Selasa, 24 Maret 2015

Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng

INDONESIA tak cuma punya pantai, gunung, dan panorama yang indah. Ada tempat-tempat religius sekaligus mistis untuk melacak peradaban yang pernah ada. Salah satunya Museum Dieng Kailasa. Lokasi nya ada di dataran tinggi Dieng. Di tempat ini, pengunjung bisa leluasa belajar soal peradaban Hindu Jawa kuno, yang eksis pada abad ke-7 dan ke-8.

Dari 19 candi di dataran tinggi Dieng, hanya 8 yang masih berdiri. Sejarahnya ada di museum kailasa. Jadi, bukan cuma pemandangan indah sekaligus suhu dingin, Dieng juga menawarkan sejarah perkembangan agama di Indonesia, khususnya agama Hindu.

Museum Kailasa terletak di kompleks gedung Arca Senyawa, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Tempat ini dimiliki dan dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah.

Museum yang buka setiap hari pada pukul 07.00-16.00 WIB ini menyimpan segala hal yang berkaitan dengan Dieng, mulai sejarah, catatan kehidupan masyarakat, sampai gaya hidup.

Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng
Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng

Berdiri di atas lahan seluas 560 meter persegi, museum terdiri atas dua bangunan. Bangunan di sisi depan merupakan bangunan yang pertama dibuat, pada 1984. Bangunan ini menyimpan berbagai benda yang berhubungan dengan candi yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng. Tak aneh jika pengunjung akan bertemu dengan arca dan teman-temannya.

Selain arca, ada mala, makara, kemuncak atau atap candi, lingga dan yoni, tungku untuk sesaji, serta Nandi atau tunggangan Dewa Siwa dan Dewi Durga yang bertubuh singa berkepala sapi.

Silakan menyaksikan mahakala, batu penutup, kinara kinari (makhluk Kahyangan), dan Siva Trisirah atau Dewa Siwa yang memiliki tiga wajah. Semua benda itu merupakan bagian dari candi-candi yang tersebar di Dataran Tinggi Dieng.

Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng
Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng

Mengapa disimpan? Selain posisinya tidak ditemukan, benda itu disimpan demi alasan keamanan. Bangunan kedua, bangunan yang lebih baru, diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada 28 Juli 2008. Koleksi benda-benda di ruangan ini lebih beragam. Bukan cuma terkait dengan agama Hindu Jawa kuno, pengunjung bisa mengetahui sejarah terbentuknya Dataran Tinggi Dieng setelah letusan Gunung Prahu Tua.

Letusan gunung tersebut merupakan sumber batu andesit yang digunakan untuk membangun candi-candi di Dieng. Pengunjung juga bisa belajar soal sistem kepercayaan masyarakat Dieng. Salah satu hal mistis dari Dieng adalah Anak Bajang atau anak berambut gimbal. Silakan mendapatkan cerita lengkapnya di museum ini dengan membayar tiket Rp 5.000 per orang.

Dieng berasal dari kata “di” yang berarti gunung dan “hyang” yang berarti Tuhan. Secara harfiah, Dieng berarti gunung tempat tinggal para dewa. Nama Museum Kailasa diambil dari sebuah prasasti, yang berarti sebuah gunung suci. Secara historis, Dieng adalah sebuah tempat ritual untuk pengikut agama Hindu.

Tak cuma membaca sejarahnya, para wisatawan juga bisa langsung survei ke lokasi. Silakan melongok candi-candi yang keberadaannya tak jauh dari museum. Konon, ada 19 candi di kawasan itu, tapi hanya 8 yang masih berdiri. Nama-nama candi itu diambil dari nama tokoh cerita Mahabharata, seperti Arjuna, Bima, Setyaki, Gatotkaca, Dwarawati, Sembadra, Kunti dan Srikandi.

Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng
Jejak HINDU JAWA di dataran tinggi Dieng

Selain candi, pengunjung akan menemukan patung-patung di dekat kompleks Candi Dieng, seperti arca Nandi, yang merupakan simbol Siwa dan Mahaguru. Karena museum ini berada di kawasan Dieng, para pengunjung juga bisa mendapat bonus pemandangan indah dan udara dingin. Suhu di kawasan ini bisa mencapai 10 derajat Celsius. Di sore hari, kawasan di ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut ini diselimuti kabut. Disarankan tiba di lokasi pada pagi atau siang hari untuk menghindari kabut tebal. Sebab, kabut terlalu tebal dapat membahayakan perjalanan. (dikutip berbagai sumber)

Minggu, 08 Maret 2015

Indonesia juga punya tembok besar Cina

SIAPA yang tidak mengenal Tembok Besar Cina? Bangunan terpanjang di dunia yang terbentang sepanjang 8.850 kilometer ini memang begitu mempesona. Indonesia patut berbangga hati, karena ada destinasi wisata lokal yang menawarkan pengalaman meniti tembok besar dengan bonus pemandangan indah namanya Great Wall of Koto Gadang atau Janjang Saribu di Koto Gadang.

