Selasa, 28 Oktober 2014

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Sikunir.info berkeliling ke beberapa tempat lokasi wisata yang ada di Propinsi Jawa Tengah akhirnya sikunir.info terdampar juga di Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong. Di Kelenteng ini sikunir.info ingin melihat Sunset, mau melihat matahari terbenam secara pelan-pelan dengan memancarkan aneka cahaya warna-warni menghiasi langit Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong. Tiket masuknya dikenakan biaya Rp. 3.000,- (tiga ribu rupiah).

Sam Po Kong tempat petilasan Laksamana Cheng Ho

Sam Po Kong adalah sebuah petilasan bekas tempat persinggahan atau pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Lokasi pendaratan Jenderal Cheng Ho ini terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan bekas petilasan bahwa Cheng Ho beragam islam adalah ditemukannya tulisan berbunyi “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an“.

Kelenteng Sam Po Kong disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng. Mengingat bentuknya berarsitektur China sehingga mirip sebuah kelenteng.

Di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien nama lain untuk sebutan Sam Po Kong. Padahal Jenderal Cheng Ho (Sam Po Kong) adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Menurut cerita legenda, bahwa Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut Jawa ada seorang awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia merapat ke pantai utara Semarang dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. (wikipedia)

Bangunan ini sekarang berada di tengah kota Semarang diakibatkan pantai utara Jawa selalu mengalami pendangkalan diakibatkan adanya sedimentasi sehingga lambat laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara. Semilirnya angin pantai sangat terasa kalau kita berada disini.

Konon setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan, kawin dan beranak pinak dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He membagikan ilmu nya dan memberikan pelajaran bercocok-tanam.

Kini di dalam goa sebuah tempat yang terdapat Patung Cheng Ho dilapisi emas dan digunakan untuk ruang sembahyang dalam memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Selain bangunan inti goa batu tersebut, yang dindingnya dihiasi relief tentang perjalanan Cheng Ho dari daratan China sampa ke Jawa, di area ini juga terdapat satu kelenteng besar dan dua tempat sembahyang yang lebih kecil.

Untuk masuk ke tempat ini kalau ingin bersembahyang petugas hanya membebankan biaya untuk beli kertas emas, dupa, lilin dan kemenyan madu. Sementara kalau untuk berwisata saja dikenakan biaya Rp. 20.000,- untuk turis lokal, untuk turis luar dikenakan biaya Rp. 30.000,-

Tempat-tempat sembahyang tersebut dinamai sesuai dengan peruntukannya, yaitu kelenteng Thao Tee Kong yang merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi untuk memohon berkah dan keselamatan hidup. Ada juga tempat pemujaan Kyai Juru Mudi berupa makam juru mudi kapal yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho.

Tempat pemujaan lainnya dinamai kyai Jangkar, karena di sini tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dihias dengan kain warna merah pula. Di sini digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga yang mungkin belum mendapat tempat di alam baka.

Lalu ada tempat pemujaan Kyai Cundrik Bumi, yang dulunya merupakan tempat penyimpanan segala jenis persenjataan yang digunakan awak kapal Cheng Ho, serta Kyai dan Nyai Tumpeng yang mewakili temapt penyimpanan bahan makanan pada jaman Cheng Ho. Karena seluruh area lebih dimaksudkan untuk sembahyang, tidak semua orang boleh memasukinya.

Yuk kita intip sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong ini.

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong
Melihat Sunset dari Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak merancangnya dengan menggambarkan mirip bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shofar.

Sunan Kalijaga membuat saka atau tiang tatal ini. Meski terbuat dari serpihan-serpihan kayu, tiang ini masih kokoh seperti tiang lainnya. Arsitektur masjid ini sangat kental dengan nuansa Jawa. Tak ada kubah, bagian atapnya berbentuk limas bersusun tiga. Konon, tiga sap atap ini bermakna tingkatan manusia dalam Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.

Masjid Agung Demak memiliki lima buah pintu yang bermakna rukun Islam yaitu syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji. Sementara rukun iman tercermin dari jendela masjid yang berjumlah enam.

Masjid Agung Demak mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru dengan tinggi sekitar 17 meter. Salah satu tiang utama itu disebut soko tatal.

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak

Soko tatal itulah yang memiliki cerita menarik. Soko alias tiang ini terbuat dari serpihan-serpihan kayu atau tatal yang direkatkan satu dengan yang lainnya sehingga membentuk tiang. Menurut cerita, tiang ini dibuat oleh Sunan Kalijaga. Masyarakat menyebut tiang ini sebagai wujud karamah Sunan Kalijaga. Banyak yang percaya Sunan Kalijaga membuat saka ini dengan kekuatan yang tidak biasa.

Namun soal saka tatal ini banyak versi yang berkembang. Yang jelas, tiang penyangga yang berdiri di bagian timur laut itu terbuat dari pecahan-pecahan kayu. Meski terbuat dari serpihan kayu, satu tiang ini masih sekokoh tiang-tiang lainnya.

Di dalam kompleks masjid yang pernah diajukan sebagai situs warisan budaya UNESCO pada 1995 ini juga terdapat makam Sultan Demak dan para abdinya. Sekarang, di tempat ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.

Raden Patah putra Raja Majapahit (Brawijaya V)

Raden Patah merupakan putra Raja Majapahit yaitu Brawijaya V dengan putri asal Campa (Kamboja) Putri Dwarawati Murdiningrum yang telah masuk Islam. Raden Fatah kemudian menjadi perintis berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa. Kelahiran Demak tersebut mengakhiri masa Kerajaan Majapahit dimana kemudian sebagian penganut Hindu pada masa itu berpindah ke Bali dan sebagian lagi ke Tengger.

