Sabtu, 27 Desember 2014

Kisah para wali yang unik untuk digali

Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikan mu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati.” (Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang jati, Naskah Mertasinga, Wahjoe: Pustaka, 2005

Beberapa kisah menuturkan bahwa peyebaran agama islam yang disampaikan oleh para wali kepada masyarakat punya cara dan dinamika sendiri. Mulai dakwahnya dengan cara yang unik untuk memancing keingintahuan masyarakat agar sudi untuk berangkat dan mendengarkan dakwah para wali. Napak Tilas bicara soal penyebaran Islam di Pulau Jawa, tentu tak afdal jika tak menyebut Wali Songo. Sembilan orang pilihan itu tetap berpengaruh meski telah tiada.

Para wali punya kisah unik dan menarik untuk digali

Kisah para wali yang unik untuk digali
Kisah para wali di Pulau Jawa para pendakwah Islam berjuluk Wali Songo ini tak pernah sepi pengunjung. Makam Wali Songo itu tersebar di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Satu di Jawa Barat, tiga di Jawa Tengah, dan lima di Jawa Timur. 

Dan saya sendiri  (red: sikunir.info) baru berziarah ke tempat para wali yang berada di Jawa Tengah belum berziarah ke tempat para wali yang berada di Jawa Barat dan Jawa Timur. Masih ada 6 tempat ziarah lagi yang ingin saya kunjungi. Insyaa Allah kalau tempat tersebut sudah saya kunjungi akan saya tulis disini tentang kisah para wali tersebut secara lebih detail lagi.

Berziarah ke makam Wali Songo sudah menjadi salah satu alternatif wisata religi. Bahkan, kini banyak agen wisata menawarkan wisata Wali Songo secara maraton. Anda akan diajak berkeliling Pulau Jawa sekaligus mengunjungi makam Wali Songo. Tapi, kalau Anda tak mau memakai agen wisata, jalan sendiri dengan mobil pribadi pun jadi tak masalah.

Sunan Gunung Jati

Jika Anda dari Jakarta, makam pertama yang dikunjungi sebaiknya adalah makam Sunan Gunung Jati. Lokasinya di Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara, 6 kilometer dari Kota Cirebon. Sunan Gunung Jati, yang bernama asli Syarif Hidayatullah, adalah satu-satunya wali yang memimpin pemerintahan. Dia adalah Sultan Cirebon. Dia menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon hingga ke pedalaman Pasundan. Sunan Gunung Jati kerap membangun infrastruktur untuk menghubungkan antar wilayah.

Kompleks makam Sunan Gunung Jati yang berada di Gunung Sembung memiliki 9 pintu utama yang disebut Lawang Sanga. Namun peziarah hanya boleh masuk hingga pintu ke-4. Pintu ke-5 dan seterusnya hanya boleh dimasuki oleh keturunan Sunan Gunung Jati saja. Itu pun hanya di waktu-waktu tertentu. 

Sunan Kalijaga

Dari Cirebon Utara, Anda bisa beranjak menuju Jawa Tengah untuk “bertemu” dengan makam Sunan Kalijaga. Makam wali ini terletak di pemakaman Desa Ngadilangu, Demak. Dari Masjid Agung Demak, makam dengan ornamen ukiran khas Jepara ini hanya berjarak kira-kira 3 kilometer saja. Jadi, dari makam, Anda bisa mampir ke masjid itu. Konon, sang sunan turut serta dalam perancangan masjid yang menjadi landmark Kota Demak itu. Dia juga ikut merancang Masjid Agung Cirebon. Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali yang berhasil menyebarkan Islam. Sarana dakwah yang dipilih cukup unik, yaitu melalui kesenian dan kebudayaan. Misalnya saja seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk. Tak mengherankan jika pengikut wali yang dikenal senang berpakaian serba hitam ini sangat banyak.

