Jumat, 27 Juni 2014

Legenda dan Budaya Danau Sentani

Tak hanya menjanjikan keindahan alam, tetapi juga budaya yang unik. Sayang, untuk ke sana, butuh biaya yang tak murah. Kali ini sikunir info akan berbagi cerita tentang Legenda dan Budaya Danau Sentani. Bicara soal kecantikan Papua rasanya tak ada habisnya. Pulau paling timur di Indonesia itu kini makin sering dilirik para traveler, baik dari dalam maupun luar negeri.

Salah satu daya tarik Papua adalah Danau Sentani. Danau seluas 9.360 hektare ini terletak di ketinggian 75 meter di atas permukaan laut dan dipagari Pegunungan Cycloop. Ada 22 pulau kecil yang tersebar di seluruh danau. Danau Sentani sering dijadikan titik awal untuk memahami budaya Papua. Ada 24 kampung di sekitar danau, yang masing-masing mempunyai adat berbeda. Dialek bahasa yang digunakan juga berbeda antara satu desa dan desa lainnya.

Legenda dan Budaya Danau Sentani
Legenda dan Budaya Danau Sentani

Namun ada benang merah yang menyatukan budaya desa-desa adat di Danau Sentani: kepercayaan ritual. Isolo, misalnya, adalah sebuah upacara yang menyatukan perbedaan budaya 24 desa itu. Upacara tersebut kini menjadi bagian dari Festival Danau Sentani, yang biasa digelar setiap bulan Juni. Festival tahunan yang diramaikan berbagai tarian dan peragaan budaya dari suku-suku di seluruh Papua ini kini menjadi daya tarik utama Danau Sentani juga menyimpan legenda. 

Legenda dan Budaya Danau Sentani
Legenda dan Budaya Danau Sentani

Masyarakat setempat percaya nenek moyang mereka berasal dari Papua Nugini, orang-orang itu datang dengan menaiki naga. Namun, saat tiba di Danau Sentani, si naga mati. Para penunggangnya selamat. Mereka lantas tinggal dan membangun peradaban di sekitar danau, yang terus bertahan hingga sekarang.

Sosok naga dalam legenda itu memang agak membingungkan. Sebab, berdasarkan berbagai literatur, Papua bebas dari pengaruh Cina, apalagi Hindu. Tapi, namanya juga legenda, tak harus dibuktikan kebenarannya, to.

Legenda dan Budaya Danau Sentani
Legenda dan Budaya Danau Sentani

Danau Sentani juga menyimpan sejarah Indonesia modern. Sisa-sisa Perang Dunia II tersebar di sekitar danau ini, seperti markas komando penting selama perang. Di salah satu bukit di Gunung Ifar bahkan dibangun sebuah monumen demi mengenang jejak Jenderal McArthur saat Perang Dunia II. Dari monumen ini Anda bisa menikmati pemandangan yang spektakuler.

Ingin menyusuri Danau Sentani? Anda bisa mengikuti Sentani Lake Tour, yang berangkat dari Dermaga Kalkhote. Menggunakan kapal pesiar berukuran mini, Anda akan diajak berkeliling danau, menikmati keindahan dan mengagumi desa-desa adat yang tersebar di sekitar danau. Salah satu yang menarik adalah desa adat terapung, Desa Ayapo, yang berpenduduk sekitar 700 orang. Rumah-rumah dari kayu berjejer sepanjang 2 kilometer. Dinding dan tiangnya terbuat dari batang kelapa. Dulu atap rumah terbuat dari daun sagu, tapi sekarang sebagian diganti menggunakan seng. Semua rumah menghadap ke danau. Ini merupakan cara penduduk setempat menghormati danau yang dipercaya sebagai pusat kehidupan tersebut.

Sepintas rumah-rumah itu terlihat rapuh. Namun sesungguhnya bangunan itu kuat. Konon, kayu sua, begitu orang lokal menyebutnya, akan semakin awet jika terkena air. Kayu kelapa juga digunakan untuk fondasi jembatan terapung yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Akan menjadi pengalaman menyenangkan jika bisa tinggal beberapa saat di desa itu. Sedangkan Desa Taturi, yang terletak di sebuah bukit kecil di tepi danau, memiliki tradisi lukisan batu. 

Desa lain yang juga memiliki seni lukisan batu dan menawarkan pemandangan indah adalah Doyo Lama. Anda juga bisa mengunjungi Pulau Asei, yang menjadi “rumah” para seniman setempat. Pulau Asei dikenal dengan kain kulit kayunya yang bermotif indah dan unik. Kain kulit kayu adalah pakaian tradisional perempuan Sentani, yang kebanyakan bekerja sebagai penangkap ikan. Motif spiral pada kain melambangkan kehidupan di Danau Sentani, seperti buaya serta ikan gergaji. Ada juga motif campuran yang juga dimiliki suku Asmat, seperti bipane.

Tempat Menginap
Masyarakat Danau Sentani kini sudah sangat sadar akan potensi wisata desa mereka. Mereka sangat ramah kepada wisatawan yang datang. Hampir setiap rumah menyediakan tempat khusus untuk wisatawan. Dan untuk menginap di home stay ini, tarifnya cukup terjangkau. Kalau ingin menginap di hotel, ada beberapa hotel yang cukup bagus. Yang paling besar adalah Travelers Hotel. Hotel bintang empat yang tak jauh dari Danau Sentani ini menyediakan berbagai fasilitas, seperti televisi, AC, dan free Wi- Fi. Tarifnya mulai Rp 1 jutaan per malam, termasuk sarapan.

Jika ingin yang lebih murah, ada Sentani Indah Hotel. Hotel bintang tiga ini mengenakan tarif mulai Rp 500 ribuan per malam, sudah termasuk makan pagi. Ingin yang sederhana tapi tetap nyaman, ada Ratna Indah Hotel. Tarifnya sekitar Rp 250 ribu per malam. Selain itu, ada belasan hotel melati dengan tarif mulai Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Jadi pilih yang sesuai dengan bujet dan kebutuhan Anda.

Akses ke Danau Sentani sama sekali tidak susah. Danau ini tak jauh dari Bandara Sentani, yang merupakan gerbang utama Papua. Dari bandara hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke Danau Sentani, sementara jika ke Jayapura memakan waktu hingga satu jam. Karena itu, saat transit, orang lebih suka menginap di Sentani daripada di Jayapura. 

Akses ke danau Sentani
Akses ke danau Sentani

Dari bandara tersedia banyak angkutan umum ke Danau Sentani. Anda bisa menyewa mobil atau taksi. Namun, sebelum naik, pastikan sudah ada kesepakatan tarif karena harga yang ditentukan sangat beragam. Wisatawan lokal yang berkunjung ke Papua memang masih terbatas. Bukan lantaran kurang minat, tapi lebih karena faktor biaya yang setinggi langit. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah setempat agar potensi wisata di Papua bisa dimanfaatkan optimal. Selamat bertualang...!