Arsitektur Masjid Agung Demak adalah contoh dari masjid tradisonal Jawa dimana tidak memiliki kubah seperti umumnya masjid modern kini. Bentuk bangunan atap berbentuk limas ditopang 8 tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap ini bersusun-susun dan hanya dikenal di kepulauan Nusantara dari Aceh hingga Maluku. Bentuk bangunan Masjid Agung Demak berbeda dari kelaziman pada  zaman itu dimana mengadopsi arsitektur lokal yang berkembang di masyarakat meliputi joglo yang memaksimalkan bentuk-bentuk limas dengan berbagai dinamikanya. 

Bangunan masjid terbuat dari kayu jati berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh 4 buah tiang kayu besar (soko tatal atau soko guru) yang dibuat oleh empat wali dari Wali Songo. Keseluruhan bangunan ditopang 128 soko, empat di antaranya soko guru yang menjadi penyangga utama bangunan masjid. Jumlah tiang penyangga masjid 50 buah, sebanyak 28 penyangga serambi dan 34 tiang penyangga tatak rambat, sedang tiang keliling sebanyak 16 buah.

Perbaikan dan pemugaran Masjid Agung Demak

Bangunan masjid sejak awal berdirinya mengalami perbaikan dan pemugaran. Terakhir terjadi tahun 1987 dengan bantuan dana dari APBN dan dari negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI)  karena mengakui keberadaan Masjid Agung Demak sebagai monumen bagi masyarakat muslim yang memiliki arsitektur unik sesuai dengan dinamika zamannya. Masjid Agung Demak berbeda dengan arsitek masjid pada umumnya di jazirah Arab yang identik dengan kubah. Material Masjid Demak didominasi kayu jati dan beratapkan sirap ditopang 4 tiang utama (soko guru). 

Perbaikan dan pemugaran Masjid Agung Demak
Tanda tangan Soeharto di Masjid Agung Demak

Atapnya bersusun tiga berbentuk segitiga sama kaki mirip dengan pura umat Hindu sekaligus wujud akulturasi budaya setempat dan melambangkan tingkat orang Islam, yaitu Mukmin, Muslim dan Muhsin. Menurut cerita rakyat tiang utama dan atap sirap masjid tersebut adalah hasil karya para wali, yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. 

Salah satu soko guru, hasil karya Sunan Kalijaga tidak terbuat dari kayu utuh sebagaimana layaknya tiang utama, melainkan dari potongan kayu (tatal) yang disusun dan diikat. Bagi masyarakat Demak dan sekitarnya terdapat cerita bahwa salah satu atap sirap Masjid Agung Demak terbuat dari intip (kerak nasi liwet) hasil buatan Sunan Kalijaga.

Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak juga terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat museum yang berisi peninggalan berkaitan riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak memiliki banyak keunikan yang sekarang umurnya telah lebih dari 500 tahun. Desain arsitekturnya masih tampak anggun bergaya lokal. Wujud Masjid Agung Demak memberi kesan megah, anggun, dan  karismatik. Di sini Anda dapat menikmati arsitekturnya yang unik dan bernilai sejarah tinggi. Tentunya wisata religi dan ziarah adalah tema utamanya. Anda akan merasakan kesejukan dan kenyamanan bersujud di dalam masjid meski di luar terasa panas.

Teras masjid juga cukup luas dinaungi atap dan lantai keramik yang menjadikan Anda  nyaman untuk duduk-duduk atau berbaring. Apalagi bila Anda telah melakukan perjalanan jauh untuk sekedar singgah di sini.

Saat Anda memasuki kawasan masjid maka akan disambut pintu masuk utama masjid bernama Lawang Bhledeg yang dipercaya mampu menangkal petir. Pintu ini juga bertuliskan Nogo Mulat Saliro Wani yaitu bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M atau 887 H. Serambi di bagian depan masjid berupa ruang terbuka tanpa dinding dan ruangan dalam. Ada juga tempat khusus jamaah wanita di sebelah kiri yang disebut Pawestren dan telah dibuat tahun 1866 M.

Masjid Agung Demak berdiri di tengah kota menghadap alun-alun yang merupakan pusat kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Kota Demak sendiri saat itu seakan ingin meyatukan kawasan masjid, kraton dan saran-sarana pendukungnya termasuk alun-alun di bagian tengah. Lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian yang lain sekaligus sebagai lambang 5 rukun Islam yakni syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Sementara enam jendelanya melambangkan 6 rukun iman yakni percaya kepada Allah SWT, percaya kepada rasul-rasul-Nya, percaya kepada kitab-Nya, percaya kepada malaikat-Nya, percaya datangnya kiamat, serta percaya kepada qada dan qadar.

Di samping masjid ada ruangan kecil berfungsi sebagai museum penyimpan benda-benda bersejarah. Di sini juga tersimpan bekas tiang soko guru dan sirap karena masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, tetapi sebagian besar masih asli.  Ada pula kentongan  kuno. Di bagian belakang masjid terdapat makam raja-raja kerajaan Bintoro Demak, termasuk makam Raden Fatah.

Jangan lewatkan juga untuk melihat kitab tafsir  Alquran hasil tulisan tangan Sunan Bonang yang tersimpan dalam lemari kaca. Di Masjid Agung Demak terdapat benda-benda arkeologi yang bersejarah untuk Anda resapi sebagai warisan bernilai tinggi. 