Sunan Kudus

Dari Demak, perjalanan dilanjutkan ke Kota Kudus, Jawa Tengah. Di kota ini terdapat makam Sunan Kudus, yang berada di area Masjid Menara Kudus. Lokasinya di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di area pemakaman ini juga terdapat makam putra Sunan Kudus, yakni Pangeran Palembang. Boleh dibilang, sunan yang bernama kecil Jaffar Shadiq ini adalah “pengikut” Sunan Kalijaga. Cara berdakwah Sunan Kudus dikenal mirip Sunan Kalijaga, namun penyampaiannya lebih halus. Dia dikenal sebagai wali yang toleran dengan budaya setempat. Salah satu bentuk toleransi Sunan Kudus antara lain mengadopsi bentuk candi saat membangun masjid.

Sunan Muria

Makam Sunan Muria adalah makam wali terakhir di Jawa Tengah. Lokasinya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, sekitar 30 kilometer ke arah utara Masjid Menara Kudus. Sunan Muria adalah anak dari pasangan Dewi Saroh binti Maulana Ishak dan Sunan Kalijaga. Tak mengherankan jika gaya berdakwahnya mirip sang ayah. Namun Sunan Muria lebih suka bergaul dengan rakyat dan menetap di daerah terpencil sambil menyebarkan Islam. Dia dikenal sebagai negosiator ulung. Nasihat dan solusi yang diberikan Sunan Muria dikenal sangat ampuh untuk menyelesaikan masalah antardua pihak yang berseteru. Berkunjung ke makam Sunan Muria tak semudah ke makam-makam lainnya. Untuk bisa sampai ke sana, pengunjung wajib menaiki 700 anak tangga. Lumayan, bukan?

Sunan Bonang

Nah, kini Anda akan memasuki makam-makam wali di wilayah Jawa Timur. Daerah pertama yang sebaiknya dituju setelah dari Kudus adalah Kota Tuban. Tepatnya di pemakaman Desa Kutorejo, Kecamatan Tuban, terdapat makam Sunan Bonang yang dikelilingi tembok dengan empat pintu gerbang besar. Makam sang wali berada di sebelah barat alunalun Kota Tuban, di sebelah barat Masjid Agung Tuban. Ada gapura besar berbentuk paduraksa yang klasik sebagai penandanya. Sunan Bonang memiliki nama asli Raden Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel dan Dewi Candrawati atau yang lebih dikenal dengan Nyai Ageng Manila. Pada masanya, Sunan Bonang dikenal sebagai penggubah karya sastra yang ulung. Cara ini pula yang dipakainya untuk menyiarkan agama Islam.

Sunan Drajat

Dari Tuban, silakan bergeser ke Lamongan. Di kota kecil ini terdapat makam Sunan Drajat. Makamnya berada di atas bukit dikelilingi pepohonan yang menghampar luas. Sunan Drajat adalah anak sulung Sunan Ampel. Dia mendapat tugas berdakwah ke pesisir Gresik dari sang ayah. Semasa hidup, sang wali dikenal bersahaja dan suka menolong. Tak mengherankan jika di pondok pesantren yang dibangunnya banyak tinggal anak-anak yatim dan fakir miskin.

Sunan Maulana Malik Ibrahim

Di Kota Gresik, Anda akan menyambangi makam Sunan Maulana Malik Ibrahim, sang wali tertua. Makamnya terletak di Kampung Gapura, Jawa Timur. Arsitektur makam Maulana Malik Ibrahim punya ciri tersendiri. Hal ini dapat Anda cermati dari bahan batu nisan dan gaya tulisan Arab. Bahan batu nisannya terbuat dari marmer dengan gaya Gujarat. Sunan Maulana Malik Ibrahim pernah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Di dalam tugasnya untuk menyebarkan agama Islam, dia juga merangkul masyarakat kasta bawah yang terkesan “disisihkan” dalam Hindu.

Sunan Giri

Perjalanan akan dilanjutkan menuju makam Sunan Giri. Wali bergelar Prabu Satmata ini dimakamkan di sebuah bukit di Dusun Kedhaton, Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik. Dalam keagamaan, dia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih.