Tembok besar Great Wall of Koto Gadang

Tembok panjang dan besar berjuluk Great Wall of Koto Gadang atau Janjang Saribu di Koto Gadang merupakan obyek wisata yang menyajikan pengalaman serasa berada di Tembok Besar Cina. Panjangnya hanya 1,5 kilometer. Great Wall of Koto Gadang menghubungkan dua bukit yang terbentang dari Kota Bukittinggi hingga Kabupaten Agam serta melintasi Ngarai Sianok. Tembok yang diresmikan pada 27 Januari 2013 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika saat itu, Tifatul Sembiring, ini memiliki sekitar seribu anak tangga.

Indonesia juga punya tembok besar Cina
Indonesia juga punya tembok besar Cina

Bila datang dari luar Pulau Sumatera, wisatawan bisa menaiki bus lintas Sumatera sampai Terminal Bukittinggi. Lewat jalur udara, silakan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau.

Dari bandara, silakan melanjutkan perjalanan dengan taksi. Ongkosnya sekitar Rp 200 ribu sampai Kota Bukittinggi. Bila datang bertiga, ongkos ini tentu bisa dibilang murah. Lokasi wisata ini hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Lobang Jepang atau 3 kilometer dari Jam Gadang. Jika traveler datang dari Kota Padang, jaraknya menjadi agak jauh. Sekitar 106 kilometer.

Jalanan menuju kawasan Great Wall agak menurun. Kabar baiknya, tidak ada biaya untuk masuk ke lokasi wisata. Jika membawa kendaraan pribadi atau bus, cukup membayar uang parkir saja.

Pastikan membawa bekal minuman yang cukup. Sebab, meski jarak Great Wall ini tidak terlalu jauh, perjalanan ini dijamin akan membutuhkan tenaga ekstra. Medan yang akan dilalui berupa tanjakan, turunan, dan kelokan dengan anak tangga yang curam. Sebaiknya tidak membawa anak kecil.

Dari titik pertama, traveler akan langsung menikmati pemandangan lembah raksasa nan indah dan menyejukkan. Ngarai Sianok di Bukittinggi sendiri sudah sangat termasyhur dengan keindahannya.

Indonesia juga punya tembok besar Cina
Indonesia juga punya tembok besar Cina

Great Wall seakan membelah tebing Ngarai Sianok yang dipenuhi pepohonan hijau di kedua sisinya. Tak mengherankan jika, meski lelah melanda, peluh yang keluar tidak akan terasa. Di sini juga terdapat jembatan gantung. Berfungsi untuk melewati sungai terjal. Di sinilah adrenalin wisatawan akan diuji karena jembatan hanya beralaskan bilah-bilah kayu. Perlu diingat, jembatan gantung ini hanya bisa dilewati 10 orang sekaligus. Bila menaati peraturan yang sengaja dipasang di atas jembatan, rasanya akan aman-aman saja.

Jangan lupa beristirahat sejenak di beberapa pos peristirahatan. Seperti yang terletak 500 meter dari gerbang, agak menjorok ke kanan. Rata-rata pengunjung sengaja berhenti sejenak di anjungan Pandang untuk menghirup udara sejuk sambil menikmati keindahan lembah hijau itu. Dan tentu saja berfoto-foto.

Sayangnya, tangan-tangan jail membuat keindahan tembok ini jadi berkurang. Di sanasini, terdapat coretan-coretan yang dibuat oleh pengunjung. Padahal pembangunan Great Wall ini tidak menggunakan dana APBD dan APBN, melainkan sumbangan swadaya masyarakat, khususnya perantau asal Koto Gadang.

Indonesia juga punya tembok besar Cina
Indonesia juga punya tembok besar Cina

Dan seperti kebanyakan lokasi wisata di Indonesia lainnya, sampah bertebaran di mana-mana. Saat ini memang belum ada petugas atau pengawas khusus untuk mengawasi hal ini. Ah, sungguh sayang. Sumber:majalahdetik.


