Sejumlah arkeolog menilai penelitian di Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, terlalu tergesa-gesa. Termasuk dalam hal menyimpulkan hasil temuan.
Seperti diwartakan sebelumnya, Tim Nasional Peneliti Situs Gunung Padang memulai pengeboran dan ekskavasi situs itu sejak Minggu (14/9/2014). Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Daud Aris Tanudirjo, mempertanyakan mengapa penelitian Situs Gunung Padang harus diistimewakan dan tidak diperlakukan sama dengan situs-situs lainnya.
”Kenapa harus begitu tergesa-gesa melakukan penelitian,” ujarnya. Menurut Daud, para peneliti Gunung Padang juga mudah mengklaim temuan tanpa mendiskusikan terlebih dulu dalam forum ilmiah. Penemuan artefak semacam koin pada kedalaman 11 meter, misalnya, menurut Daud sangat diragukan berasal dari masa hunian situs 5.200 SM-500 M. Akibat pengeboran, terdapat lapisan tanah bagian atas yang masuk ke bawah dan bercampur dengan lapisan tanah bagian bawah yang berbeda konteks zamannya.
”Tim terlalu mudah menyimpulkan. Arang pun bisa ada berjatuhan dari atas kalau penggalian dilakukan dengan bor. Tetapi, kalau ekskavasi secara manual, secara pelan-pelan justru akan ditemukan konteks zamannya,” paparnya.
”Penelitian itu juga tidak jelas misinya, apakah akademik atau (untuk visi) lainnya? Ini merupakan bencana akademik,” tutur Daud.
Ketua Ikatan Asosiasi Arkeolog Indonesia (IAAI) Junus Satrio Atmodjo juga prihatin dengan aktivitas penelitian di Situs Gunung Padang. Menurut dia, aktivitas ini harus dihentikan terlebih dulu.
”Sudah waktunya rakyat mengoreksi apa yang dikerjakan tim itu. Kalau cara penelitian yang dilakukan seperti itu, banyak data di lapangan yang hilang,” ujarnya. Dugaan bahwa di dalam Situs Gunung Padang terdapat piramida, menurut Junus, terlampau fantastis.
Secara terpisah, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryati menyoroti pengelolaan situs itu lebih lanjut. Setiap bulan paling tidak ada 10.000 pengunjung di Situs Gunung Padang dan ini dinilai Wiendu sudah mengancam keamanan situs. ”Sudah harus ada manajemen pengelolaan situs ini,” ujarnya.
Wiendu menambahkan, bukan hanya Situs Gunung Padang yang membutuhkan perhatian dari pemerintah. Sampai saat ini, tercatat sedikitnya 65.000 situs cagar budaya di seluruh Nusantara yang juga membutuhkan perhatian pemerintah.
Banyak juga yang mengaitkan Gunung Padang dengan Jabal Nur di Arab Saudi. Jabal Nur punya arti Mountain of Light atau Gunung Cahaya. Gunung Padang sendiri dalam bahasa Sunda juga berarti Gunung Cahaya.
Tapi seperti apa bentuk dan wujud asli situs Gunung Padang ini masih tanda tanya. Tabir itu belum terbuka, bahkan oleh Tim Nasional Peneliti Situs Gunung Padang. Setidaknya sejak beberapa tahun terakhir.
Timnas Peneliti sampai saat ini menduga, situs megalitikum ini merupakan punden berundak. Dengan 5 teras, di mana teras ke-5 adalah yang paling tinggi permukaan tanahnya.
Perkiraan lain dari Timnas Peneliti adalah situs ini dulunya merupakan bangunan multicomponent atau situs yang berulang kali ditempati oleh suatu komunitas tertentu di waktu tertentu.
"Ini bangunan multicomponent site atau situs yang berkali-kali dihuni," kata Wakil Ketua Timnas Peneliti Situs Gunung Padang Bidang Arkeologi, Ali Akbar saat ditemui Liputan6.com baru-baru ini di puncak bukit Gunung Padang, Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Perkiraan itu didasarkan atas lapisan-lapisan yang diekskavasi Timnas. Pada lapisan di puncak bukit, tempat hamparan batu andesit tersusun dan terpola ini ditemukan diduga berusia 500 tahun sebelum masehi. Kemudian di lapisan kedua dengan kedalaman sekitar 4 meter diperikirakan lebih tua lagi, yakni sekitar 5.200 tahun sebelum masehi.
Jika dirunut, maka lapisan 5.200 tahun sebelum masehi merupakan yang 'pertama'. Kemudian ditimbun atau tertimbun lalu dibangun dan dihuni lagi. Begitu seterusnya sampai 500 tahun sebelum masehi atau bahkan sampai di era modern.