Sunan Ampel

Perjalanan wisata religi Anda diakhiri dengan mengunjungi makam Sunan Ampel, yang terletak di Kampung Ampel di Kota Surabaya. Di depan makam terdapat dua pintu gerbang besar bergaya Eropa. Makamnya terpisah dari makam lainnya dan diberi pagar terali dari besi setinggi 110 sentimeter. Di dalam kompleks juga terdapat 2 makam murid Sunan Ampel, yakni Mbah Bolong atau Sonhaji dan Mbah Sholeh. Sunan Ampel pernah membangun dan mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula, ia merangkul masyarakat sekitarnya, lalu semakin meluas. Pertengahan abad ke-15, pesantren itu menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. (dikutip dari berbagai sumber).

Berikut ini tampilan foto yang sempat saya abadikan sewaktu saya berziarah ke tempat para wali yang berada di Jawa Tengah. Mulai dari makam wali Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga.

Kisah para wali yang unik untuk digali
Di makam Sunan Kalijaga bersama seorang Kuncen (Demak Kota Wali)


Kisah para wali yang unik untuk digali
Makam Sunan Kudus


Kisah para wali yang unik untuk digali
Makam Sunan Muria


Kisah para wali yang unik untuk digali
Gentong Air Sunan Muria


Kisah para wali yang unik untuk digali
Gentong Air Sunan Kalijaga (Demak Kota Wali)

Selasa, 16 Desember 2014

Wisata gerhana matahari 2016 di Indonesia

Gerhana Matahari total bakal terjadi di Indonesia tepatnya nanti pada tanggal 9 Maret 2016. Memang kejadiannya masih lama lagi yakni masih sekitar 18 bulan lagi. Walaupun masih 1 1/2 tahun lagi, tetapi Indonesia diharapkan mampu menjual wisata fenomena alam ini agar berbenah semenjak dini. Bersiap-siap untuk "menjual" gerhana, menyulap fenomena tersebut menjadi uang dengan menggaet wisatawan ke Tanah Air.

Di Indonesia, gerhana Matahari total 2016 sangat istimewa sekali. Sejumlah wilayah di tanah air, seperti Bengkulu, Palangkaraya, Palu, dan Ternate, menjadi titik terbaik untuk melihat salah satu fenomena alam ini mengamati gerhana matahari tersebut.

Bulan akan berada persis di muka Matahari membuat bintang berjarak 150 juta kilometer dari Bumi. Akibat posisi tersebut, akan tercipta wilayah di Bumi yang benar-benar tak bisa melihat Matahari selama beberapa menit. Wilayah itu dikatakan masuk dalam bayangan inti (umbra). Di sana akan terjadi gerhana Matahari total.

Sementara itu, akan ada wilayah lain pula yang masih akan bisa melihat Matahari tetapi dalam bentuk yang tidak sempurna, cuil. Wilayah itu dinyatakan penumbra. Di sana bakal terjadi gerhana Matahari sebagian.

Secara teoretis, akan ada 13 fenomena gerhana yang terjadi tiap tahun. Namun, karena orbit Bumi, tidak semua gerhana itu bisa dilihat. Hanya dua yang berpotensi untuk diamati. Untuk mengamati dua gerhana itu, tantangannya juga besar. Misalnya terkait lokasi. Wilayah di mana puncak gerhana terjadi berada di tengah lautan sehingga pengamatannya sulit dilakukan.

Wisata gerhana matahari 2016 di Indonesia
Wisata gerhana matahari 2016 di Indonesia 


Kesulitan lain, gerhana kadang terjadi saat fajar atau senja. Ketinggian Matahari yang masih rendah membuat fenomena totalitas gerhana sulit dilihat. Terakhir, tantangannya adalah cuaca yang tak menentu.

Indonesia menjadi tempat istimewa untuk mengamati gerhana tahun 2016 karena, berdasarkan analisis Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), kota-kota Indonesia bisa melihat gerhana Matahari total ketika sang surya sudah berada pada ketinggian cukup.

Wilayah yang paling banyak dilirik untuk pengamatan gerhana 2016 adalah Palu. Data statistik sejak tahun 2007 menunjukkan, tutupan awan di wilayah palu lebih kecil dari Sumatera dan Kalimantan. "Mungkin karena itu Palu banyak diminati," kata Mahasena.

Di samping itu, Palu juga menjadi salah satu wilayah dengan durasi totalitas terlama di dunia, sepanjang 2 menit 50 detik. Wilayah lain adalah laut sebelah timur Palu yang bisa mengalami "menit tanpa Matahari" sepanjang 2 menit 53 detik.

