata Abboud. 

Satu hal yang membuatnya terkejut, ternyata setiap kali ritual tersebut dilakukan, Gunung Kemukus tiba-tiba dipadati hingga 8.000 orang. 

"Sangat sulit dipercaya. Saya sendiri membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memahaminya," ujarnya.
Heboh, ritual seks gunung kemukus
Heboh, ritual seks gunung kemukus

Awal mula ritual mitos itu dimulai abad ke 16

Kalangan yang datang ke sana beragam. Mulai dari pria yang telah menikah, ibu rumah tangga, pejabat pemerintah dan bahkan pekerja seks. Awal mula ritual itu kembali kepada mitos di abad ke-16. Saat itu ada seorang Pangeran bernama Sumodro yang berselingkuh dengan ibu tirinya sendiri. Mereka kemudian memutuskan kabur ke gunung tersebut dan berhubungan intim di sana," tutur Abboud. 

Namun, lanjut dia, di tengah sedang berhubugan seks, mereka tertangkap, dibunuh dan dikubur. Makam Pangeran Sumudro inilah yang kerap didatangi para peziarah yang meminta rezeki. Dan karena mereka belum menyelesaikan hubungan intim itu, maka para peziarah itu meyakini jika hubungan tersebut dilanjutkan, maka keberuntungan akan menghampiri, kisah Abboud. 

Kebanyakan mereka yang datang ke acara ritual tersebut, berasal dari kalangan petani dan menengah ke bawah. Mereka melakukan ritual seks itu di motel yang kini menjamur di dekat Gunung Kemukus. 

Abboud menyebut itu merupakan ritual asli orang Jawa dan tidak terkait dengan agama apa pun yang berkembang di Indonesia, termasuk Muslim.  Kendati menurut pengajar di Universitas Gadjah Mada, Koentjoro Soeparno, yang telah meneliti ritual tersebut selama 30 tahun mengakui hal itu merupakan paradoks dan perbuatan hipokrit. Sebab, sehari-hari para peziarah ini tetap beribadah. 

Selain itu, di dekat tempat ritual tersebut, juga berdiri sebuah masjid. Namun, di samping tempat ibadah, justru terjadi perselingkuhan. Agama Islam melarang perbuatan itu. Tetapi, mereka tetap melakukan hal tersebut, karena hanya keuntungan yang dilihat, sehingga pondasi agamanya ditinggalkan," kata Koentjoro yang turut dimintai komentarnya oleh Abboud. 

Koentjoro turut menyoroti tumbuh suburnya aksi prostitusi di Gunung Kemukus tiap ritual tersebut tiba. Bagi para peziarah yang tidak bisa melakukan hubungan intim dengan sesama peziarah lainnya mereka bisa menggunakan jasa para pekerja seks itu.

Abboud mengatakan pemerintah setempat mengetahui adanya ritual tersebut. Sebab, ada petugas khusus yang diminta untuk mengawasi ritual itu. Menurut petugas yang ditemui Abboud, ritual seks tidak diwajibkan oleh si juru kunci.

"Itu hanya maunya orang itu sendiri. Para peziarah kan seharusnya kalau datang kemari harus dengan hati dan tubuh yang bersih," kata petugas penjaga Gunung Kemukus. 

Saking ramainya para peziarah, pemerintah setempat kemudian mengenakan biaya sebesar Rp10 ribu untuk sekali berkunjung.

Heboh, ritual seks gunung kemukus
Heboh, ritual seks gunung kemukus


Sarang HIV/AIDS
Satu hal yang menjadi kekhawatiran Abboud yaitu, banyak penyakit yang muncul dari ritual tersebut, karena pasangan tidak menggunakan kondom. Menurut dr. Yusinarto yang bekerja di sebuah klinik di dekat gunung itu, mengungkap hampir semua pekerja seks yang bekerja di sana telah mengidap penyakit menular seksual. 

"Sementara, untuk penyakit HIV/AIDS juga sudah banyak ditemukan dan trend nya juga mulai naik," kata Yusinarto. Sayangnya, klinik masyarakat itu, hanya buka satu minggu sekali.

Menurut kesaksian salah satu peziarah bernama Mardiyah yang diwawancarai SBS, setelah tujuh kali berkunjung, hidupnya mulai berubah. Dia mengaku, peruntungannya mulai meningkat. Apa saja yang saya jual mulai laku, walaupun sedikit-sedikit. Saya juga sudah mulai mampu membayar hutang saya sedikit-sedikit, kata dia. Program Seks Gunung ini sudah tayang di saluran SBS One pada Selasa malam, 18 November 2014. Dikutip dari berbagai sumber.