Soko Majapahit, berupa tiang ini berjumlah 8 buah terletak di serambi masjid. Soko ini merupakan hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi yang diberikan kepada Raden Fatah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M.

Pawestren, merupakan bangunan untuk jamaah wanita. Dibangun menggunakan konstruksi kayu jati beratap limasan berupa sirap atau atap dari kayu jati. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, 4 diantaranya berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai berukuran 15 x 7,30 meter. Pawestren dibuat dengan bentuk dan motif ukiran maksurah dengan nilai estetika yang unik dan indah berukirkan tulisan Arab yang intinya mengagungkan Tuhan. Anda dpat menikmatinya keindahan ini yang mendominasi ruang dalam masjid. Prasasti di dalam maksurah menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M, di mana saat itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.

Surya Majapahit, yaitu gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa Majapahit. Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka atau 1479 M.

Prasasti Bulus, di sini  terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti “Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M. Raden Fatah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Maha karya abadi yang karismatik ini dengan memberi prasasti bergambar bulus. Ini merupakan Condro Sengkolo Memet dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1 (satu), kaki 4 berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Disimpulkan bahwa Masjid Agung Demak berdiri tahun 1401 Saka.

Dampar Kencono, merupakan mimbar untuk khotbah. Benda ini merupakan peninggalan Majapahit sebagai hadiah dari Prabu Brawijaya ke V untuk Raden Fatah Sultan Demak I.

Soko Tatal atau Soko Guru, jumlahnya ada 4 berupa tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga. Masing-masing soko guru memiliki tinggi 1630 cm. Formasi tata letak empat soko guru dipancangkan pada empat penjuru mata angin. Di barat laut didirikan Sunan Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara buatan Sunan Ampel, dan di timur laut karya Sunan Kalijaga. Masyarakat menamakan tiang buatan Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.

Situs Kolam Wudhu, dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga saat ini situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi. Saat itu kolam air ini yang menghubungkan bagian luar dan dalam masjid. Selain sebagai sarana untuk menyucikan diri, juga mengandung perlambang agar masyarakat selalu membersihkan diri dari berbagai kotoran yang menempel dalam diri dan hati.

Menara Masjid Agung Demak, merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat adzan yang didirikan dengan konstruksi baja. Ketika dibangun, masjid ini tidak memiliki menara seperti kondisi sekarang. Menurut cerita yang beredar, tidak dibangunnya menara ketika itu adalah untuk menghormati masyarakat sekitar masjid yang mayoritas masih beragama Hindu dan Budha. 

Dalam menyebarkan ajaran Islam, para wali ini sangat toleran terhadap agama Hindu dan Budha dan cara berdakwah pun tidak meninggalkan budaya lokal yang berkembang. Tidak ada paksaan, apalagi kekerasan dalam menyebarkan ajaran Islam. Pola dakwah yang digunakan para wali adalah kerja keras, ketekunan, keikhlasan, dan kasih sayang. 

Oleh karena itu, para wali ini mendapat simpati luar biasa dari masyarakat Jawa. Awal abad ke-15 mayoritas penduduk Jawa masih memeluk agama Hindu dan Budha tetapi seabad kemudian mayoritas penduduk di Pulau Jawa telah menjadi pemeluk Islam.  Saat itu Masjid Agung Demak menjadi pusat keislamannya dan tak pernah sepi dari jamaah. Masjid Agung Demak menjadi  masjid paling tua di Pulau Jawa dan digarap oleh 9 wali (Wali Songo) bersama-sama masyarakat Islam setempat. Kesembilan wali tersebut adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Ziarah Makam di Masjid Agung Demak

Ritual berdoa dan berzikir di kompleks makam Sultan Demak dan keluarganya merupakan ritual yang banyak dilakukan para peziarah saat berkunjung dan beribadah di Masjid Agung Demak. Di kompleks Makam Kesultanan Bintoro Demak, antara lain terdapat makam Sultan Demak pertama, yakni Raden Patah yang berkuasa 1478 – 1518, Raden Patiunus (1518-1521), dan Raden Trenggono (1521-1546), serta Putri Campa, Ibu dari Raden Patah.

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Agung Demak

Umumnya peziarah datang saat menjelang Idul Adha (bulan haji), bulan Muharam (Suro) atau dalam penanggalan Jawa yaitu 12 Rabbiul Awal atau kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, tanggal 27 Rajab atau peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad Saw.

Doa dan zikir itu merupakan tradisi yang banyak dilakukan para peziarah yang datang berkunjung ke Masjid Agung Demak. Tradisi yang dikenal dengan ziarah kubur atau ngalap berkah (memohon berkat), yakni mendoakan arwah leluhur dan Sultan Demak serta keluarganya, juga memohon doa pribadi. 

Selain berziarah ke makam Raden Fatah dan keluarganya, Anda juga dapat berziarah ke makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Delanggu. Jaraknya tak jauh sekitar 3 km dari Masjid Agung Demak. dikutip dari berbagai sumber.

Masjid Agung Demak

Yuk kita jalan-jalan ke Demak kota wali. Pada tanggal 25 Oktober 2014 kemarin sikunir.info berkeliling ke wilayah Jawa Tengah dan sikunir.info menyempatkan diri untuk berkunjung ke Masjid Agung Demak adalah salah satu mesjid tertua yang ada di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. 

Masjid Agung Demak berada di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Secara umum, pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya, yaitu suatu bentuk satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang berada di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak Bintoro. Diperkirakan, bekas Keraton Demak ini berada di sebelah selatan Masjid Agung dan alun-alun.