NASA Waktu penampakan gerhana Matahari total di Palu, 9 Maret 2016. Garis biru adalah batas wilayah yang bisa menikmati totalitas gerhana.

Gerhana yang selalu menjadi magnet bagi publik maupun astronom berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sarana meraup devisa dari pariwisata. Di Indonesia, fenomena ini takkan terulang dalam 40 tahun ke depan.

Dalam Seminar Nasional "Discover Indonesia's Solar Eclipse 2016", Selasa (16/12/2014), Pacific Asia Travel Association (PATA), pemerintah daerah Palu, perwakilan hotel, serta perwakilan PT Pelni membahas sejumlah kemungkinan menguangkan fenomena gerhana itu.

Poernomo Siswoprasetijo, CEO PATA Indonesia Chapter, mengungkapkan kemungkinan untuk mengembangkan aktivitas wisata terkait gerhana. "Seperti, pemecahan rekor saat gerhana, jazz route to gerhana, kerja sama dengan travel agent," katanya.

PATA dan sejumlah pemangku kepentingan akan menggodo lagi paket dan aktivitas yang bisa dikembangkan. Menurut Poernomo, fenomena gerhana 2016 adalah ajang untuk memperkenalkan destinasi wisata di daerah. 

Andi Mulhanan, Wakil Wali Kota Palu, menganggap gerhana Matahari 2016 sebagai ajang untuk memperkenalkan destinasi wisata daerah. "Seperti Palu ini daerah yang unik sebenarnya, tetapi belum banyak travel agent yang menjual," ungkapnya.

Menurut Andi, sejumlah paket wisata sebelum dan sesudah gerhana bisa dikembangkan oleh para agen perjalanan. "Banyak sekali obyek wisata yang bisa dikaitkan dengan gerhana," ujarnya.

Ia mencontohnya, paket wisata ke situs megalitikum di Lore Lindu dan menyelam di Teluk Tomini bisa digarap. "Di Teluk Tomini, ada karang-karang berbentuk terompet. Kalau di Raja Ampoat kita hanya bisa melihat, di sini kita bisa masuk," jelasnya.

Bambang Nugraha, Sekretaris Dinas Pariwisata Palu, mengungkapkan, Palu saat ini akan siap-siap untuk menyambut gerhana 2016. Pihaknya akan bekerja sama dengan hotel untuk meningkatkan pelayanan.
"Sudah ada lima hotel besar yang siap menampung. Kita juga akan ajak hotel kelas melati untuk meningkatkan layanannya. Minimal kamar nyaman, aman, dan ada koneksi internet," ungkapnya. 
Saat ini, pada tanggal terjadinya gerhana, sejumlah hotel telah dipesan. Wisatawan dari Jepang telah memesan 55 kamar, Amerika Serikat 260 kamar, dan Inggris 75 - 100 kamar.

Untuk tempat pengamatan gerhana, terdapat wilayah Bumbasa dan sepanjang teluk Kota Palu yang bisa dimanfaatkan. Bambang akan menyiapkan tempat itu agar bisa menampung wisatawan dalam jumlah lebih besar.

Mahasena mengungkapkan, potensi wisata gerhana benar-benar perlu ditangkap. Saat ini, sudah ada beberapa agen perjalanan yang menggarap paket wisata gerhana Matahari total 2016. "Tapi belum ada yang berasal dari Indonesia," katanya.

Salah satu tur digelar dengan Holland America Line's Volendam bersama tim dari majalah Sky & Telecope. Tur dengan durasi waktu dari 1- 17 Maret 2016 itu dibanderol dengan harga antara 1.999 - 9.499 dollar AS.

Minggu, 07 Desember 2014

Pendapatan miliaran rupiah rumah makan sunda

Omset pendapatan rumah makan Sunda bisa mencapai miliaran rupiah per bulan. Rumah makan Sunda ini pasar nya menjangkau jutaan kelas menengah di Indonesia. Diukur dengan cara apa pun, rumah makan di dekat kawasan permukiman elite Puri Indah yang baru dibuka pekan lalu itu sangat besar. 