Minggu, 09 November 2014

Wisata CERDAS ke Pulau Menjangan

Pada bagian yang lalu kami pernah menuliskan artikel eksotisme Pulau Menjangan. Tetapi Pulau Menjangan kali ini yang kami bahas letaknya beda bukan berada di Bali melainkan berada di Jawa Tengah tepatnya berada di Karimunjawa. (baca: Eksotisme Pulau Menjangan)

Yuk kita wisata cerdas ke Pulau Menjangan. Wisata disisi ikan hiu yang jumlahnya banyak dan besar-besar. Beranikah ANDA berenang bersama ikan hiu predator ini?

Beriwisata cerdas, unik bukan hehehe, cepat, dan pastinya berbahaya. Begitulah kiranya gambaran hiu pemangsa manusia di film besutan  Steven Spielberg, Jaws. Hiu memang salah satu penghuni laut yang sering dijadikan “tokoh” antagonis dalam film. 

Dalam dunia nyata, stigma hiu sebagai hewan laut paling menakutkan karena keganasannya yang melegenda itu tak juga sirna. Jangankan dekat-dekat, melihat dari jauh saja mungkin sudah bikin merinding. Jadi, jika suatu hari ada tantangan untuk berenang bersama para predator itu, mungkin nyali banyak orang akan  ciut. 

Wisata CERDAS ke Pulau Menjangan
Wisata CERDAS ke Pulau Menjangan

Apa menariknya, coba, selain  hanya membahayakan diri? Tapi, jika Anda punya jiwa petualang dan penantang, silakan datang ke Pulau Menjangan Besar, salah satu pulau di Kepulauan Karimunjawa. Disini, para wisatawan bisa mengikuti uji adrenalin dengan “wisata hiu”.

Destinasi wisata tak biasa ini dirintis oleh warga setempat sejak 30 tahun lalu. Awalnya, mereka hanya membeli sepasang ikan hiu untuk dikembangbiakkan. Rupanya usaha itu berhasil. Seekor hiu bisa melahirkan dua sampai tiga ekor anak per kelahirannya. 

Lama-lama jumlah hiu di Pulau Menjangan Besar terus bertambah. Warga pun memutuskan membuat dua kolam besar berukuran 30 x 10 meter persegi. Kolam itu sebenarnya masih wilayah laut, hanya dibatasi dengan batubatuan. Saat ini, kolam pertama berisi lebih dari 10 hiu sirip hitam (black tip) dan sirip putih (white tip). Hiu jenis ini lebih menyukai habitat di perairan dangkal berpasir.

Wisata CERDAS ke Pulau Menjangan
Wisata CERDAS ke Pulau Menjangan

Sebagian dari jenis ini bahkan lebih suka tinggal di perairan payau dan sungai air tawar. Sedangkan kolam kedua mengarah ke laut lepas. Di dalamnya terdapat hiu putih dan ikan barakuda yang tergolong ganas.

Wisata CERDAS ke Pulau Menjangan
Ukuran paling besarnya bisa mencapai berat 50 kilogram. Kolam ini benar-benar tertutup  untuk wisatawan. Wisatawan hanya boleh berenang dengan hiu sirip hitam dan putih saja. Kedua jenis hiu ini tergolong tak terlalu ganas, apalagi mereka dipelihara sejak kecil. Meski begitu, yang namanya hiu tetap saja menyeramkan, bukan?

Meski petugas telah menjelaskan bahwa hiu  itu tak akan melukai para wisatawan karena telah diberi cukup makan, masih banyak  traveler yang ketakutan saat mencemplungkan kaki ke dalam kolam.

Rasanya? Jangan ditanya, pastinya sangat menegangkan dan membuat jantung seakan mau copot. Beberapa orang terlihat mengernyitkan mata saat hiu-hiu ini mendekat dan mengitari para wisatawan. Namun mereka lebih sering menghindari manusia. Jika Anda ingin terus dekat dengan hiu ini, mintalah petugas kolam melempar ikan kecil untuk memancing ikan-ikan hiu agar mendekat. Dan bersiaplah didatangi wisata hiu ini.

Untuk memastikan keselamatan Anda, gunakanlah jaket pelampung, terutama bagi yang tidak bisa berenang. Sebelum masuk ke kolam, pastikan tidak ada luka di tubuh Anda. Sebab, hiu sangat sensitif pada bau darah dan mudah membuatnya menjadi agresif. 