Masjid Agung Demak terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak ±26 km dari Kota Semarang,  ±25 km dari Kabupaten Kudus, dan ±35 km dari Kabupaten Jepara. 

Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak

Sejarah Masjid Agung Demak

Menurut legenda, Masjid Agung Demak ini didirikan oleh Wali Songo dikerjakan dalam satu malam. Babad Demak menunjukkan bahwa masjid Agung Demak didirikan pada tahun 1399 Saka (1477 M) ditandai candrasengkala “Lawang Trus Gunaningjanmi”, sedang pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun 1401 Saka yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri tahun 1479 M. Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. 

Masjid ini dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Pendiri masjid ini Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi.

Saka tatal
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar mirip dengan bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shofar.

Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), ide kreatif yang dimunculkan serta diwujudkan oleh kecerdasan dari Sunan Kalijaga

Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521 M) pada tahun 1520.

Masjid Agung Demak

Dalam proses pembangunannya, Sunan Kalijaga memegang peranan yang amat penting. Wali inilah yang berjasa membetulkan arah kiblat. Menurut riwayat, Sunan Kalijaga juga memperoleh wasiat antakusuma, yaitu sebuah bungkusan yang konon berisi baju hadiah dari Nabi Muhammad SAW, yang jatuh dari langit di hadapan para wali yang sedang bermusyawarah di dalam masjid itu. Memasuki pertengahan abad XVII, ketika kerajaan Mataram berdiri, pemberontakan pun juga mewarnai perjalanan sejarah kekuasaan raja Mataram waktu itu.

Masjid Agung Demak
Suasana menjelang Subuh di Masjid Agung Demak

Sejarah Kerajaan Demak

Sejarah yang sama juga melanda kerajaan Demak. Kekuasaan baru yang berasal dari masuknya agama Islam ke tanah Jawa. Seorang Bupati putra dari Brawijaya yang beragama Islam disekitar tahun 1500 bernama Raden Patah dan berkedudukan di Demak, secara terbuka memutuskan ikatan dari Majapahit yang sudah tidak berdaya lagi, dan atas bantuan daerah-daerah lain yang telah Islam (seperti Gresik, Tuban dan Jepara), ia mendirikan kerajaan Islam yang berpusat di Demak. 

Namun keberadaan kerajaan Demak tak pernah sepi dari rongrongan pemberontakan. Dimasa pemerintahan raja Trenggono, walau berhasil menaklukkan Mataram dan Singasari. Tapi perlawanan perang dan pemberontakan tetap terjadi di beberapa daerah yang memiliki basis kuat keyakinan Hindu. Sehingga daerah Pasuruan serta Panarukan dapat bertahan dan Blambangan tetap menjadi bagian dari Bali yang tetap Hindu. Pada tahun 1548 M, raja Trenggono wafat akibat perang dengan Pasuruan.

Kematian Trenggono menimbulkan perebutan kekuasaan antara adiknya dan putranya bernama pangeran Prawoto yang bergelar Sunan Prawoto (1549 M). Sang adik berjuluk pangeran Seda Lepen terbunuh di tepi sungai dan Prawoto beserta keluarganya dihabisi oleh anak dari pangeran Seda Lepen yang bernama Arya Panangsang. Tahta Demak dikuasai Arya Penangsang yang terkenal kejam dan tidak disukai orang, sehingga timbul pemberontakan dan kekacauan yang datangnya dari kadipaten-kadipaten. 

Apalagi ketika adipati Japara yang mempunyai pengaruh besar dibunuh pula, yang mengakibatkan si adik dari adipati japara berjuluk Ratu Kalinyamat bersama adipati-adipati lainnya melakukan pemberontakan dalam bentuk gerakan melawan Arya Panangsang. Salah satu dari adipati yang memberontak itu bernama Hadiwijoyo atau Jaka Tingkir, putra dari Kebokenongo sekaligus menantu Trenggono yang masih ada hubungan darah dengan sang raja. Jaka Tingkir, yang berkuasa di Pajang Boyolali, dalam peperangan berhasil membunuh Arya Penangsang. Dan oleh karena itu ia memindahkan Karaton Demak ke Pajang dan ia menjadi raja pertama di Pajang. Dengan demikian, habislah riwayat kerajaan Islam Demak.

Rabu, 15 Oktober 2014

Mark Zuckerberg tidak bersarung batik naik ke candi Borobudur

CEO Facebook, Mark Zuckerberg, menyempatkan diri untuk berlibur dan singgah di Candi Borobudur untuk menikmati pemandangan sunrise dari puncak stupa Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (12/10/2014). Di laman Facebook-nya, Zuckerberg terlihat hanya mengenakan celana pendek, tak sesuai aturan wajib bersarung batik. Kenapa bisa?

Padahal kita tahu sendiri seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Dirut PT.Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWCBPRB), Poernomo Siswoprasetjo,  wisatawan yang berkunjung dan naik di kedua candi yakni candi Borobudur dan candi Prambanan diharuskan memakai kain sarung batik yang disediakan oleh pengelola taman wisata tersebut.

Zuckerberg terlihat hanya mengenakan celana pendek, tak sesuai aturan wajib bersarung batik. Kenapa bisa?
Zuckerberg terlihat hanya mengenakan celana pendek, tak sesuai aturan wajib bersarung batik. Kenapa bisa?

Menurut Poernomo Siswoprasetjo, kebijakan tersebut sebagai upaya untuk memberikan penghargaan bagi situs Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan Candi Prambanan di wilayah perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah sebagai "World Cultural Heritage".

