Senin, 21 Juli 2014

Jalan-jalan ke bumi Tadulako

Bumi Tadulako Palu mungkin bukan kota tujuan wisata. Tetapi, sedikit pergi ke luar kota, kita bisa menikmati alam yang indah. Juga jejak manusia purba lewat benda-benda Megalitikum yang ada.

Yuk kita lihat bandar udaranya yach. Bandar Udara Mutiara, Palu, Sulawesi Tengah. Bandara itu tak terlalu besar, tapi cukup ramai. Letaknya di pinggiran Kota Palu, dan bisa dicapai dalam waktu setengah jam dari pusat kota.

Ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah ini ternyata tak terlalu luas. Untuk mengitarinya, hanya dibutuhkan waktu kurang dari satu jam. Selain itu, Palu termasuk kota muda, sehingga nyaris tak ada bangunan tua yang bisa ditemukan di sana.

Palu juga bukan kota tujuan wisata. Tak banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi saat kita berada di sini. Dari yang sedikit itu, Pantai Talise salah satunya. Pantai di tepian Teluk Palu ini menjadi pilihan warga setempat untuk menikmati angin laut. Airnya kecokelatan, berombak tenang, sehingga aman bagi pengunjung untuk berenang.

Jalan-jalan ke bumi Tadulako
Jalan-jalan ke bumi Tadulako

Pada malam hari, Pantai Talise terasa romantis oleh kerlap-kerlip lampu dari bangunan yang berada di tepiannya. Jembatan Palu IV, yang menjadi landmark Kota Palu, melengkapi keindahan ini.

Sou Raja atau rumah raja menjadi tujuan lainnya. Di sisi belakang terdapat bangunan semacam lumbung. Sebuah lesung yang sudah lapuk teronggok di bawah kakinya. Sambil menikmati senja, selanjutnya bisa memesan pisang epek dan saraba. Merencanakan lokasi yang akan dikunjungi selama dua hari di Kota Palu.

Pantai Tanjung Karang
Pantai Tanjung Karang menjadi pilihan bagi yang hanya satu-dua hari berada di Palu. Tanjung Karang bisa dijangkau kurang dari satu jam dari Kota Palu. Airnya yang biru jernih. Kontras dengan pantainya yang berpasir putih.

Sejumlah pengunjung asyik berenang di airnya yang dingin. Ada yang bermain pasir. Sebagian lainnya asyik mencoba banana boat. Ada juga yang hanya duduk-duduk di dangau sambil mencicipi durian khas Donggala. Buahnya kecil-kecil memang, tapi rasanya tak kalah dibanding durian Montong.

Jalan-jalan ke bumi Tadulako
Jalan-jalan ke bumi Tadulako

Wisata laut Tanjung Karang dengan menikmati keindahan bawah lautnya yang kesohor. Wisatawan cukup puas menikmati keindahan itu dari atas perahu, yang banyak disewakan warga setempat. Setiap perahu bisa ditumpangi 10 orang. Tarifnya Rp 100 ribu per jam.

Jika pengunjung ingin melakukan snorkeling, warga juga menyewakan alat-alat yang dibutuhkan (pelampung, kacamata, dan alat bantu pernapasan). Tarifnya Rp 200 ribu per jam. Alam bawah laut Tanjung Karang memang indah. Sayang, banyak karang yang rusak.

Dalam perjalanan pulang, apabila ingin menyempatkan diri mampir ke Watu Sampu, sentra tenun sarung Donggala. Warna-warna mencolok yang melambangkan sifat dinamis warga Palu masih dipertahankan.

Hanya motifnya yang mulai dikembangkan. Selain motif bomba (bunga), kini mulai muncul motif cardinal fish ataupun tai ganja. Hingga kini, pembuatan tenun Donggala masih dilakukan secara tradisional. Itu sebabnya, harga sarung Donggala tak bisa dibilang murah. Sarung Donggala gedogan (alat tenun bukan mesin) dihargai Rp 350 ribu. Sedangkan yang ditenun secara tradisional harganya di atas Rp 1 juta.

Taman Nasional Lore Lindu
Dengan perjalanan darat, Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) bisa dicapai dalam waktu tiga setengah jam dari Palu. Sedangkan jika kita berangkat dari Poso, hanya butuh waktu satu setengah jam. Lore Lindu sudah lama ditetapkan menjadi cagar biosfer dunia karena kekayaan biotanya.

Secara biogeografis, kawasan ini merupakan daerah peralihan dari Zona Asia ke Zona Australia atau disebut Garis Wallace, yang terbentang dari Taman Nasional Nani Wartabone di Bolaang Mongondow hingga Donggala dan Poso melintasi hutan TNLL hingga ke hutan tropis di Sulawesi Tenggara. Itu sebabnya, TNLL kaya akan binatang endemik, yang tak ditemukan di tempat lain.


Jika beruntung, di sini kita bisa bertemu dengan binatang endemik, seperti anoa, babi rusa, monyet hitam Sulawesi, kuskus, dan tarsius. Atau burung endemik yang unik, seperti maleo, rangkong, nuri,kakatua, dan pecuk ular.

Kita juga bisa meluangkan waktu untuk melihat jejak manusia purba di sini. Pada masanya, kawasan Lore Lindu diduga menjadi pusat kebudayaan Austronesia. Jejaknya bisa ditemukan dalam bentuk patung, belanga besar dari batu, lumpang batu, dan batu berukir lainnya. Menurut dinas pariwisata setempat, setidaknya ada 350 situs yang berumur ribuan tahun di kawasan ini. Kita bisa menengok situs batu Megalitikum yang tersisa, yang tersebar di Lembah Bada dan Besoa. Luangkan waktu juga untuk melihat budaya etnik lokal di Lembah Napu dan Bada.

Kuliner
Tak lengkap rasanya ke Palu tanpa mencicipi kaledo. Makanan berbahan dasar kaki lembu ini banyak dijual di Kota Palu. Salah satu yang terkenal adalah Kaledo Stereo milik Haji Nasir. Tempat ini tak pernah sepi.

Walau kedai tersebut ramai, pengunjung tidak harus menunggu lama. Dalam waktu 15 menit, hidangan kaledo dengan asap mengepul siap tersaji. Hmm..... bersama nasi putih dan sambal cabai mentah yang digerus kasar. Dalam sekejap, hidangan berupa daging bertulang dengan kuah bening yang memiliki rasa asam gurih segar ini ludes.

Menurut pemiliknya, setiap hari dibutuhkan 40 kaki sapi untuk memuaskan pelanggan yang datang. Ia membumbui masakan ini dengan asam, rempah, dan garam. Resep lainnya, kaledo wajib dimasak dengan kayu. “Agar menghasilkan aroma yang khas,” ujarnya. Belakangan, setelah kayu sulit ditemukan, ia menggantinya dengan tempurung kelapa.

Ada dua versi kaledo yang ditawarkan, yakni tanpa tulang (Rp 30 ribu per porsi) dan dengan tulang, yang dibanderol Rp 45 ribu per porsi. Jika beruntung, Anda bisa mendapatkan kaledo dengan sumsum. Hmmm, lezatnya bikin lidah berkecap.

Hidangan khas Palu lainnya adalah nasi kuning. Bentuknya tidak beda dengan nasi kuning yang kita kenal. Sebagai lauk, biasanya warga Palu menambahkan sambal tomat, telur balado, ayam goreng, orek tempe, juga oseng ikan ekor kuning bakar yang khas. Ayo siapa yang mau berkunjung ke Tadulako.