Selama di dalam kolam, Anda diperkenankan mengelus dan menyentuh kepala hiu ini  dengan hati-hati, tapi jangan sekali-kali menyentuh siripnya, ya. Selain itu, wisatawan tidak diperkenankan membuat gerakan tiba-tiba yang dapat mengagetkan sang hiu. 

Hiu akan dengan mudah menjadi agresif jika stres. Selain berenang bersama hiu, ada sejumlah daya tarik wisata alam lain yang dapat dijelajahi. Salah satunya adalah menyusuri hutan mangrove atau bakau. Jalur track dari papan kayu menuju jantung hutan dengan jarak 3 kilometer dapat dilalui dengan berjalan kaki. Sambil menikmati pepohonan bakau dengan tinggi rata-rata lebih dari 5 meter membuat traveler dapat merasakan sensasi berbeda. Wisatawan dapat mengamati kekayaan pohon mangrove yang tumbuh alami di lahan seluas 10,5 hektare.

How to Get There? Jakarta-Semarang-Jepara-Karimunjawa

Kepulauan Karimunjawa merupakan kumpulan 27 pulau kecil yang berada di Laut Jawa. Lokasinya sekitar 83 kilometer arah utara dari Kota Jepara. Dari 27 pulau, hanya ada lima pulau yang berpenghuni, yakni Pulau Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk, dan Genting. Meski begitu, tak sulit mencapainya. Hanya, tak ada pesawat komersial yang bisa mencapai lokasi ini.

Anda bisa menumpang pesawat sampai ke Kota Semarang. Dari Kota Lumpia, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Nah, dari kota kecil ini, ada dua jalur alternatif yang bisa dipilih. Ada KMP Muria dari Pelabuhan Kartini di Jepara atau kapal cepat Karimunjawa dari Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Tiket kapal cepat sedikit lebih mahal, tapi lebih cepat sampai. Pulau Menjangan Besar berjarak sekitar 10 menit di selatan Pulau Karimunjawa. Sumber:majalahdetik.

Selasa, 28 Oktober 2014

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Sikunir.info berkeliling ke beberapa tempat lokasi wisata yang ada di Propinsi Jawa Tengah akhirnya sikunir.info terdampar juga di Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong. Di Kelenteng ini sikunir.info ingin melihat Sunset, mau melihat matahari terbenam secara pelan-pelan dengan memancarkan aneka cahaya warna-warni menghiasi langit Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong. Tiket masuknya dikenakan biaya Rp. 3.000,- (tiga ribu rupiah).

Sam Po Kong tempat petilasan Laksamana Cheng Ho

Sam Po Kong adalah sebuah petilasan bekas tempat persinggahan atau pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Lokasi pendaratan Jenderal Cheng Ho ini terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan bekas petilasan bahwa Cheng Ho beragam islam adalah ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an“.

Kelenteng Sam Po Kong disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng. Mengingat bentuknya berarsitektur China sehingga mirip sebuah kelenteng.

Di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien nama lain untuk sebutan Sam Po Kong. Padahal Jenderal Cheng Ho (Sam Po Kong) adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Menurut cerita legenda, bahwa Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut Jawa ada seorang awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia merapat ke pantai utara Semarang dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. (wikipedia)

Bangunan ini sekarang berada di tengah kota Semarang diakibatkan pantai utara Jawa selalu mengalami pendangkalan diakibatkan adanya sedimentasi sehingga lambat laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara. Semilirnya angin pantai sangat terasa kalau kita berada disini.

Konon setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan, kawin dan beranak pinak dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He membagikan ilmu nya dan memberikan pelajaran bercocok-tanam.

Kini di dalam goa sebuah tempat yang terdapat Patung Cheng Ho dilapisi emas dan digunakan untuk ruang sembahyang dalam memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Selain bangunan inti goa batu tersebut, yang dindingnya dihiasi relief tentang perjalanan Cheng Ho dari daratan China sampa ke Jawa, di area ini juga terdapat satu kelenteng besar dan dua tempat sembahyang yang lebih kecil.

Untuk masuk ke tempat ini kalau ingin bersembahyang petugas hanya membebankan biaya untuk beli kertas emas, dupa, lilin dan kemenyan madu. Sementara kalau untuk berwisata saja dikenakan biaya Rp. 20.000,- untuk turis lokal, untuk turis luar dikenakan biaya Rp. 30.000,-

Tempat-tempat sembahyang tersebut dinamai sesuai dengan peruntukannya, yaitu kelenteng Thao Tee Kong yang merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi untuk memohon berkah dan keselamatan hidup. Ada juga tempat pemujaan Kyai Juru Mudi berupa makam juru mudi kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho.