Lahannya sekitar empat kali lapangan sepak bola. Mobil bisa parkir dengan lega, tak perlu berdesak-desakan, di bawah rindang pohonpohon di sekeliling bangunan. Ada kolam ikan dengan saung-saung mengelilinginya. Rumah makan besar dengan pasar menengah ke atas itu adalah cabang ketiga Talaga Sampireun, jaringan restoran Sunda yang mulai beroperasi empat tahun silam di Bintaro dan kemudian membuka cabang di Ancol.

Karena baru beroperasi, belum terlihat berapa pemasukan rumah makan ini. Tapi pemasukan cabang sebelumnya mencapai Rp 2 miliar per bulan. “Yang Ancol malah Rp 2,5 miliar,” ucap Carnelisia Valia, Manajer Pengembangan Bisnis PT Jaya Pangan Lestari, pemilik rumah makan. 

Angka yang dipaparkan Talaga Sampireun memperlihatkan bahwa pemasukan restoran masakan Sunda ini cukup menjanjikan. Tak mengherankan jika sejumlah pemain baru masakan penuh sayuran segar ini bertambah dengan cepat. Kebanyakan hanya mengoperasikan satu rumah makan. Tapi beberapa lagi bisa membuka banyak cabang.

Beberapa nama terkenal, seperti warung makan Ampera, di Jakarta saja memiliki delapan kedai. Padahal, di kota-kota Jawa Barat, rumah makan ini juga memiliki cabang, termasuk di kota kecil, seperti Sumedang atau Ciamis. Nama lain yang juga populer adalah Asep Stroberi. Meski tidak memiliki cabang di Jakarta, rumah makan milik Asep Husnah ini sudah memiliki 9 cabang di sekitar Garut, Bandung, dan Tasikmalaya.

Pendapatan miliaran rupiah rumah makan sunda
Pendapatan miliaran rupiah rumah makan sunda 


Rumah makan Sunda incar pasar menengah atas

Meski “warung Sunda” sudah ada dari zaman dulu, booming rumah makan Sunda yang mengincar pasar menengah atas, seperti Ampera, Mang Kabayan, atau Talaga Sampireun, baru terjadi 10-15 tahun terakhir. Salah satu yang memperkenalkan restoran Sunda di Jakarta dan sekitarnya, bisa jadi, adalah warung makan Ampera. Awalnya Ampera didirikan puluhan tahun silam di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, oleh Tatang Sudjani.

Pada 2002, salah satu kerabat Tatang, Samsul Hardin, mencoba membuka cabang di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. “Waktu itu di Jakarta belum banyak restoran Sunda,” kata pemilik jaringan rumah makan Ampera, Eka Kosasih. Tapi, karena lokasi kurang strategis, cabang ini dipindah ke Jalan Ahmad Dahlan. “Barulah Ampera mengalami kemajuan pesat,” ucapnya. Pakar kuliner William Wongso mengatakan salah satu kelebihan makanan Sunda sehingga bisa diterima pasar, termasuk kalangan bukan orang Sunda adalah konsepnya yang netral. “Karena ada sambal dan sambalnya itu diminati siapa saja, tua atau muda, dan orang Indonesia dari daerah mana saja bahkan orang Malaysia suka makanan Sunda,” ucapnya.

Dan masakan Sunda ini bisa “naik kelas” dengan rumah makan yang mengincar kelas menengah atas karena pasarnya sekarang potensial. Ia memperkirakan ada 40 juta orang kelas menengah Indonesia. Dari jumlah itu, hanya 1-2 persen saja yang suka makanan Barat. “Sisanya adalah kelas menengah yang masih sangat menyukai masakan tradisional Nusantara,” katanya. Mereka ini pasar restoran Sunda. Banyaknya kelas menengah inilah yang membuat Talaga Sampireun bisa meraup pendapatan miliaran rupiah per bulan dari satu gerai saja. Faktor lain yang memajukan bisnis mereka adalah sistem manajemen rumah makan modern yang digunakan Talaga Sampireun.