Kain sarung batik yang disediakan oleh PT.Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWCBPRB),  yaitu untuk dewasa berukuran 140 x 60 cm dan anak-anak ukurannya 100 x 40 cm. Setiap pengunjung seusai membeli tiket tanda masuk akan diberikan sehelai kain sarung dan dibantu petugas dalam memakainya.

PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam usaha pengelolaan objek wisata candi tersebut.

Sebelum memasuki area candi, pengunjung harus mengenakan sehelai kain batik yang telah disediakan oleh pihak Candi Borobudur. Kain batik ini dikenakan di pinggang selama mengunjungi area candi, penggunaan kain batik difungsikan untuk melestarikan budaya Indonesia dan memperkenalkannya kepada wisatawan asing.

Bagi pengunjung wanita, ikatan kain sarung di sebelah kiri, sedangkan untuk pria ikatan kain sarung di sebelah kanan.
Bagi pengunjung wanita, ikatan kain sarung di sebelah kiri, sedangkan untuk pria ikatan kain sarung di sebelah kanan.

"Seluruh wisatawan yang menikmati sunrise pada Minggu kemarin memang tidak memakai batik khas Borobudur karena memang tidak disediakan," kata Estry, Marketing Hotel Manohara Borobudur Magelang, melalui sambungan telepon, Senin (13/10/2014). Sumber:regional.kompas.com

Estry beralasan, sejak dua bulan terakhir terjadi kekurangan batik karena banyak wisatawan membawa pulang kain batik yang mereka kenakan saat naik ke candi. "Seharusnya dikembalikan lagi. Untuk sementara ini kami belum sediakan lagi. Kami sudah pesan hanya saja belum datang," ujar dia.

Kain batik, aku Estry, memang wajib dikenakan wisatawan saat naik ke Candi Borobudur. Dia pun mengatakan, ada perbedaan corak batik yang dipakai wisatawan reguler dengan wisatawan khusus paket wisata sunrise

Untuk paket sunrise, kata Estry, batik hanya disediakan di Hotel Manohara dan warnanya lebih cerah. "Jadi memang tidak ada perlakuan khusus bagi Mark Zuckerberg," ujar dia. Menurut Estry, Zuckerberg pun menikmati matahari terbit dari lantai 10 candi, sebagaimana wisatawan biasa.

Kedatangan Zuckerberg ke Borobudur bahkan Estry akui tak diketahui pengelola wisata candi ini. Tak ada pula permintaan khusus untuk kedatangan bos Facebook ini.
"Biasanya kalau ada tamu khusus, seperti pejabat baik luar negeri atau dalam negeri, ada pemberitahuan sebelumnya, agar kami menyediakan tempat atau area khusus di Candi Borobudur," papar Estry.
"Kami tidak tahu kalau ada Mark Zuckerbeg di antara para wisatawan baik mancanegara maupun domestik yang ikut paket wisata sunrise kemarin pagi," ujar Estry.

Catatan Hotel Manohara, sebut Estry, ada 165 orang wisatawan mancanegara dan domestik yang menikmati wisata matahari terbit di candi ini pada Minggu sekitar pukul 04.30 WIB hingga pukul 07.00 WIB.

Para wisatawan datang melalui beragam jasa agen perjalanan di Magelang dan Yogyakarta. Dari jumlah itu, 153 di antaranya menginap di Hotel Manohara dan selebihnya menginap di Hotel Amanjiwo, hotel mewah di kaki Bukit Menoreh. Zuckerberg diduga menginap di Hotel Amanjiwo.

"Saat mendaftar, semua memakai nama grup masing-masing biro wisata, tidak nama masing-masing wisatawan. Kalau Mr Mark sendiri pakai nama grup Weidner Pty," tutup Estry.

Candi Borobudur, salah satu peninggalan sejarah kebesaran nenek moyang Indonesia, telah umum dikenal sebagai salah satu dari tujuh monumen keajaiban dunia. Ia merupakan candi Agung Buddha terbesar di dunia.
Menurut Prof.Dr.JG Casparis, sebuah prasasti dari abad sembilan  menyingkapkan silsilah tiga raja wangsa Cailendra, yaitu raja Indra, putranya Samaratungga dan selanjutnya putri Samaratungga yaitu Pramodawardhani. 
Pada masa pemerintahan raja Samaratungga, mulailah dibangun candi yang bernama Bhumisam Bharabudhara, yang dapat ditafsirkan sebagai Bukit Peningkatan Kebajikan, yaitu setelah melampaui sepuluh tingkat Bodhisattva. Setelah selesai dibangun selama kurang lebih seratus lima puluh tahun, Candi Borobudur merupakan pusat ziarah megah bagi penganut Buddha sampai dengan runtuhnya kerajaan Mataram sekitar tahun 930 M, dimana pusat kekuasaan dan kebudayaan pindah ke Jawa Timur.

Keindahan dan keagungan Candi Borobudur tidak hanya mendapatkan pengakuan masyarakat Indonesia sendiri, melainkan ia sudah dianggap sebagai warisan kebudayaan dunia. Hal ini terbukti pada saat pemugaran Candi Borobudur selama sepuluh tahun sejak tahun 1971, dukungan berbagai negara sahabat telah diberikan secara mantap. Dua puluh delapan negara duduk sebagai anggota dari Executive Committee for the International campaign to Safeguard the Temple Borobudur.

Selanjutnya, Candi Borobudur berhasil menampilkan diri sebagai pusat wisata yang mampu menyerap tingginya kunjungan wisatawan, yaitu kurang lebih 6.333,95 orang/ hari pada tahun 1997 dengan 13% wisatawan mancanegara dan sisanya 87% wisatawan nusantara. 

