Untuk keempat kalinya, kota Banyuwangi diramaikan oleh lebih dari 20.000 penari dalam acara Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2014. Mengusung tema “The Mystic Dance of Seblang”, puluhan ribu anggota masyarakat setempat dan pengunjung berpakaian serba hitam tumpah di jalan-jalan utama kota menyaksikan para penari cantik berpakaian etnik Banyuwangi yang berwarna- warni.
Acara yang dimulai tepat pukul 11.00 WIB akan berakhir bersama tenggelamnya matahari di ufuk timur. Acara BEC dibuka oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas didampingi Dubes Amerika untuk Indonesia Robert O Blake, Ny Sofia Blake, Konsul Jenderal AS di Surabaya Joacquin F Monserrate, para bupati, dan wali kota dari berbagai daerah.
Semua akses jalan utama kota ditutup massa yang ikut larut dalam gerakan tari 20.000 penari tradisional. BEC merupakan peristiwa ekstravaganza yang melibatkan banyak penari dari berbagai kecamatan di kabupaten Banyuwangi. “The Mystic Dance of Seblang” terbagi atas tiga sub tema, yaitu Seblang Oleh sari yang identik dengan warna hijau, Seblang Bakungan yang identik dengan warna merah, dan Porobungkil atau hasil bumi.
Pada Seblang Olehsari, kepala para penari dihiasi daun pelepah pisang hingga menutup sebagian wajah. Pada Seblang Bakungan, pakaian warna merah menutup kepala dan sebagian wajah penari yang menenteng keris. Sedang pada Porobungkil, hasil bumi dikemas dalam pakaian modern. Tahun ini, Banyuwangi menggelar sekitar 23 event budaya untuk menarik wisatawan dan mendongkrak pendapatan masyarakat. “Banyuwangi memiliki basis kuat di bidang pertanian. Tapi, kami juga sedang mengembangkan pariwisata,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Dubes AS thanksgiving di Banyuwangi
Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake merayakan hari Thanksgiving bersama masyarakat Banyuwangi. “Saya senang melihat Banyuwangi, keindahan alam, budaya, dan terutama keramahtamahan masyarakatnya,” ujar Blake. Selama berada di Banyuwangi, Blake mengakui, dirinya melihat langsung kepemimpinan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. “Saya sudah mendengar cerita tentang pemimpin daerah yang hebat, di antaranya bupati Banyuwangi. Dalam dua hari di sini saya merasakan sendiri ketokohan bupati Banyuwangi,” ungkap Blake.
Thanksgiving dalam tradisi AS adalah hari khusus untuk mengucapkan rasa syukur. Suguhan utama dalam jamuan thanksgiving adalah ayam kalkun. Para pegawai Kedubes AS dan Konsulat Jenderal AS di Surabaya ikut menyediakan jamuan makan malam di Pendopo Bupati Banyuwangi dengan salah satu menu favorit ayam kalkun. Thanksgiving di Banyuwangi diselenggarakan atas iniasiatif Kedubes AS.
Tahun ini, Banyuwangi menggelar sekitar 23 event budaya untuk menarik wisatawan dan mendongkrak pendapatan masyarakat. “Banyuwangi memiliki basis kuat di bidang pertanian. Tapi, kami juga sedang mengembangkan pariwisata,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Tahun ini, wisman yang mengunjungi Banyuwangi mencapai 20.000, naik dari 4.000 tahun sebelumnya. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, pariwisata di Banyuwangi menjanjikan. “Tapi, sebagai menteri baru, saya masih memasukkan Banyuwangi sebagai bagian dari Bali menjadi gateway utama,” ujar putra Banyuwangi itu.
Wisman yang datang ke Indonesia tahun ini, kata Arief, sekitar 9,5 juta. Presiden Jokowi menginstruksikan Menteri Pariwisata untuk meningkatkan wisman menjadi 20 juta. Saat ini, gateway wisman di Indonesia masih didominasi tiga besar, yakni Bali 40%, Jakarta 30%, dan Batam 25%. “Ketiga destinasi ini sudah punya brand. Nanti pelan-pelan kita naikkan brand Banyuwangi,” ujar Arief.
Menanti datangnya kilau Merah Jingga di Banyuwangi
Persis di depan pantai, ada bukit yang dapat memancarkan cahaya merah. Inilah saat yang paling ditunggu-tunggu. Dua tahun lalu, nama Banyuwangi sama sekali tak pernah masuk dalam agenda wisata. Namanya kalah jauh jika dibanding Bali maupun Papua. Namun kini rasanya semua traveler ingin ke sana.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memang cukup serius menggali potensi wisata. Tak mengherankan jika wisata kabupaten di ujung Pulau Jawa itu berkembang pesat. Salah satu yang populer adalah Pantai Pulau Merah. Sejak diperkenalkan lewat ajang balap sepeda “Banyuwangi Tour De Ijen” pada akhir 2012, pantai itu selalu menjadi buah bibir. Pulau Merah dipilih menjadi nama pantai itu karena di hadapan pantai ada pulau setinggi 200 meter, mirip pantai-pantai di Brasil.