Tempat pemujaan lainnya dinamai kyai Jangkar, karena di sini tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah pula. Di sini digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.

Lalu ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi, yang dulunya merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho, serta Kyai dan Nyai Tumpeng yang mewakili temapt penyimpanan bahan makanan pada jaman Cheng Ho. Karena seluruh area lebih dimaksudkan untuk sembahyang, tidak semua orang boleh memasukinya.

Yuk kita intip sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong ini.

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak merancangnya dengan menggambarkan mirip bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shofar.

Sunan Kalijaga membuat saka atau tiang tatal ini. Meski terbuat dari serpihan-serpihan kayu, tiang ini masih kokoh seperti tiang lainnya. Arsitektur masjid ini sangat kental dengan nuansa Jawa. Tak ada kubah, bagian atapnya berbentuk limas bersusun tiga. Konon, tiga sap atap ini bermakna tingkatan manusia dalam Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.

Masjid Agung Demak memiliki lima buah pintu yang bermakna rukun Islam yaitu syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji. Sementara rukun iman tercermin dari jendela masjid yang berjumlah enam.

Masjid Agung Demak mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru dengan tinggi sekitar 17 meter. Salah satu tiang utama itu disebut soko tatal.

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak

Soko tatal itulah yang memiliki cerita menarik. Soko alias tiang ini terbuat dari serpihan-serpihan kayu atau tatal yang direkatkan satu dengan yang lainnya sehingga membentuk tiang. Menurut cerita, tiang ini dibuat oleh Sunan Kalijaga. Masyarakat menyebut tiang ini sebagai wujud karamah Sunan Kalijaga. Banyak yang percaya Sunan Kalijaga membuat saka ini dengan kekuatan yang tidak biasa.

Namun soal saka tatal ini banyak versi yang berkembang. Yang jelas, tiang penyangga yang berdiri di bagian timur laut itu terbuat dari pecahan-pecahan kayu. Meski terbuat dari serpihan kayu, satu tiang ini masih sekokoh tiang-tiang lainnya.

Di dalam kompleks masjid yang pernah diajukan sebagai situs warisan budaya UNESCO pada 1995 ini juga terdapat makam Sultan Demak dan para abdinya. Sekarang, di tempat ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.

Raden Patah putra Raja Majapahit (Brawijaya V)

Raden Patah merupakan putra Raja Majapahit yaitu Brawijaya V dengan putri asal Campa (Kamboja) Putri Dwarawati Murdiningrum yang telah masuk Islam. Raden Fatah kemudian menjadi perintis berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa. Kelahiran Demak tersebut mengakhiri masa Kerajaan Majapahit dimana kemudian sebagian penganut Hindu pada masa itu berpindah ke Bali dan sebagian lagi ke Tengger.

Arsitektur Masjid Agung Demak adalah contoh dari masjid tradisonal Jawa dimana tidak memiliki kubah seperti umumnya masjid modern kini. Bentuk bangunan atap berbentuk limas ditopang 8 tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap ini bersusun-susun dan hanya dikenal di kepulauan Nusantara dari Aceh hingga Maluku. Bentuk bangunan Masjid Agung Demak berbeda dari kelaziman pada  zaman itu dimana mengadopsi arsitektur lokal yang berkembang di masyarakat meliputi joglo yang memaksimalkan bentuk-bentuk limas dengan berbagai dinamikanya. 

Bangunan masjid terbuat dari kayu jati berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh 4 buah tiang kayu besar (soko tatal atau soko guru) yang dibuat oleh empat wali dari Wali Songo. Keseluruhan bangunan ditopang 128 soko, empat di antaranya soko guru yang menjadi penyangga utama bangunan masjid. Jumlah tiang penyangga masjid 50 buah, sebanyak 28 penyangga serambi dan 34 tiang penyangga tatak rambat, sedang tiang keliling sebanyak 16 buah.