Mereka bahkan memiliki tim koki yang bertugas mencari menu-menu baru, semacam jengkol crispy, yang mereka tawarkan sekarang. Koki ini mereka ambil dari sejumlah rumah makan lain dan, menurut mereka, tidak terlalu susah. “Karena, biasanya untuk key person di restoran ini orangnya berputarputar di situ-situ saja,” kata Carnelisia. “Apalagi untuk masakan Nusantara.” Untuk mencapai pendapatan setinggi itu, modalnya lumayan besar. Carnelisia, misalnya, memang tidak mengetahui pasti berapa perusahaan tempatnya bekerja menanam uang di tiap rumah makan yang masing-masing memiliki kapasitas setidaknya 600 orang. Tapi ia memperkirakan biaya satu rumah makan itu hampir Rp 10 miliar.

Investasi rumah makan Sunda bisa mencapai 1,5 Milyar

Hitung-hitungan investasi mungkin bisa diketahui dari rumah makan Mang Kabayan. Sardiatmo, Manajer Pemasaran PT Sumber Pangan Lestari pemilik merek Mang Kabayan mengatakan biaya penataan ruang dan peralatan dengan ukuran di bawah 1.000 meter mencapai Rp 1,5 miliar. Jika ukurannya bertambah, biaya bisa berlipat. Mang Kabayan awalnya dari rumah makan di Cirebon yang berdiri pada 1996. Sekarang Mang Kabayan memiliki enam cabang dengan total karyawan sekitar 200 orang. Agar ada standar rasa, bumbunya diolah di satu tempat dan dibagikan ke cabang-cabang.

Mang Kabayan enggan membuka rahasia dapur pendapatannya. Yang jelas, ukuran rumah makannya tidak sebesar Talaga Sampireun. Sedangkan pendapatan rumah makan Asep Stroberi tidak mencapai miliaran rupiah. Tapi ini rumah makan di daerah, bukan di Jakarta, jadi tetap saja terhitung besar. “Rata-rata ya sekitar Rp 500 juta sebulan (per cabang),” ucap Zikri Nuzrin, Manajer Operasional Asep Stroberi.

Restoran Asep Stroberi belum mengandalkan tenaga profesional. Sejak didirikan dengan modal Rp 15 juta oleh Asep Husnah pada 2005 sampai sekarang, Asep Stroberi mengandalkan warga sekitar dan kerabat sebagai karyawan, termasuk koki. Tapi sekarang mereka mulai memodernisasi sistemnya, setidaknya dari perekrutan karyawan. “Sejak kami punya 9 gerai, kami mencari profesional untuk posisi juru masak dan manajer unit,” ucap Zikri. Dikutip dari berbagai sumber.

Senin, 01 Desember 2014

Dubes AS merayakan thanksgiving bersama masyarakat Banyuwangi

Untuk keempat kalinya, kota Banyuwangi diramaikan oleh lebih dari 20.000 penari dalam acara Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2014. Mengusung tema “The Mystic Dance of Seblang”, puluhan ribu anggota masyarakat setempat dan pengunjung berpakaian serba hitam tumpah di jalan-jalan utama kota menyaksikan para penari cantik berpakaian etnik Banyuwangi yang berwarna- warni.

Acara yang dimulai tepat pukul 11.00 WIB akan berakhir bersama tenggelamnya matahari di ufuk timur. Acara BEC dibuka oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas didampingi Dubes Amerika untuk Indonesia Robert O Blake, Ny Sofia Blake, Konsul Jenderal AS di Surabaya Joacquin F Monserrate, para bupati, dan wali kota dari berbagai daerah. 

Semua akses jalan utama kota ditutup massa yang ikut larut dalam gerakan tari 20.000 penari tradisional. BEC merupakan peristiwa ekstravaganza yang melibatkan banyak penari dari berbagai kecamatan di kabupaten Banyuwangi. “The Mystic Dance of Seblang” terbagi atas tiga sub tema, yaitu Seblang Oleh sari yang identik dengan warna hijau, Seblang Bakungan yang identik dengan warna merah, dan Porobungkil atau hasil bumi.