"Katakanlah paling tua itu 5.200 sebelum masehi. Lalu ditimbun, lalu dibangun lagi, ditimbun lagi, dibangun lagi," kata Abe, sapaan akrabnya.
Lalu komunitas dengan kebudayaan seperti apa yang pernah menempati Gunung Padang? Diduga mereka berasal beberapa komunitas dan kebudayaan. Abe menyebut salah satunya adalah komunitas Tiong Hoa.
Sebab, kata Abe, Timnas Peneliti menemukan sejumlah temuan yang merupakan berasal dari kebudayaan China. Seperti keramik-keramik dan koin keteng.
"Indikasinya banyak ditemukan keramik China di sini. Lalu ada mata uang keteng China," ucap Arkeolog lulusan Universitas Indonesia ini.
Tak cuma itu. Timnas Peneliti juga menemukan keramik dan koin mata uang diduga berasal dari Eropa. Misalnya mata uang Netherlan Indie. Bahkan juga ditemukan koin mata uang dari Republik Indonesia pada 1957. Sehingga temuan-temuan itu yang membawa pada hipotesa awal, bahwa tak cuma satu komunitas dengan kebudayaannya di satu waktu saja yang pernah mendiami situs Gunung Padang ini. "Jadi intinya situs ini atau bangunan ini berkali-kali dihuni sampai zaman sekarang," tandas Abe.
Masih menjadi misteri apa sebenarnya situs megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Beragam pandangan dan pendapat muncul satu per satu. Tapi satu yang muncul ke permukaan publik dengan kencang adalah isu adanya 'piramida' yang tersembunyi di dalam tubuh bukit setinggi 885 meter di atas permukaan laut.
Entah dari mana isu 'piramida' itu datang dan sejak kapan munculnya lalu oleh siapa pertama kali diperluas. Tidak ada yang tahu pasti. Tapi yang pasti, jika dilihat dari jauh, terutama dari bukit-bukit atau pegunungan di sekitar Gunung Padang dan dari angle tertentu, tubuh bukit Gunung Padang memiliki bentuk yang mirip piramida. Bagian bawahnya yang berbentuk persegi dan semakin ke atas semakin mengerucut lalu menyatu di satu titik di bagian puncak.
Namun sekali lagi, puncak bukti Gunung Padang tidak seperti 'puncak' piramida seperti di Mesir yang berpuncak 'lancip'. Puncak bukit Gunung Padang justru tidak lancip, melainkan sebuah dataran dengan luas sekitar 1 hektar.
"Kalau dilihat dari utara Gunung Padang ini memang segitiga. Tapi setelahnya kan memanjang," kata Wakil Ketua Timnas Peneliti Gunung Situs Gunung Padang Bidang Arkeologi, Ali Akbar di puncak Gunung Padang, Sabtu 20 September 2014.
Selain karena bentuknya yang tidak tepat jika disebut piramida secara geometri, secara fungsi apa yang ditemukan selama penelitian ini juga tidak memperkuat isu 'piramida' itu.
Secara awam dan umum, Piramida-piramida di Mesir merupakan satu bangunan yang berfungsi sebagai tempat pemakaman atau tempat penyimpanan jasad-jasad raja Mesir yang berupa mumi. Sementara di Gunung Padang tidak. Dikatakan tidak, setidaknya jika ditelusuri dari temuan-temuan Timnas Peneliti.
"Penelitian kami beberapa tahun ini tidak ditemukan indikasi (pemakaman) itu. Indikasi kami ini lebih kepada bangunan pemujaan. Tapi bukan juga istana," kata arkeolog lulusan Universitas Indonesia ini.
Lalu jika bukan 'piramida' seperti yang digembar-gemborkan pihak-pihak lain selama ini, apa Gunung Padang itu sebenarnya? Abe menyatakan, area penelitiannya ini lebih cenderung kepada punden berundak. Seperti situs-situs serupa yang banyak ditemukan di Indonesia.
Sebab, di situs yang telah diresmikan sebagai cagar budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini memiliki 5 teras. Di mana, teras 1 memiliki permukaan tanah yang lebih rendah yang terus meninggi pada teras ke 5. Lazimnya kebudayaan di Indonesia pada umumnya, yang paling tinggi itulah yang disakralkan. Tentu berbeda dengan piramida seperti Piramida Giza di Mesir yang menghendaki bentuk simetris di bagian bawahnya berupa persegi dan keempat sisinya menyatu pada satu titik di puncaknya.
"Sementara yang kita teliti ini berbeda. Cenderung sebagai punden berundak, karena dia berteras. Dengan bagian yang paling tinggi itu yang disakralkan," kata Abe. Dikutip dari berbagai sumber.

