Kamis, 12 Juni 2014

Nyaru Menteng tempat bayi-bayi orangutan

Kali ini sikunir.info jalan-jalan keliling nusantara. Tujuan kali ini adalah Nyaru Menteng. Di sini di Nyaru Menteng adalah tempat bayi-bayi orangutan tanpa induk dirawat. Lucu-lucu dan menggemaskan. Data World Wildlife Fund (WWF) menyebutkan jumlah orangutan di habitat alaminya tinggal 45 ribu. 

Meski pemerintah sudah memberi embel-embel “dilindungi”, keberadaan orangutan masih terancam punah. Di Indonesia, ada beberapa tempat semacam rehabilitasi untuk orangutan. Di Desa Tumbang Tahai, Bukit Batu, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, misalnya, ada tempat bernama Nyaru Menteng. Tempat berjarak kurang-lebih 28 kilometer dari Kota Palangkaraya ini dikenal sebagai tempat reintroduksi (pelepasan dan adaptasi dengan alam liar) bagi orangutan.

Memang sih, tempat ini tak sepopuler Taman Nasional Tanjung Puting. Namun Nyaru Menteng dianggap memiliki peran yang tak kalah penting dalam usaha menyelamatkan dan melestarikan orangutan.

Nyaru Menteng tempat bayi-bayi orangutan

Kegiatan di Nyaru Menteng telah menarik sejumlah media. Bahkan beberapa media menjadikan Nyaru Menteng sebagai serial televisi, seperti Orangutan Diary (BBC) dan Orangutan Island (Animal Planet). Pusat rehabilitasi dan reintroduksi ini terletak di kawasan Arboretum Nyaru Menteng. Dulunya tempat ini dimaksudkan untuk pelestarian vegetasi langka.
Nyaru Menteng tempat bayi-bayi orangutan

Namun kini kawasan itu juga mencakup kawasan hutan konservasi tempat orangutan dilepaskan setelah menjalani proses karantina dan rehabilitasi. Jadi, dengan kata lain, Nyaru Menteng bahasa Dayak, berarti gagah dan berani menjadi tempat untuk melatih orangutan telantar agar siap kembali ke habitat alami mereka. Kebanyakan orangutan di kawasan berpagar seluas 1,4 hektare ini adalah bayi orangutan yang kehilangan induknya. Bayi-bayi orangutan yatim-piatu ini dirawat dengan baik di sini. Selain bayi-bayi orangutan malang, tempat ini juga dihuni beberapa orangutan yang pernah ditangkap manusia. Mereka dilatih agar dapat kembali ke habitat aslinya.

Tempat ini didirikan oleh Lone Droscher Nielsen dan Odom Kisar pada 2009. Nielsen sebelumnya merupakan sukarelawan pengurus bayi orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting.

Nyaru Menteng tempat bayi-bayi orangutan
Dan, setelah empat tahun bertugas, Nielsen memutuskan keluar dan merintis proyek orangutan di Nyaru Menteng di bawah asuhan Borneo Orangutan Survival (BOS). Meski bukan habitat alaminya, hutan di sekitar Nyaru Menteng yang tertutup bagi pengunjung itu berfungsi sebagai tempat sempurna untuk bayi-bayi orangutan belajar dan berlatih bertahan hidup. Tentu saja dengan ratusan pekerja dan ahli yang mengasuh mereka. Sama seperti bayi pada umumnya, mereka perlu dirawat, diberi makan, dan dimandikan dengan baik. Saat-saat memberi makan dan memandikan ini menjadi sesuatu yang menarik bagi wisatawan. Jadi, jika nanti kapan-kapan berkunjung ke Nyaru Menteng, pengunjung pastinya akan melihat aktivitas ini.

Fasilitas konservasi di Nyaru Menteng juga lengkap. Tersedia kandang, klinik, kendaraan, dan sebuah pulau untuk melepaskan orangutan yang sudah siap. Ada lima pulau kecil di sekitar sungai yang akan menjadi rumah pertama bagi orangutan untuk memulai hidup baru. Di sini mereka sudah mulai hidup mandiri tanpa pengasuh. Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Kaja, Begamat, Palas 1, Palas 2, dan Hampapak Matei. Orangutan yang lebih besar ditempatkan di pulau dekat Sungai Rungan, sekitar 8 kilometer melalui jalan darat. Di pulau-pulau itulah orangutan bebas berkeliaran dan mempelajari keterampilan bertahan hidup. Meski berada di alam liar, mereka tetap dipantau agar aman dari tangkapan orang yang tak bertanggung jawab.

Nyaru Menteng bebas dikunjungi wisatawan. Selain melihat aktivitas pelatihan dan perawatan bayi orangutan yang masih di kandang, pengunjung juga bisa menyaksikan aktivitas mereka di hutan. Beberapa orangutan yang sudah dewasa dan pintar memang dilepas bebas di hutan berpagar. Bila tiba waktu makan atau istirahat, mereka akan kembali ke kandang. Nah, hutan ini bisa dimasuki oleh pengunjung. Tentu saja dengan berbagai aturan dan ketentuan, ya. Petugas akan memeriksa setiap pengunjung yang masuk. Selain berjalan-jalan di hutan dan bertemu dengan orangutan, pengunjung dapat belajar mengenai primata ini di pusat informasi. Di sini orangutannya banyak, lho.

Nyaru Menteng tempat bayi-bayi orangutan

Hanya, mereka tak dapat disentuh karena antara pengunjung dan orangutan dibatasi kaca hitam yang gelap. Hal ini agar orangutan tidak terganggu oleh pengunjung. Pusat informasi juga menyediakan banyak buku bacaan mengenai primata yang dilindungi ini. Jika datang bersama anak kecil, ada beberapa permainan, seperti boneka, Lego, dan puzzle. Ada juga video tentang kehidupan orangutan yang mengharukan. Tak jarang, pengunjung menitikkan air mata saat menonton video yang menggambarkan nasib orangutan yang nyaris punah.

Jika hendak berjalan-jalan ke hutan, pakailah lotion antinyamuk, yang tersedia gratis di pusat informasi. Ini menjadi salah satu fasilitas karena, ya, maklum saja, hutan memang banyak nyamuk. Well, berminat melihat bayi orangutan yang lucu-lucu itu? Sumber:majalahdetik.