Kemegahan, keagungan, keindahan dan keunikan arsitektur Candi Borobudur yang dibalut dengan nilai-nilai penting dari sisi agama, budaya dan sejarah telah menjadi fokus perhatian umat Buddha, baik di Indonesia maupun luar negeri, serta wisatawan pada umumnya untuk datang berkunjung.

Candi Borobudur selama ini berfungsi sebagai tujuan wisata budaya semata-mata. Penggunaan Candi Borobudur sebagai peribadatan Umat Buddha hanya dapat dilakukan pada saat Waisak Nasional saja. Candi Borobudur hanya berfungsi sebagai monumen mati, tidak memiliki nuansa keagamaan Buddha apapun kecuali himpunan batuan patung dan relief Buddha saja.

Candi Borobudur dianggap sebagai Cagar Budaya dan monumen mati, sehingga para pengunjung tidak memperdulikan lagi kondisi kebersihan Candi seperti yang kita saksikan dimana pengunjung membawa makanan dan minuman serta membuang sampah sembarangan yang tersebar dimana mana.

Juga mereka mendudukan anak kecil dipundak Arca Buddha sambil berfoto serta memperlakukan tempat suci tersebut sebagai tempat picnic dan merusak baik suasana spiritual maupun nilai moral yang bertentangan dengan keagungan Candi Borobudur itu sendiri. 

Apalagi seperti sikap yang diperlihatan oleh founder facebook Mark Zuckerberg terlihat hanya mengenakan celana pendek, tak sesuai aturan bersarung batik menaiki candi Borobudur terkesan melupakan candi Borobudur sebagai World Cultural Heritage.

Sejak tahun 1956 umat Buddha setiap tahun disaat Waisak selalu melaksanakan puja bhakti diatas Candi Borobudur. Selama candi Borobudur dipugar umat Buddha hanya diperkenankan melakukan Puja Bhakti Waisak di Candi Mendut, namun kemudian setelah Candi Borobudur selesai dipugar, maka umat Buddha kembali melakukan puja bhakti Waisak setiap tahun di Candi Borobudur dan mulai dilaksanakannya prosesi keagamaan yang diadakan mulai dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

Dengan kenyataan sejarah ini, tidak dapat dipungkiri bahwa Candi Borobudur jelas dan nyata adalah Candi Buddha dan merupakan tempat ibadah Agama Buddha.

Pandangan yang menjadikan Candi Candi, khususnya Candi Borobudur sebagai monumen mati akan merugikan masyarakat kecil disekitarnya dan masyarakat luas lainnya, karena segala potensi yang dimiliki oleh Candi Borobudur sebagai Candi terbesar didunia yang memiliki nilai sakral yang tinggi akan menjadi sia sia. 

Candi Borobudur mempunyai nilai seni budaya dan religius yang menjadi daya tarik potensi wisatawan manca negara, terutama kawasan Asia yang masih banyak negara yang mayoritasnya beragama Buddha.

Sesuatu kehidupan yang harmonis dengan dikelilingi nilai spiritual, akan membuat seluruh wisatawan Indonesia dan manca negara dapat menikmati kehidupan yang penuh dengan tatanan budaya asli bangsa Indonesia yang bermutu tinggi, ditambah dengan segala keramahan dan seni budayanya. 

Nilai spiritual yang tinggi candi borobudur dan kepercayaan umat Buddha bahwa didalam Candi Borobudur terdapat Relief Buddha Gotama akan menjadikan kawasan tersebut menjadi pusat kekuatan spiritual umat Buddha, rangkaian seni budaya yang tinggi Tempat yang tepat untuk berprilaku suci dan mempunyai sentuhan surgawi akan membawa umat Buddha untuk beramai ramai mendatanginya sebagai bagian dari kunjungan spiritual agung.

Perlakuan sebagai monumen mati yang hanya melihat dari segi benda purbakala merupakan gambaran kurangnya memahami pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, dalam arti benda purbakala memiliki nilai budaya yang dilingkupi nilai religius sesuai dengan makna aslinya. 

Saat ini terlihat perlakuan sembarangan tanpa tata nilai dalam mengembangkan wisata budaya bagi Candi Borobudur, sehingga seluruh pengunjung memperlakukan semuanya dengan mengabaikan tata etika dan moral yang harus dijiwai, apabila tata prilaku pengunjung diatur sesuai dengan nilai jiwa spiritual candi tentu akan membawa kebahagiaan batin yang tinggi bagi pengunjung dan tidak lagi melihat dari sisi benda purbakala yang mati tetapi juga dari sisi religius yang memotivasi jiwa untuk meningkatkan kesadaran dalam diri pengunjung akan kemuliaan bangsa Indonesia dan peradaban spiritualnya. Artikel sebagian dikutip dari Ketua Umum DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI).

Mark Zuckerberg berlibur ke candi Borobudur

Hari Minggu tepatnya tanggal 12 Oktober 2014 kemarin langit cerah mengitari kota Magelang. Karena bertepatan hari Minggu dan hari libur banyak wisatawan yang datang berkunjung ke daerah Magelang tepat nya di kawasan Candi Borobudur

Banyak juga diantara wisatawan yang datang ke daerah kawasan candi Borobudur selain melihat keindahan candi Borobudur juga wisatawan disuguhkan pemandangan yang menarik di waktu pagi yakni melihat golden sunrise dari puncak candi. 

