INDONESIA tak cuma punya pantai, gunung, dan panorama yang indah. Ada tempat-tempat religius sekaligus mistis untuk melacak peradaban yang pernah ada. Salah satunya Museum Dieng Kailasa. Lokasi nya ada di dataran tinggi Dieng. Di tempat ini, pengunjung bisa leluasa belajar soal peradaban Hindu Jawa kuno, yang eksis pada abad ke-7 dan ke-8.
Dari 19 candi di dataran tinggi Dieng, hanya 8 yang masih berdiri. Sejarahnya ada di museum kailasa. Jadi, bukan cuma pemandangan indah sekaligus suhu dingin, Dieng juga menawarkan sejarah perkembangan agama di Indonesia, khususnya agama Hindu.
Museum Kailasa terletak di kompleks gedung Arca Senyawa, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Tempat ini dimiliki dan dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah.
Museum yang buka setiap hari pada pukul 07.00-16.00 WIB ini menyimpan segala hal yang berkaitan dengan Dieng, mulai sejarah, catatan kehidupan masyarakat, sampai gaya hidup.
![]() |
| Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng |
Berdiri di atas lahan seluas 560 meter persegi, museum terdiri atas dua bangunan. Bangunan di sisi depan merupakan bangunan yang pertama dibuat, pada 1984. Bangunan ini menyimpan berbagai benda yang berhubungan dengan candi yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng. Tak aneh jika pengunjung akan bertemu dengan arca dan teman-temannya.
Selain arca, ada mala, makara, kemuncak atau atap candi, lingga dan yoni, tungku untuk sesaji, serta Nandi atau tunggangan Dewa Siwa dan Dewi Durga yang bertubuh singa berkepala sapi.
Silakan menyaksikan mahakala, batu penutup, kinara kinari (makhluk Kahyangan), dan Siva Trisirah atau Dewa Siwa yang memiliki tiga wajah. Semua benda itu merupakan bagian dari candi-candi yang tersebar di Dataran Tinggi Dieng.
![]() |
| Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng |
Mengapa disimpan? Selain posisinya tidak ditemukan, benda itu disimpan demi alasan keamanan. Bangunan kedua, bangunan yang lebih baru, diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada 28 Juli 2008. Koleksi benda-benda di ruangan ini lebih beragam. Bukan cuma terkait dengan agama Hindu Jawa kuno, pengunjung bisa mengetahui sejarah terbentuknya Dataran Tinggi Dieng setelah letusan Gunung Prahu Tua.
Letusan gunung tersebut merupakan sumber batu andesit yang digunakan untuk membangun candi-candi di Dieng. Pengunjung juga bisa belajar soal sistem kepercayaan masyarakat Dieng. Salah satu hal mistis dari Dieng adalah Anak Bajang atau anak berambut gimbal. Silakan mendapatkan cerita lengkapnya di museum ini dengan membayar tiket Rp 5.000 per orang.
Dieng berasal dari kata “di” yang berarti gunung dan “hyang” yang berarti Tuhan. Secara harfiah, Dieng berarti gunung tempat tinggal para dewa. Nama Museum Kailasa diambil dari sebuah prasasti, yang berarti sebuah gunung suci. Secara historis, Dieng adalah sebuah tempat ritual untuk pengikut agama Hindu.
Tak cuma membaca sejarahnya, para wisatawan juga bisa langsung survei ke lokasi. Silakan melongok candi-candi yang keberadaannya tak jauh dari museum. Konon, ada 19 candi di kawasan itu, tapi hanya 8 yang masih berdiri. Nama-nama candi itu diambil dari nama tokoh cerita Mahabharata, seperti Arjuna, Bima, Setyaki, Gatotkaca, Dwarawati, Sembadra, Kunti dan Srikandi.
![]() |
| Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng |
Selain candi, pengunjung akan menemukan patung-patung di dekat kompleks Candi Dieng, seperti arca Nandi, yang merupakan simbol Siwa dan Mahaguru. Karena museum ini berada di kawasan Dieng, para pengunjung juga bisa mendapat bonus pemandangan indah dan udara dingin. Suhu di kawasan ini bisa mencapai 10 derajat Celsius. Di sore hari, kawasan di ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut ini diselimuti kabut. Disarankan tiba di lokasi pada pagi atau siang hari untuk menghindari kabut tebal. Sebab, kabut terlalu tebal dapat membahayakan perjalanan. (dikutip berbagai sumber)