Pada Seblang Olehsari, kepala para penari dihiasi daun pelepah pisang hingga menutup sebagian wajah. Pada Seblang Bakungan, pakaian warna merah menutup kepala dan sebagian wajah penari yang menenteng keris. Sedang pada Porobungkil, hasil bumi dikemas dalam pakaian modern. Tahun ini, Banyuwangi menggelar sekitar 23 event budaya untuk menarik wisatawan dan mendongkrak pendapatan masyarakat. “Banyuwangi memiliki basis kuat di bidang pertanian. Tapi, kami juga sedang mengembangkan pariwisata,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.


Dubes AS thanksgiving di Banyuwangi

Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake merayakan hari Thanksgiving bersama masyarakat Banyuwangi. “Saya senang melihat Banyuwangi, keindahan alam, budaya, dan terutama keramahtamahan masyarakatnya,” ujar Blake. Selama berada di Banyuwangi, Blake mengakui, dirinya melihat langsung kepemimpinan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. “Saya sudah mendengar cerita tentang pemimpin daerah yang hebat, di antaranya bupati Banyuwangi. Dalam dua hari di sini saya merasakan sendiri ketokohan bupati Banyuwangi,” ungkap Blake.

Thanksgiving dalam tradisi AS adalah hari khusus untuk mengucapkan rasa syukur. Suguhan utama dalam jamuan thanksgiving adalah ayam kalkun. Para pegawai Kedubes AS dan Konsulat Jenderal AS di Surabaya ikut menyediakan jamuan makan malam di Pendopo Bupati Banyuwangi dengan salah satu menu favorit ayam kalkun. Thanksgiving di Banyuwangi diselenggarakan atas iniasiatif Kedubes AS.

Tahun ini, Banyuwangi menggelar sekitar 23 event budaya untuk menarik wisatawan dan mendongkrak pendapatan masyarakat. “Banyuwangi memiliki basis kuat di bidang pertanian. Tapi, kami juga sedang mengembangkan pariwisata,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Tahun ini, wisman yang mengunjungi Banyuwangi mencapai 20.000, naik dari 4.000 tahun sebelumnya. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, pariwisata di Banyuwangi menjanjikan. “Tapi, sebagai menteri baru, saya masih memasukkan Banyuwangi sebagai bagian dari Bali menjadi gateway utama,” ujar putra Banyuwangi itu.

Wisman yang datang ke Indonesia tahun ini, kata Arief, sekitar 9,5 juta. Presiden Jokowi menginstruksikan Menteri Pariwisata untuk meningkatkan wisman menjadi 20 juta. Saat ini, gateway wisman di Indonesia masih didominasi tiga besar, yakni Bali 40%, Jakarta 30%, dan Batam 25%. “Ketiga destinasi ini sudah punya brand. Nanti pelan-pelan kita naikkan brand Banyuwangi,” ujar Arief.


Menanti datangnya kilau Merah Jingga di Banyuwangi

Persis di depan pantai, ada bukit yang dapat memancarkan cahaya merah. Inilah saat yang paling ditunggu-tunggu. Dua tahun lalu, nama Banyuwangi sama sekali tak pernah masuk dalam agenda wisata. Namanya kalah jauh jika dibanding Bali maupun Papua. Namun kini rasanya semua traveler ingin ke sana.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memang cukup serius menggali potensi wisata. Tak mengherankan jika wisata kabupaten di ujung Pulau Jawa itu berkembang pesat. Salah satu yang populer adalah Pantai Pulau Merah. Sejak diperkenalkan lewat ajang balap sepeda “Banyuwangi Tour De Ijen” pada akhir 2012, pantai itu selalu menjadi buah bibir. Pulau Merah dipilih menjadi nama pantai itu karena di hadapan pantai ada pulau setinggi 200 meter, mirip pantai-pantai di Brasil.

Pantai Pulau Merah Banyuwangi
Pantai Pulau Merah Banyuwangi


Dan konon pulau itu pernah memancarkan cahaya merah. Tak jelas benar dari mana asal pancaran merah itu. Namun, jika dilihat dari dekat, warna tanah dan pasir di sekitar pulau itu memang kemerah-merahan. Tapi, jika air sedang pasang di sore hari, fenomena jingga-kemerah-merahan ini akan tampak lebih indah. Saat itu bukit pulau itu disinari cahaya matahari yang mulai tenggelam. 