Senin, 02 Maret 2015

Bingung mencari homestay di Wonosobo OWKHomestay solusinya

Malam itu kami sedang menikmati kuliner yang ada di Wonosobo. Berjalan berkeliling alun-alun kota Wonosobo kami sikunir.info tak ingin melewatkan suasana malam di Wonosbo. Tentu sambil menikmati suasana malam ingin ditemani kopi juga dong agar badan terasa fresh dan segar. Karena tujuan kami berikutnya adalah ingin melihat sunrise yang ada di Sikunir.

Asyik ngobrol di OWK  ternyata pemilik OWK (obrolan warung kopi) pak Harjanto punya homestay juga namanya OWKHomestay. Letaknya berada di Permata Hijau Residence Wonosobo, Jl. Lurah Sudarto Km. 01 Wonosobo, Telp. (0286) 3320078, 0812-266-1429

Setelah asyik ngobol malam itu tentang pesona keindahan alam Dieng tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Kami pun niat ingin bermalam untuk melepas lelah setelah seharian berkeliling dari kota Jogja terus lanjut kemudian ke Borobudur dan akhirnya sampai di kota Wonosobo. Katanya di Wonosobo ada sunrise terindah yang dikenal dengan sebutan golden sunrise yang ada di Sikunir, kami ingin menikmati suasana di tempat itu.

Akhirnya kami diantar ke homestay namanya OWKhomestay. Suasana malam itu sangat sejuk untung ditempat itu di homestay ada air panasnya sehingga bisa mandi untuk menyegarkan badan. Dapur nya juga luas dan bersih kami pun bisa membuat kopi dan menyeduh kopi sendiri di homestay itu. Kami berkesimpulan apabila bingung mencari homestay di Wonosobo maka OWKhomestay bisa dijadikan solusi.

Berangkat dari homestay jam 03.00 pagi untuk menikmati sunrise Sikunir tak usah bingung. Tak usah repot untuk membawa barang bawaan ke Sikunir karena OWKHomestay juga menyediakan guide serta porter berpengalaman, tinggal bawa badan aja. Sesampainya di puncak Sikunir porter OWKhomestay akan menyiapkan segala perlengkapan mulai dari kopi, pop mie, makanan kecil serta sarapan pagi ketika berada di puncak Sikunir. Jasa yang ditawarkan juga terbilang murah dan tidak mahal. Kami merogoh kocek Rp. 200.000,- saja untuk menikmati layanan itu.

Sahabat sikunir.info apabila ingin menikmati sunrise serta pesona pemandangan alam Dieng seperti telaga warna, kawah sikidang, kawah candradimuka, sumur jala tunda dan candi Arjuna OWKhomestay punya layanan itu semua. Selamat berwisata.

Bingung mencari homestay di Wonosobo OWKHomestay solusinya
OWKHomestay, Jl. Lurah Sudarto Km.01 Wonosobo

Minggu, 01 Maret 2015

OWK Homestay termurah dan ternyaman di Wonosobo

Dulunya kami sikunir.info bingung untuk mencari homestay termurah di Wonosobo. Tetapi setelah hunting dan mencari lebih detail, akhirnya kami menemukan homestay termurah dan ternyaman disana. Lokasi nya beralamat di Permata Hijau Residence Wonosobo, Jl. Lurah Sudarto Km. 01 Wonosobo, Telp. (0286) 3320078, 0812-266-1429.

Letak homestay apabila ingin menikmati sunrise di Sikunir hanya berjarak sekitar 30 Km. Waktu tempuhnya hanya sekitar 45 menit. Fasilitas yang ada di owkhomestay itu antara lain air panas, televisi, dapur, kulkas, ruang tamu, kotak P3K dan parkiran yang luas dan aman.

Ingin kumpul bersama keluarga dan menikmati sunrise di Sikunir pada pagi harinya maka owkhomestay merupakan pilihan tepat. Disamping harganya terjangkau nyaman serta bersih. Dari alun-alun kota Wonosobo owkhomestay dapat ditempuh sekitar 8 menitan.

Ada WiFi nya juga lho. Jadi ngak perlu repot deh untuk upload-upload tempat yang baru dikunjungi di Wonosobo untuk di upload di tempat itu apabila sinyal HP lagi lemot hehehe. Ruang tamu yang luas dapat digunakan untuk kumpul dan ngobrol saat malam hari bersama teman, keluarga saat menginap di tempat itu.

Berikut penampakannya:

OWK Homestay termurah dan ternyaman di Wonosobo

OWK Homestay termurah dan ternyaman di Wonosobo

OWK Homestay termurah dan ternyaman di Wonosobo

OWK Homestay termurah dan ternyaman di Wonosobo

OWK Homestay termurah dan ternyaman di Wonosobo

OWK Homestay termurah dan ternyaman di Wonosobo