Rabu, 15 Oktober 2014

Mark Zuckerberg tidak bersarung batik naik ke candi Borobudur

CEO Facebook, Mark Zuckerberg, menyempatkan diri untuk berlibur dan singgah di Candi Borobudur untuk menikmati pemandangan sunrise dari puncak stupa Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (12/10/2014). Di laman Facebook-nya, Zuckerberg terlihat hanya mengenakan celana pendek, tak sesuai aturan wajib bersarung batik. Kenapa bisa?

Padahal kita tahu sendiri seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Dirut PT.Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWCBPRB), Poernomo Siswoprasetjo,  wisatawan yang berkunjung dan naik di kedua candi yakni candi Borobudur dan candi Prambanan diharuskan memakai kain sarung batik yang disediakan oleh pengelola taman wisata tersebut.

Zuckerberg terlihat hanya mengenakan celana pendek, tak sesuai aturan wajib bersarung batik. Kenapa bisa?
Zuckerberg terlihat hanya mengenakan celana pendek, tak sesuai aturan wajib bersarung batik. Kenapa bisa?

Menurut Poernomo Siswoprasetjo, kebijakan tersebut sebagai upaya untuk memberikan penghargaan bagi situs Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan Candi Prambanan di wilayah perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah sebagai "World Cultural Heritage".

Kain sarung batik yang disediakan oleh PT.Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWCBPRB),  yaitu untuk dewasa berukuran 140 x 60 cm dan anak-anak ukurannya 100 x 40 cm. Setiap pengunjung seusai membeli tiket tanda masuk akan diberikan sehelai kain sarung dan dibantu petugas dalam memakainya.

PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam usaha pengelolaan objek wisata candi tersebut.

Sebelum memasuki area candi, pengunjung harus mengenakan sehelai kain batik yang telah disediakan oleh pihak Candi Borobudur. Kain batik ini dikenakan di pinggang selama mengunjungi area candi, penggunaan kain batik difungsikan untuk melestarikan budaya Indonesia dan memperkenalkannya kepada wisatawan asing.

Bagi pengunjung wanita, ikatan kain sarung di sebelah kiri, sedangkan untuk pria ikatan kain sarung di sebelah kanan.
Bagi pengunjung wanita, ikatan kain sarung di sebelah kiri, sedangkan untuk pria ikatan kain sarung di sebelah kanan.

"Seluruh wisatawan yang menikmati sunrise pada Minggu kemarin memang tidak memakai batik khas Borobudur karena memang tidak disediakan," kata Estry, Marketing Hotel Manohara Borobudur Magelang, melalui sambungan telepon, Senin (13/10/2014). Sumber:regional.kompas.com

Estry beralasan, sejak dua bulan terakhir terjadi kekurangan batik karena banyak wisatawan membawa pulang kain batik yang mereka kenakan saat naik ke candi. "Seharusnya dikembalikan lagi. Untuk sementara ini kami belum sediakan lagi. Kami sudah pesan hanya saja belum datang," ujar dia.

Kain batik, aku Estry, memang wajib dikenakan wisatawan saat naik ke Candi Borobudur. Dia pun mengatakan, ada perbedaan corak batik yang dipakai wisatawan reguler dengan wisatawan khusus paket wisata sunrise

Untuk paket sunrise, kata Estry, batik hanya disediakan di Hotel Manohara dan warnanya lebih cerah. "Jadi memang tidak ada perlakuan khusus bagi Mark Zuckerberg," ujar dia. Menurut Estry, Zuckerberg pun menikmati matahari terbit dari lantai 10 candi, sebagaimana wisatawan biasa.

Kedatangan Zuckerberg ke Borobudur bahkan Estry akui tak diketahui pengelola wisata candi ini. Tak ada pula permintaan khusus untuk kedatangan bos Facebook ini.
"Biasanya kalau ada tamu khusus, seperti pejabat baik luar negeri atau dalam negeri, ada pemberitahuan sebelumnya, agar kami menyediakan tempat atau area khusus di Candi Borobudur," papar Estry.
"Kami tidak tahu kalau ada Mark Zuckerbeg di antara para wisatawan baik mancanegara maupun domestik yang ikut paket wisata sunrise kemarin pagi," ujar Estry.