Candi Borobudur ini telah berdiri pada sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Dan borobudur merupakan candi atau kuil Buddha terbesar di dunia sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

Taman wisata Candi Borobudur
Taman wisata Candi Borobudur

Borobudur sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi terletak kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi Borobudur ini berbentuk stupa ini didirikan para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi.

Monumen candi Borobudur terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. 

Candi Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Stupa Candi Borobudur
Stupa Candi Borobudur

Candi Borobudur selain merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. 

Biasanya para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). 

Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan. Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. 

Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. 

Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan. (dikutip dari berbagai sumber).

Pada hari Minggu pagi kemarin tak banyak yang tahu jika miliarder termuda dunia bernama Mark Zuckerberg salah seorang CEO jejaring sosial terbesar Facebook, datang berkunjung ke Candi Borobudur ini yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia.

Kehadiran pendiri sekaligus CEO jejaring sosial terbesar di dunia ini di candi Borobudur terkesan rahasia. Hanya beberapa orang dekatnya saja yang tahu tentang kunjungan itu meskipun berbagai media di tanah air telah memberitakan kehadirannya datang ke Jakarta, Senin 13 Oktober 2014.

Mark Zuckerberg berlibur ke candi Borobudur
Mark Zuckerberg berlibur ke candi Borobudur
Keberadaan Zuckerberg di Candi Borobudur pada Minggu pagi kemarin diketahui oleh publik saat ia memposting foto dirinya yang sedang duduk di atas candi, menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise).

Tak banyak foto yang ia unggah di akun Facebook pribadinya itu. Namun, akun Facebook Mark Zuckerberg sebagai akun Facebook tokoh publik dan businessman itu mengunggah beberapa foto kegiatannya selama di kawasan Candi Borobudur.

Jumat, 10 Oktober 2014

Harta karun di gunung Padang

Sejumlah arkeolog menilai penelitian di Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, terlalu tergesa-gesa. Termasuk dalam hal menyimpulkan hasil temuan.

Seperti diwartakan sebelumnya, Tim Nasional Peneliti Situs Gunung Padang memulai pengeboran dan ekskavasi situs itu sejak Minggu (14/9/2014). Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Daud Aris Tanudirjo, mempertanyakan mengapa penelitian Situs Gunung Padang harus diistimewakan dan tidak diperlakukan sama dengan situs-situs lainnya. 

”Kenapa harus begitu tergesa-gesa melakukan penelitian,” ujarnya. Menurut Daud, para peneliti Gunung Padang juga mudah mengklaim temuan tanpa mendiskusikan terlebih dulu dalam forum ilmiah. Penemuan artefak semacam koin pada kedalaman 11 meter, misalnya, menurut Daud sangat diragukan berasal dari masa hunian situs 5.200 SM-500 M. Akibat pengeboran, terdapat lapisan tanah bagian atas yang masuk ke bawah dan bercampur dengan lapisan tanah bagian bawah yang berbeda konteks zamannya.

”Tim  terlalu mudah menyimpulkan. Arang pun bisa ada berjatuhan dari atas kalau penggalian dilakukan dengan bor. Tetapi, kalau ekskavasi secara manual, secara pelan-pelan justru akan ditemukan konteks zamannya,” paparnya.

”Penelitian itu juga tidak jelas misinya, apakah akademik atau (untuk visi) lainnya? Ini merupakan bencana akademik,” tutur Daud.

Harta karun di gunung Padang

Ketua Ikatan Asosiasi Arkeolog Indonesia (IAAI) Junus Satrio Atmodjo juga prihatin dengan aktivitas penelitian di Situs Gunung Padang. Menurut dia, aktivitas ini harus dihentikan terlebih dulu.
”Sudah waktunya rakyat mengoreksi apa yang dikerjakan tim itu. Kalau cara penelitian yang dilakukan seperti itu, banyak data di lapangan yang hilang,” ujarnya. Dugaan bahwa di dalam Situs Gunung Padang terdapat piramida, menurut Junus, terlampau fantastis.

Secara terpisah, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryati menyoroti pengelolaan situs itu lebih lanjut. Setiap bulan paling tidak ada 10.000 pengunjung di Situs Gunung Padang dan ini dinilai Wiendu sudah mengancam keamanan situs. ”Sudah harus ada manajemen pengelolaan situs ini,” ujarnya.

Wiendu menambahkan, bukan hanya Situs Gunung Padang yang membutuhkan perhatian dari pemerintah. Sampai saat ini, tercatat sedikitnya 65.000 situs cagar budaya di seluruh Nusantara yang juga membutuhkan perhatian pemerintah.

Banyak juga yang mengaitkan Gunung Padang dengan Jabal Nur di Arab Saudi. Jabal Nur punya arti Mountain of Light atau Gunung Cahaya. Gunung Padang sendiri dalam bahasa Sunda juga berarti Gunung Cahaya.

‎Tapi seperti apa bentuk dan wujud asli situs Gunung Padang ini masih tanda tanya. Tabir itu belum terbuka, bahkan oleh Tim Nasional Peneliti Situs Gunung Padang. Setidaknya sejak beberapa tahun terakhir.

Timnas Peneliti sampai saat ini menduga, situs megalitikum ini merupakan punden berundak. Dengan 5 teras, di mana teras ke-5 adalah yang paling tinggi permukaan tanahnya.

Perkiraan lain dari Timnas Peneliti adalah situs ini dulunya merupakan bangunan multicomponent atau situs yang berulang kali ditempati oleh suatu komunitas tertentu di waktu tertentu.