Di samping keunikannya, pulau ini dianugerahi ombak mirip Pantai Kuta, Bali. Bedanya, ombak di Pantai Pulau Merah Banyuwangi lebih bergulung-gulung dan dapat membentuk terowongan panjang. Sudah pasti ombak jenis ini menjadi favorit para surfer, termasuk para peselancar kelas dunia pun ramai-ramai “bermain” ke Pantai Pulau Merah.

Berselancar menjadi aktivitas paling dominan di pantai ini, baik orang lokal maupun wisatawan asing. Ketinggian ombak rata-rata 2 meter dan panjang 300 meter. Berbagai manuver, termasuk teknik tubes, bisa dilakukan di pantai ini. Wajar bila pantai ini menjadi tempat kompetisi surfing internasional pada 2013 dan 2014. 

Anda yang ingin mencoba belajar menunggangi ombak tidak perlu khawatir karena ombak Pantai Pulau Merah masih tergolong ramah bagi pemula. Papan selancar juga dapat Anda sewa seharian penuh dengan tarif Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Tergantung hasil negosiasi, ya. Namun, bila belum punya nyali yang cukup berani, Anda bisa bermain air dan pasir bersama kawan atau keluarga. Olahraga bola atau voli di pinggir pantai juga cukup menggembirakan. Kalau sudah bosan, silakan mengunjungi pulau kecil yang berdiri tegak di bibir pantai. Tapi pulau rimbun nan hijau itu hanya bisa dijangkau jika air laut surut.

Pantai Pulau Merah Banyuwangi
Pantai Pulau Merah Banyuwangi


Atau silakan menikmati hamparan batu karang berwarna-warni di bagian timur atau hitam-kemerah-merahan di dekat bibir pantai atau di kaki bukit Tumpang Pitu, gunung dengan kandungan emas tinggi. Sumber daya alam di bukit itu kini dikelola perusahaan swasta, yang kini banyak diprotes karena limbahnya dianggap mengotori dan merusak air laut. Semakin hari, jumlah wisatawan asing semakin banyak. Seorang teman yang baru-baru ini berkunjung tak henti-hentinya memuji Pantai Pulau Merah.

Pantai yang kini dikelola Perum Perhutani Unit II Jawa Timur itu memang sangat bersih dan terawat. Sayangnya, banyak perilaku wisatawan yang kurang ikut menjaga kebersihan. Beberapa pengunjung meninggalkan sampah, seperti bekas bungkus makanan atau botol air mineral. Beberapa petugas kebersihan yang standby biasanya akan langsung membersihkannya. Di sepanjang pantai, berjajar bangku untuk selonjoran, lengkap dengan payung lebar agar tidak kepanasan di siang hari. “Wah, pokoknya sekarang mantap, deh,” ujar teman, berseri-seri. Pantai Pulau Merah terletak agak jauh dari pusat kota, sekitar 80 kilometer ke sisi barat Banyuwangi. Jika naik kendaraan umum, seperti bus, kira-kira membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan.

Pantai Pulau Merah Banyuwangi
Pantai Pulau Merah Banyuwangi


Silakan menaiki Bisminto atau Ujang Jaya jurusan Pesanggaran. Dari sana, perjalanan tinggal dilanjutkan dengan menyewa ojek. Ongkosnya kira-kira Rp 20 ribu. Seandainya datang berombongan, sebaiknya menyewa mobil. Selain tak ribet berpindah-pindah angkutan, ongkos sewanya bisa dibayar secara patungan, otomatis lebih murah, dong.

Atau, kalau ingin lebih “menantang”, sewalah kendaraan roda dua alias sepeda motor. Akses jalan menuju Pantai Pulau Merah terbilang mulus, jadi tak perlu khawatir. Area parkir di pantai ini seluas 4-5 hektare, jadi buat traveler yang membawa kendaraan pribadi tak perlu takut kehabisan tempat parkir. Ongkos parkirnya Rp 5.000 untuk mobil dan Rp 2.000 untuk sepeda motor. Dikutip dari berbagai sumber.