Perbaikan dan pemugaran Masjid Agung Demak

Bangunan masjid sejak awal berdirinya mengalami perbaikan dan pemugaran. Terakhir terjadi tahun 1987 dengan bantuan dana dari APBN dan dari negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI)  karena mengakui keberadaan Masjid Agung Demak sebagai monumen bagi masyarakat muslim yang memiliki arsitektur unik sesuai dengan dinamika zamannya. Masjid Agung Demak berbeda dengan arsitek masjid pada umumnya di jazirah Arab yang identik dengan kubah. Material Masjid Demak didominasi kayu jati dan beratapkan sirap ditopang 4 tiang utama (soko guru). 

Perbaikan dan pemugaran Masjid Agung Demak
Tanda tangan Soeharto di Masjid Agung Demak

Atapnya bersusun tiga berbentuk segitiga sama kaki mirip dengan pura umat Hindu sekaligus wujud akulturasi budaya setempat dan melambangkan tingkat orang Islam, yaitu Mukmin, Muslim dan Muhsin. Menurut cerita rakyat tiang utama dan atap sirap masjid tersebut adalah hasil karya para wali, yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. 

Salah satu soko guru, hasil karya Sunan Kalijaga tidak terbuat dari kayu utuh sebagaimana layaknya tiang utama, melainkan dari potongan kayu (tatal) yang disusun dan diikat. Bagi masyarakat Demak dan sekitarnya terdapat cerita bahwa salah satu atap sirap Masjid Agung Demak terbuat dari intip (kerak nasi liwet) hasil buatan Sunan Kalijaga.

Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak juga terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat museum yang berisi peninggalan berkaitan riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak memiliki banyak keunikan yang sekarang umurnya telah lebih dari 500 tahun. Desain arsitekturnya masih tampak anggun bergaya lokal. Wujud Masjid Agung Demak memberi kesan megah, anggun, dan  karismatik. Di sini Anda dapat menikmati arsitekturnya yang unik dan bernilai sejarah tinggi. Tentunya wisata religi dan ziarah adalah tema utamanya. Anda akan merasakan kesejukan dan kenyamanan bersujud di dalam masjid meski di luar terasa panas.

Teras masjid juga cukup luas dinaungi atap dan lantai keramik yang menjadikan Anda  nyaman untuk duduk-duduk atau berbaring. Apalagi bila Anda telah melakukan perjalanan jauh untuk sekedar singgah di sini.

Saat Anda memasuki kawasan masjid maka akan disambut pintu masuk utama masjid bernama Lawang Bhledeg yang dipercaya mampu menangkal petir. Pintu ini juga bertuliskan Nogo Mulat Saliro Wani yaitu bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M atau 887 H. Serambi di bagian depan masjid berupa ruang terbuka tanpa dinding dan ruangan dalam. Ada juga tempat khusus jamaah wanita di sebelah kiri yang disebut Pawestren dan telah dibuat tahun 1866 M.

Masjid Agung Demak berdiri di tengah kota menghadap alun-alun yang merupakan pusat kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Kota Demak sendiri saat itu seakan ingin meyatukan kawasan masjid, kraton dan saran-sarana pendukungnya termasuk alun-alun di bagian tengah. Lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian yang lain sekaligus sebagai lambang 5 rukun Islam yakni syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Sementara enam jendelanya melambangkan 6 rukun iman yakni percaya kepada Allah SWT, percaya kepada rasul-rasul-Nya, percaya kepada kitab-Nya, percaya kepada malaikat-Nya, percaya datangnya kiamat, serta percaya kepada qada dan qadar.

Di samping masjid ada ruangan kecil berfungsi sebagai museum penyimpan benda-benda bersejarah. Di sini juga tersimpan bekas tiang soko guru dan sirap karena masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, tetapi sebagian besar masih asli.  Ada pula kentongan  kuno. Di bagian belakang masjid terdapat makam raja-raja kerajaan Bintoro Demak, termasuk makam Raden Fatah.

Jangan lewatkan juga untuk melihat kitab tafsir  Alquran hasil tulisan tangan Sunan Bonang yang tersimpan dalam lemari kaca. Di Masjid Agung Demak terdapat benda-benda arkeologi yang bersejarah untuk Anda resapi sebagai warisan bernilai tinggi. 

Soko Majapahit, berupa tiang ini berjumlah 8 buah terletak di serambi masjid. Soko ini merupakan hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi yang diberikan kepada Raden Fatah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M.

Pawestren, merupakan bangunan untuk jamaah wanita. Dibangun menggunakan konstruksi kayu jati beratap limasan berupa sirap atau atap dari kayu jati. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, 4 diantaranya berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai berukuran 15 x 7,30 meter. Pawestren dibuat dengan bentuk dan motif ukiran maksurah dengan nilai estetika yang unik dan indah berukirkan tulisan Arab yang intinya mengagungkan Tuhan. Anda dpat menikmatinya keindahan ini yang mendominasi ruang dalam masjid. Prasasti di dalam maksurah menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M, di mana saat itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.

