Jumat, 27 Juni 2014

Jalan Panjang ke Wae Rebo

Perlu niat ekstra untuk berkunjung ke Wae Rebo. Tak cuma biaya, tapi juga tenaga. Orang asing saja berkunjung, masak kita tidak? Sikunir info akan berbagi cerita tentang Jalan Panjang ke Wae Rebo ini. Berwisata ke Wae Rebo, desa adat tradisional di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, memang tak semudah pergi ke Bali atau Yogyakarta. Informasi ini dikutif sikunir info dari majalah detik.

Tau tidak bahwa ongkos untuk menuju ke Wae Rebo ongkosnya bisa lebih mahal dibanding berwisata ke Malaysia atau Singapura. Kalau sedang ada promo, harga tiket pesawat ke dua negara tetangga itu tak sampai Rp 400 ribu sekali jalan. Dan kurang dari dua jam kita sudah sampai ke tujuan.

Ceritanya tak semudah itu. Untuk mencapai desa adat berusia hampir 500 tahun itu, wisatawan dari Jakarta harus terlebih dulu ke Denpasar atau Kupang. Penerbangan Jakarta-Denpasar butuh waktu sekitar 90 menit. Harga tiketnya rata-rata Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta.

Dari Bali, penerbangan dilanjutkan dengan pesawat kecil menuju Bandara Komodo di Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Sehari ada enam kali penerbangan dari Denpasar ke Labuan Bajo. Penerbangan Denpasar-Labuan Bajo memakan waktu sekitar 100 menit. Sedangkan dari Kupang hanya ada dua kali penerbangan ke Labuan Bajo.

Jalan Panjang ke Wae Rebo
Jalan Panjang ke Wae Rebo

Dari Labuan Bajo, perjalanan lantas dilanjutkan ke Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, kota terdekat dari Wae Rebo. Tersedia mobil sewaan, yang dalam bahasa setempat disebut oto. Tarifnya Rp 30 ribu per orang. Sebenarnya jarak Labuan Bajo-Ruteng tidak terlalu jauh. Tapi, karena topografi Pulau Flores yang bergunung-gunung, perjalanan darat itu menghabiskan waktu lebih dari lima jam. Tapi, tenang, di sepanjang perjalanan banyak pemandangan indah.

Pesona Cagar Alam Ruteng, yang dilewati saat menuju ke Ruteng, membuat perjalanan panjang ini sama sekali tak membosankan. Gunung-gunung hijau bersaput kabut putih sungguh menyejukkan mata. Setelah ini jalanan menurun, sehingga mata kembali disuguhi indahnya pantai di Pulau Flores.

Jalan Panjang ke Wae Rebo
Jalan Panjang ke Wae Rebo

Pantai ini sangat indah, dengan air yang biru jernih dan batu-batu hitam yang tersebar di sepanjang pantai. Kami singgah sebentar untuk melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan. Ingin rasanya berlama-lama, tapi kami tak mau terlena. Pasalnya, tak jauh dari Pantai Dintor, ada pemandangan yang tak kalah indah: pulau karang setinggi 500 meter bernama Pulau Mules. Mata saya enggan berkedip saat memandang lahan pertanian terasering yang memanjang dari Kampung Dintor hingga Denge. Tak kalah indah ketimbang yang ada di Bali. Dari Ruteng, perjalanan masih harus dilanjutkan ke Kampung Denge, desa terdekat sekaligus pintu gerbang desa adat Wae Rebo.

Jalan Panjang ke Wae Rebo
Pantai Dintor
Ada dua pilihan, naik sepeda motor atau mobil. Dua-duanya butuh waktu sekitar empat jam. Jadi, jika memang merasa lelah, cobalah beristirahat karena perjalanan masih panjang. Dari Denge, jalanan benar-benar tak bisa dilalui moda transportasi apa pun. Jarak sekitar 9 kilometer itu pun harus ditempuh dengan berjalan kaki. Sebenarnya ada jasa tandu yang disediakan warga setempat untuk pengunjung yang tak kuat berjalan. Tapi jumlahnya terbatas, sehingga tidak semua pengunjung bisa menggunakan jasa ini. “Prinsipnya, siapa saja yang sudah berniat naik ke Wae Rebo harus sampai, tidak boleh kembali. Karena itu, ada jasa ini,” ujar Fransiskus Mudir, Ketua Lembaga Pelestarian Adat Wae Rebo.

Lorong Kopi
Etape pertama menuju Wae Rebo ditempuh sekitar satu jam. Awalnya, trek yang dilalui lumayan datar dan tidak terlalu licin. Di kanan-kiri jalan hijau oleh kebun cengkeh, kelapa, dan kakao. Tapi lama-lama jalanan berubah jadi menanjak, dengan jurang di sisinya.

Jalan Panjang ke Wae Rebo
Total butuh waktu kurang-lebih empat jam untuk sampai ke Wae Rebo. Terengah saya saat mencapai tepi desa. Rasa lelah setelah perjalanan panjang ini sirna saat mata melihat atap-atap rumah berbentuk kerucut berwarna hitam. Ya, itulah rumah adat warga Wae Rebo. Tapi kami masih harus menyusuri jalan setapak yang menurun, dengan pohon kopi di kanan-kirinya. “Lorong” kebun kopi inilah yang mengantar kami ke Wae Rebo.

Warga di desa adat ini punya cara unik dalam menyambut tamu. Ritual itu dinamakan curu, semacam upacara selamat datang. Setelah itu, masih ada kappu, upacara menerima tamu di rumah adat utama, yakni mbaru niang tembong. Kappu ditandai dengan pemberian ayam putih jantan dan tuak. Ayam putih menyimbolkan keikhlasan hati dan kekeluargaan. Sedangkan tuak menyimbolkan rasa senang warga Wae Rebo menerima tamu, sekaligus hidangan penghilang lelah.Tamu diwajibkan memberikan sejumlah uang sebagai simbol doa untuk arwah para leluhur kampung. “Sudah ada seribuan wisatawan asing ke sini, tapi dari Indonesia baru puluhan,” ujar Yosep Katop, Sekretaris Lembaga Pelestarian Adat Wae Rebo. Hmm, berminat menyisihkan uang dan tenaga untuk menyambangi Wae Rebo?