"Ini bangunan multicomponent site atau situs yang berkali-kali dihuni," kata Wakil‎ Ketua Timnas Peneliti Situs Gunung Padang Bidang Arkeologi, Ali Akbar saat ditemui Liputan6.com baru-baru ini di puncak bukit Gunung Padang, Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Harta karun di gunung Padang

Perkiraan itu didasarkan atas lapisan-lapisan yang diekskavasi Timnas. Pada lapisan di puncak bukit, tempat hamparan batu andesit tersusun dan terpola ini ditemukan diduga berusia 500 tahun sebelum masehi. ‎Kemudian di lapisan kedua dengan kedalaman sekitar 4 meter diperikirakan lebih tua lagi, yakni sekitar 5.200 tahun sebelum masehi.

Jika dirunut, maka lapisan 5.200 tahun sebelum masehi merupakan yang 'pertama'. Kemudian ditimbun atau‎ tertimbun lalu dibangun dan dihuni lagi. Begitu seterusnya sampai 500 tahun sebelum masehi atau bahkan sampai di era modern.

"Katakanlah paling tua itu 5.200 sebelum masehi. Lalu ditimbun, lalu dibangun lagi, ditimbun lagi, dibangun lagi," kata Abe, sapaan akrabnya.

Lalu komunitas dengan kebudayaan seperti apa yang pernah menempati Gunung Padang? Diduga ‎mereka berasal beberapa komunitas dan kebudayaan. Abe menyebut salah satunya adalah komunitas Tiong Hoa.

Sebab, kata Abe, Timnas Peneliti menemukan sejumlah temuan yang merupakan berasal dari kebudayaan China. Seperti keramik-keramik dan koin keteng.

"Indikasinya banyak ditemukan keramik China ‎di sini. Lalu ada mata uang keteng China," ucap Arkeolog lulusan Universitas Indonesia ini.

Tak cuma itu. Timnas Peneliti juga menemukan keramik dan koin mata uang diduga berasal dari Eropa. Misalnya mata uang Netherlan Indie. Bahkan juga ditemukan koin‎ mata uang dari Republik Indonesia pada 1957. Sehingga temuan-temuan itu yang membawa pada hipotesa awal, bahwa tak cuma satu komunitas dengan kebudayaannya di satu waktu saja yang pernah mendiami situs Gunung Padang ini. "Jadi intinya situs ini atau bangunan ini berkali-kali dihuni sampai zaman sekarang," tandas Abe.

Masih menjadi misteri apa sebenarnya situs megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Beragam pandangan dan pendapat muncul satu per satu. Tapi satu yang muncul ke permukaan publik dengan kencang adalah isu adanya 'piramida' yang tersembunyi di dalam tubuh bukit setinggi 885 meter di atas permukaan laut.

Entah dari mana isu 'piramida' itu datang dan sejak kapan munculnya lalu oleh siapa pertama kali diperluas. Tidak ada yang tahu pasti. Tapi yang pasti, jika dilihat dari jauh, terutama dari bukit-bukit atau pegunungan di sekitar Gunung Padang dan dari angle tertentu, tubuh bukit Gunung Padang memiliki bentuk yang mirip piramida. Bagian bawahnya yang berbentuk persegi dan semakin ke atas semakin mengerucut lalu menyatu di satu titik di bagian puncak.

Namun sekali lagi, puncak bukti Gunung Padang tidak seperti 'puncak' piramida seperti di Mesir yang berpuncak 'lancip'. Puncak bukit Gunung Padang justru tidak lancip, melainkan sebuah dataran dengan luas sekitar 1 hektar.

"Kalau dilihat dari utara Gunung Padang ini memang segitiga. Tapi setelahnya kan memanjang," kata Wakil Ketua Timnas Peneliti Gunung Situs Gunung Padang Bidang Arkeologi, Ali Akbar di puncak Gunung Padang‎, Sabtu 20 September 2014.

Selain karena bentuknya yang tidak tepat jika disebut piramida secara geometri, secara fungsi apa yang ditemukan selama penelitian ini juga tidak memperkuat isu 'piramida' itu.

Secara awam dan umum, Piramida-piramida di Mesir merupakan satu bangunan yang berfungsi sebagai tempat pemakaman atau tempat penyimpanan jasad-jasad raja Mesir yang berupa mumi. Sementara di Gunung Padang tidak. Dikatakan tidak, setidaknya jika ditelusuri dari temuan-temuan Timnas Peneliti.

"Penelitian kami beberapa tahun ini tidak ditemukan indikasi (pemakaman) itu. Indikasi kami ini lebih kepada bangunan pemujaan‎. Tapi bukan juga istana," kata arkeolog lulusan Universitas Indonesia ini.

Lalu jika bukan 'piramida' seperti yang digembar-gemborkan pihak-pihak lain selama ini, apa Gunung Padang itu sebenarnya? Abe menyatakan, area penelitiannya ini lebih cenderung kepada punden berundak. Seperti situs-situs serupa yang banyak ditemukan di Indonesia.

Sebab, di situs yang telah diresmikan sebagai cagar budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini memiliki 5 teras. Di mana, teras 1 memiliki permukaan tanah yang lebih rendah‎ yang terus meninggi pada teras ke 5. Lazimnya kebudayaan di Indonesia pada umumnya, yang paling tinggi itulah yang disakralkan. Tentu berbeda dengan piramida seperti Piramida Giza di Mesir yang menghendaki bentuk simetris di bagian bawahnya berupa persegi dan keempat sisinya menyatu pada satu titik di puncaknya.

"Sementara yang kita teliti ini berbeda. Cenderung sebagai punden berundak, karena dia berteras. Dengan bagian yang paling tinggi itu yang disakralkan," kata Abe. Dikutip dari berbagai sumber.