Surya Majapahit, yaitu gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa Majapahit. Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka atau 1479 M.

Prasasti Bulus, di sini  terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti “Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M. Raden Fatah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Maha karya abadi yang karismatik ini dengan memberi prasasti bergambar bulus. Ini merupakan Condro Sengkolo Memet dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1 (satu), kaki 4 berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Disimpulkan bahwa Masjid Agung Demak berdiri tahun 1401 Saka.

Dampar Kencono, merupakan mimbar untuk khotbah. Benda ini merupakan peninggalan Majapahit sebagai hadiah dari Prabu Brawijaya ke V untuk Raden Fatah Sultan Demak I.

Soko Tatal atau Soko Guru, jumlahnya ada 4 berupa tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga. Masing-masing soko guru memiliki tinggi 1630 cm. Formasi tata letak empat soko guru dipancangkan pada empat penjuru mata angin. Di barat laut didirikan Sunan Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara buatan Sunan Ampel, dan di timur laut karya Sunan Kalijaga. Masyarakat menamakan tiang buatan Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.

Situs Kolam Wudhu, dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga saat ini situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi. Saat itu kolam air ini yang menghubungkan bagian luar dan dalam masjid. Selain sebagai sarana untuk menyucikan diri, juga mengandung perlambang agar masyarakat selalu membersihkan diri dari berbagai kotoran yang menempel dalam diri dan hati.

Menara Masjid Agung Demak, merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat adzan yang didirikan dengan konstruksi baja. Ketika dibangun, masjid ini tidak memiliki menara seperti kondisi sekarang. Menurut cerita yang beredar, tidak dibangunnya menara ketika itu adalah untuk menghormati masyarakat sekitar masjid yang mayoritas masih beragama Hindu dan Budha. 

Dalam menyebarkan ajaran Islam, para wali ini sangat toleran terhadap agama Hindu dan Budha dan cara berdakwah pun tidak meninggalkan budaya lokal yang berkembang. Tidak ada paksaan, apalagi kekerasan dalam menyebarkan ajaran Islam. Pola dakwah yang digunakan para wali adalah kerja keras, ketekunan, keikhlasan, dan kasih sayang. 

Oleh karena itu, para wali ini mendapat simpati luar biasa dari masyarakat Jawa. Awal abad ke-15 mayoritas penduduk Jawa masih memeluk agama Hindu dan Budha tetapi seabad kemudian mayoritas penduduk di Pulau Jawa telah menjadi pemeluk Islam.  Saat itu Masjid Agung Demak menjadi pusat keislamannya dan tak pernah sepi dari jamaah. Masjid Agung Demak menjadi  masjid paling tua di Pulau Jawa dan digarap oleh 9 wali (Wali Songo) bersama-sama masyarakat Islam setempat. Kesembilan wali tersebut adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Ziarah Makam di Masjid Agung Demak

Ritual berdoa dan berzikir di kompleks makam Sultan Demak dan keluarganya merupakan ritual yang banyak dilakukan para peziarah saat berkunjung dan beribadah di Masjid Agung Demak. Di kompleks Makam Kesultanan Bintoro Demak, antara lain terdapat makam Sultan Demak pertama, yakni Raden Patah yang berkuasa 1478 – 1518, Raden Patiunus (1518-1521), dan Raden Trenggono (1521-1546), serta Putri Campa, Ibu dari Raden Patah.

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak

Umumnya peziarah datang saat menjelang Idul Adha (bulan haji), bulan Muharam (Suro) atau dalam penanggalan Jawa yaitu 12 Rabbiul Awal atau kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, tanggal 27 Rajab atau peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad Saw.

Doa dan zikir itu merupakan tradisi yang banyak dilakukan para peziarah yang datang berkunjung ke Masjid Agung Demak. Tradisi yang dikenal dengan ziarah kubur atau ngalap berkah (memohon berkat), yakni mendoakan arwah leluhur dan Sultan Demak serta keluarganya, juga memohon doa pribadi. 

Selain berziarah ke makam Raden Fatah dan keluarganya, Anda juga dapat berziarah ke makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Delanggu. Jaraknya tak jauh sekitar 3 km dari Masjid Agung Demak. dikutip dari berbagai sumber.