Catatan Hotel Manohara, sebut Estry, ada 165 orang wisatawan mancanegara dan domestik yang menikmati wisata matahari terbit di candi ini pada Minggu sekitar pukul 04.30 WIB hingga pukul 07.00 WIB.

Para wisatawan datang melalui beragam jasa agen perjalanan di Magelang dan Yogyakarta. Dari jumlah itu, 153 di antaranya menginap di Hotel Manohara dan selebihnya menginap di Hotel Amanjiwo, hotel mewah di kaki Bukit Menoreh. Zuckerberg diduga menginap di Hotel Amanjiwo.

"Saat mendaftar, semua memakai nama grup masing-masing biro wisata, tidak nama masing-masing wisatawan. Kalau Mr Mark sendiri pakai nama grup Weidner Pty," tutup Estry.

Candi Borobudur, salah satu peninggalan sejarah kebesaran nenek moyang Indonesia, telah umum dikenal sebagai salah satu dari tujuh monumen keajaiban dunia. Ia merupakan candi Agung Buddha terbesar di dunia.
Menurut Prof.Dr.JG Casparis, sebuah prasasti dari abad sembilan  menyingkapkan silsilah tiga raja wangsa Cailendra, yaitu raja Indra, putranya Samaratungga dan selanjutnya putri Samaratungga yaitu Pramodawardhani. 
Pada masa pemerintahan raja Samaratungga, mulailah dibangun candi yang bernama Bhumisam Bharabudhara, yang dapat ditafsirkan sebagai Bukit Peningkatan Kebajikan, yaitu setelah melampaui sepuluh tingkat Bodhisattva. Setelah selesai dibangun selama kurang lebih seratus lima puluh tahun, Candi Borobudur merupakan pusat ziarah megah bagi penganut Buddha sampai dengan runtuhnya kerajaan Mataram sekitar tahun 930 M, dimana pusat kekuasaan dan kebudayaan pindah ke Jawa Timur.

Keindahan dan keagungan Candi Borobudur tidak hanya mendapatkan pengakuan masyarakat Indonesia sendiri, melainkan ia sudah dianggap sebagai warisan kebudayaan dunia. Hal ini terbukti pada saat pemugaran Candi Borobudur selama sepuluh tahun sejak tahun 1971, dukungan berbagai negara sahabat telah diberikan secara mantap. Dua puluh delapan negara duduk sebagai anggota dari Executive Committee for the International campaign to Safeguard the Temple Borobudur.

Selanjutnya, Candi Borobudur berhasil menampilkan diri sebagai pusat wisata yang mampu menyerap tingginya kunjungan wisatawan, yaitu kurang lebih 6.333,95 orang/ hari pada tahun 1997 dengan 13% wisatawan mancanegara dan sisanya 87% wisatawan nusantara. 

Kemegahan, keagungan, keindahan dan keunikan arsitektur Candi Borobudur yang dibalut dengan nilai-nilai penting dari sisi agama, budaya dan sejarah telah menjadi fokus perhatian umat Buddha, baik di Indonesia maupun luar negeri, serta wisatawan pada umumnya untuk datang berkunjung.

Candi Borobudur selama ini berfungsi sebagai tujuan wisata budaya semata-mata. Penggunaan Candi Borobudur sebagai peribadatan Umat Buddha hanya dapat dilakukan pada saat Waisak Nasional saja. Candi Borobudur hanya berfungsi sebagai monumen mati, tidak memiliki nuansa keagamaan Buddha apapun kecuali himpunan batuan patung dan relief Buddha saja.