![]() |
| Pantai Pulau Merah Banyuwangi |
Dan konon pulau itu pernah memancarkan cahaya merah. Tak jelas benar dari mana asal pancaran merah itu. Namun, jika dilihat dari dekat, warna tanah dan pasir di sekitar pulau itu memang kemerah-merahan. Tapi, jika air sedang pasang di sore hari, fenomena jingga-kemerah-merahan ini akan tampak lebih indah. Saat itu bukit pulau itu disinari cahaya matahari yang mulai tenggelam.
Di samping keunikannya, pulau ini dianugerahi ombak mirip Pantai Kuta, Bali. Bedanya, ombak di Pantai Pulau Merah Banyuwangi lebih bergulung-gulung dan dapat membentuk terowongan panjang. Sudah pasti ombak jenis ini menjadi favorit para surfer, termasuk para peselancar kelas dunia pun ramai-ramai “bermain” ke Pantai Pulau Merah.
Berselancar menjadi aktivitas paling dominan di pantai ini, baik orang lokal maupun wisatawan asing. Ketinggian ombak rata-rata 2 meter dan panjang 300 meter. Berbagai manuver, termasuk teknik tubes, bisa dilakukan di pantai ini. Wajar bila pantai ini menjadi tempat kompetisi surfing internasional pada 2013 dan 2014.
Anda yang ingin mencoba belajar menunggangi ombak tidak perlu khawatir karena ombak Pantai Pulau Merah masih tergolong ramah bagi pemula. Papan selancar juga dapat Anda sewa seharian penuh dengan tarif Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Tergantung hasil negosiasi, ya. Namun, bila belum punya nyali yang cukup berani, Anda bisa bermain air dan pasir bersama kawan atau keluarga. Olahraga bola atau voli di pinggir pantai juga cukup menggembirakan. Kalau sudah bosan, silakan mengunjungi pulau kecil yang berdiri tegak di bibir pantai. Tapi pulau rimbun nan hijau itu hanya bisa dijangkau jika air laut surut.
![]() |
| Pantai Pulau Merah Banyuwangi |
Atau silakan menikmati hamparan batu karang berwarna-warni di bagian timur atau hitam-kemerah-merahan di dekat bibir pantai atau di kaki bukit Tumpang Pitu, gunung dengan kandungan emas tinggi. Sumber daya alam di bukit itu kini dikelola perusahaan swasta, yang kini banyak diprotes karena limbahnya dianggap mengotori dan merusak air laut. Semakin hari, jumlah wisatawan asing semakin banyak. Seorang teman yang baru-baru ini berkunjung tak henti-hentinya memuji Pantai Pulau Merah.
Pantai yang kini dikelola Perum Perhutani Unit II Jawa Timur itu memang sangat bersih dan terawat. Sayangnya, banyak perilaku wisatawan yang kurang ikut menjaga kebersihan. Beberapa pengunjung meninggalkan sampah, seperti bekas bungkus makanan atau botol air mineral. Beberapa petugas kebersihan yang standby biasanya akan langsung membersihkannya. Di sepanjang pantai, berjajar bangku untuk selonjoran, lengkap dengan payung lebar agar tidak kepanasan di siang hari. “Wah, pokoknya sekarang mantap, deh,” ujar teman, berseri-seri. Pantai Pulau Merah terletak agak jauh dari pusat kota, sekitar 80 kilometer ke sisi barat Banyuwangi. Jika naik kendaraan umum, seperti bus, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan.
![]() |
| Pantai Pulau Merah Banyuwangi |
Silakan menaiki Bisminto atau Ujang Jaya jurusan Pesanggaran. Dari sana, perjalanan tinggal dilanjutkan dengan menyewa ojek. Ongkosnya kira-kira Rp 20 ribu. Seandainya datang berombongan, sebaiknya menyewa mobil. Selain tak ribet berpindah-pindah angkutan, ongkos sewanya bisa dibayar secara patungan, otomatis lebih murah, dong.
Atau, kalau ingin lebih “menantang”, sewalah kendaraan roda dua alias sepeda motor. Akses jalan menuju Pantai Pulau Merah terbilang mulus, jadi tak perlu khawatir. Area parkir di pantai ini seluas 4-5 hektare, jadi buat traveler yang membawa kendaraan pribadi tak perlu takut kehabisan tempat parkir. Ongkos parkirnya Rp 5.000 untuk mobil dan Rp 2.000 untuk sepeda motor. Dikutip dari berbagai sumber.