Candi Borobudur dianggap sebagai Cagar Budaya dan monumen mati, sehingga para pengunjung tidak memperdulikan lagi kondisi kebersihan Candi seperti yang kita saksikan dimana pengunjung membawa makanan dan minuman serta membuang sampah sembarangan yang tersebar dimana mana.

Juga mereka mendudukan anak kecil dipundak Arca Buddha sambil berfoto serta memperlakukan tempat suci tersebut sebagai tempat picnic dan merusak baik suasana spiritual maupun nilai moral yang bertentangan dengan keagungan Candi Borobudur itu sendiri. 

Apalagi seperti sikap yang diperlihatan oleh founder facebook Mark Zuckerberg terlihat hanya mengenakan celana pendek, tak sesuai aturan bersarung batik menaiki candi Borobudur terkesan melupakan candi Borobudur sebagai World Cultural Heritage.

Sejak tahun 1956 umat Buddha setiap tahun disaat Waisak selalu melaksanakan puja bhakti diatas Candi Borobudur. Selama candi Borobudur dipugar umat Buddha hanya diperkenankan melakukan Puja Bhakti Waisak di Candi Mendut, namun kemudian setelah Candi Borobudur selesai dipugar, maka umat Buddha kembali melakukan puja bhakti Waisak setiap tahun di Candi Borobudur dan mulai dilaksanakannya prosesi keagamaan yang diadakan mulai dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

Dengan kenyataan sejarah ini, tidak dapat dipungkiri bahwa Candi Borobudur jelas dan nyata adalah Candi Buddha dan merupakan tempat ibadah Agama Buddha.

Pandangan yang menjadikan Candi Candi, khususnya Candi Borobudur sebagai monumen mati akan merugikan masyarakat kecil disekitarnya dan masyarakat luas lainnya, karena segala potensi yang dimiliki oleh Candi Borobudur sebagai Candi terbesar didunia yang memiliki nilai sakral yang tinggi akan menjadi sia sia. 

Candi Borobudur mempunyai nilai seni budaya dan religius yang menjadi daya tarik potensi wisatawan manca negara, terutama kawasan Asia yang masih banyak negara yang mayoritasnya beragama Buddha.

Sesuatu kehidupan yang harmonis dengan dikelilingi nilai spiritual, akan membuat seluruh wisatawan Indonesia dan manca negara dapat menikmati kehidupan yang penuh dengan tatanan budaya asli bangsa Indonesia yang bermutu tinggi, ditambah dengan segala keramahan dan seni budayanya. 

Nilai spiritual yang tinggi candi borobudur dan kepercayaan umat Buddha bahwa didalam Candi Borobudur terdapat Relief Buddha Gotama akan menjadikan kawasan tersebut menjadi pusat kekuatan spiritual umat Buddha, rangkaian seni budaya yang tinggi Tempat yang tepat untuk berprilaku suci dan mempunyai sentuhan surgawi akan membawa umat Buddha untuk beramai ramai mendatanginya sebagai bagian dari kunjungan spiritual agung.

Perlakuan sebagai monumen mati yang hanya melihat dari segi benda purbakala merupakan gambaran kurangnya memahami pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, dalam arti benda purbakala memiliki nilai budaya yang dilingkupi nilai religius sesuai dengan makna aslinya. 

Saat ini terlihat perlakuan sembarangan tanpa tata nilai dalam mengembangkan wisata budaya bagi Candi Borobudur, sehingga seluruh pengunjung memperlakukan semuanya dengan mengabaikan tata etika dan moral yang harus dijiwai, apabila tata prilaku pengunjung diatur sesuai dengan nilai jiwa spiritual candi tentu akan membawa kebahagiaan batin yang tinggi bagi pengunjung dan tidak lagi melihat dari sisi benda purbakala yang mati tetapi juga dari sisi religius yang memotivasi jiwa untuk meningkatkan kesadaran dalam diri pengunjung akan kemuliaan bangsa Indonesia dan peradaban spiritualnya. Artikel sebagian dikutip dari Ketua Umum DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI).